“Jaga Indeflasi, BI Jatim Kembangkan Klaster Komoditas Pangan”

April 30, 2017

Difi Ahmad Johansyah, Kepala Kantor Perwakilan BI Jatim (tengah) bersama koperasi kelompok tani Mendo Sampurno, memperlihatkan hasil panen klaster padi organik di Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Rabu (26/4/2017).

Banyuwangi, penamerahputih.comKantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur mengemban tugas tak ringan, ikut menjaga angka inflasi nasional. Pada rapat tingkat tinggi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang dihadiri Menteri Perdagangan, Jawa Timur diminta memberikan kontribusi dalam bentuk indeflasi atau pengendalian harga sebaik mungkin.

“Sebab kontribusi Jatim untuk inflasi nasional cukup besar,” kata Difi Ahmad Johansyah, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, saat panen perdana padi merah klaster padi organik di Banyuwangi, pada Rabu (26/4/2017).

Sebagai realisasi dari tugas tersebut, BI Jatim telah melakukan program klaster pendampingan bagi petani untuk menanam berbagai produk komoditas pangan yang penting. “Inflasi di Indonesia banyak ditandai dari sisi suplai atau masalah produksi, sehingga BI pun masuk ke penyediaan klaster-klaster, khususnya komoditas pangan yang menjadi komponen utama inflasi,” kata Difi.

Komoditas pakan apa saja yang penting dan dikembangkan BI di Jatim? Bagaimana strategi BI Jatim menjaga kenaikan komoditas pangan? Berikut wawancara dengan Difi A Johansyah:

Mengapa Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jatim fokus pada pengembangan klaster-klaster komoditas pakan?

Pertama tentunya terkait dengan tugas BI mengendalikan inflasi. Apalagi inflasi di Indonesia banyak ditandai dari sisi suplai atau masalah produksi, sehingga BI pun masuk ke penyediaan klaster-klaster, khususnya komoditas pangan yang menjadi komponen utama inflasi.

Apakah hanya fokus di klaster padi organik seperti di Banyuwangi?

Kalau padi merah organik memang spesifik di Banyuwangi. Kalau kita masuk ke suatu daerah, kita melihat komoditas yang khas daerah tersebut. Bukan unggulan lho ya. Makanya di daerah lain, kita membuat klaster komoditas lain pula. Contohnya bawang merah, cabe merah, kedelai dan jagung.

Komoditas apa yang difokuskan di Jatim?

BI Jatim memprioritaskan pada tiga komoditas, yakni kedelai, jagung dan cabe merah. Sebab cabe merah merupakan komponen utama penyumbang utama inflasi. Kita tahu kebutuhannya cukup besar.

Sementara jagung penting untuk menjaga inflasi daging ayam dan telor. Sebab kita melihat bahwa kenaikan harga daging ayam dan telor banyak disebabkan oleh kenaikan pakan ayam yang komponen utamanya jagung. Jadi kita juga mengendalikan dari sisi hulunya. Makanya kita juga masuk ke klaster jagung.

Bagaimana potensi inflasi menjelang lebaran?

Kita optimis menjelang lebaran 2017 jika melihat trennya. Minimal bakal sama dengan bulan ramadan tahun lalu. Kemarin sudah ada high level meeting di TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah) yang diikuti langsung oleh Menteri Perdagangan. Dan Jawa Timur diminta untuk memberikan kontribusi dalam bentuk indeflasi atau pengendalian harga yang paling maksimal karena kontribusi Jatim untuk inflasi nasional cukup besar. Sehingga nanti pada akhir tahun bisa kita harapkan angka inflasi akan sesuai target yang diharapkan.

Bisa dijelaskan tentang klaster padi organik di Banyuwangi?

Total pendampingan klaster padi merah di Kecamatan Singojuruh seluas 42 hektare. Jumlah petani yang sudah dibina lebih dari 150 orang. Pendampingan BI dilakukan sejak 2014. Tapi teman-teman petani dan Pak Saman sudah mulai praktik sejak 2003. Tokoh pengembangan padi organik di wilayah Banyuwangi adalah Pak Saman. Beliau bisa disebut sebagai pioner.

Makanya kita ajak Pak Saman untuk membantu pendampingan bagi petani-petani di kecamatan lain, karena beliau punya keahlian sudah sejak lama di bidang pertanian organik. Beliau kita harapkan menjadi contoh bagi para petani lainnya.

Pada awalnya, pengembangan padi organik hanya di Kecamatan Singojuruh. Dan kini hingga 2017, sudah ada di 9 kecamatan. Total lebih dari 200 hektare di seluruh Kabupaten Banyuwangi. (bim)