Nasib Pedagang Pasar Induk Osowilangon Kian Merana

April 4, 2017

Nasib para pedagang yang berjualan di Pasar Induk Osowilangon (PIOS) kian merana. Bukan hanya jumlah pengunjung yang turun, jumlah pedagang juga ikutan turun. Dari 105 pedagang pada awal dibuka, sekarang tinggal 85 pedagang. Nah, dari 85 pedagang itu 75 persennya mengaku sepi pembeli hingga dia membuka stand di lokasi lain di tengah Kota Surabaya.

Fakta tersebut terungkap ketika Komisi B DPRD Surabaya menggelar sidak di PIOS, Senin (3/4/2017). Memang sebagaimana hasil Sidak kemarin Pasar di Osowilangun itu terlihat sepi pembeli. Puluhan pedagang pasar induk Osowilagon meminta pemerintah kota Surabaya untuk bertindak tegas dalam menjalan Perda 1 tahun 2015 tentang penataan pasar rakyat.

Ketua komisi B Mazlan Mansur mengatakan Pemkot seharusnya konsisten saat melakukan penertiban pedagang di area pasar-pasar grosir yang ada di pusat kota termasuk di  Koblen jalan Semarang dan Tanjungsari . “Seharusnya seperti rencana awal, kedua pedagang di area ini dipindahkan di Pios,” ujar Mazlan Mansur.

Karena itu, Komisi B DPRD Surabaya  meminta Pemkot Surabaya untuk berkomitmen melindungi pedagang pasar sesuai Perda 1 tahun 2015 tantang Pasar Rakyat. Caranya  dengan melakukan penertiban pasar pasar grosir yang ada di pusat kota, karena keberadaan pasar grosir tersebut disinyalir ikut mempengaruhi  minat konsumen membeli di Pios yang berada di perbatasan Surabaya-Gresik.

Komisi B juga mendesak Pemkot untuk kembali menghidupkan pasar induk sesuai janji Pemkot yang ingin memusatkan pasar induk di satu lokasi yakni di pasar Induk Osowilangon Surabaya di jalan Tambak Osowilangon.