Drajat Sunaryadi, Direktur Bank yang Peduli Nasib Pelukis

Mei 12, 2017

Drajat Sunaryadi, SH MM — Direktur Umum Bank UMKM Jatim– dan lukisan karyanya.

Surabaya, penamaerahputih.com – Senyum merekah di bibirnya. Tangan kanannya segera terjulur untuk mengajak jabat tangan. Tangan kirinya ikut memegang lengan, seolah mengirim tanda pentingnya pertemuan itu. Drajat Sunaryadi, Direktur Umum Bank UMKM Jawa Timur, memang sosok yang ramah.

“Ini lukisan saya sendiri. Meski sekarang direktur, saya dulu pernah lho jualan lukisan,” kata Drajat sembari menunjukkan lukisan banteng bernuansa hitam dan putih, saat ditemui penamerahputih.com, di Kantor Pusat Bank UMKM Jatim, di Surabaya, beberapa waktu lalu.

Drajat yang lahir tahun 1970 dan memiliki bakat melukis, memang pernah berjualan lukisan saat masih bertugas di Banyuwangi. Drajat rupanya tergerak menekuni kanvas setelah menemukan atmosfer menggairahkan di Banyuwangi. Apalagi ternyata, hasil dari melukis jauh dari penghasilan Rp 175 ribu pada tahun 1989, sebagai pembina pengawas Lembaga Kredit Usaha Rakyat Kecil (LKURK) — lembaga milik Pemprov Jatim cikal-bakal Bank UMKM Jawa Timur.

Atmosfer seperti apa yang dia temukan setelah bertemu Moses Misdy dan S Yadi, dua pelukis kenamaan Banyuwangi? Bagaimana dia melihat kondisi para pelukis saat ini? Bagaimana gagasannya untuk membantu para pelukis di negeri ini? Berikut wawancaranya:

Kapan Anda mulai menyukai aktivitas melukis?

Mulai SD karena lingkungan saya sangat mendukung. Kakak saya, hampir setiap hari membuat lukisan dengan mencontek poster film yang dulu disebar di jalanan. Dia bisa melukis dengan persis. Saya tertarik dan mengikutinya.

Tapi saya baru mendapat momentum saat kelas 4 hingga 6 SD. Ada guru yang hampir tiap hari menyuruh saya menggambar. Ternyata oleh beliau, hasil lukisan saya dikirim untuk mengikuti lomba.

Kemudian saat kelas 6, pada HUT RI tahun 1982, saya tiba-tiba dipanggil Gubernur Jatim Soenandar Priyosudharmo ikut acara peringatan di Grahadi. Ternyata lukisan saya mewakili lukisan anak-anak Indonesia di Hongkong dan menjadi yang terbaik. Saya menerima penghargaan juara lukis internasional.

Apa yang Anda rasakan saat itu?

Ya tentu saja kaget. Ternyata lukisan saya diikutkan lomba yang prosesnya mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, dan Indonesia. Kalau ditanya gambar mana yang menang, saya bingung. Sebab hampir setiap hari, guru saya meminta saya menggambar. Yang jelas, lukisan itu saya buat dengan cat air di kertas gambar.

Berarti setelah itu mulai serius menggambar?

Justru setelah itu vakum. Saya masih melukis, tapi tidak intensif. Saya saat itu di Madiun yang atmosfer budayanya tidak mendukung. Bahkan sampai lulus SMA dan melamar kerja. Begitu kerja, saya ditugaskan di Banyuwangi. Nah, di Banyuwangi inilah saya menemukan nuansa baru. Tahun 1989 saat pertama bertugas, saya melihat para pelajarnya aktif menekuni budaya lokal. Misalnya menari Gandrung. Termasuk dunia lukisnya.

Anda langsung aktif melukis?

Tidak langsung. Saya terlebih dulu menemui Pak Yadi (S Yadi K) dan Moses Misdy. Keduanya pelukis yang sudah mendunia dan banyak didatangi anak-anak muda untuk belajar. Saat itulah saya kembali belajar dan mengeksploitasi kemampuan. Saya baru mengetahui bahwa ternyata media untuk melukis tidak hanya cat air. Tapi ada juga cat minyak, ada juga crayon yang medianya air. Pak Yadi itu bagus sekali membuat lukisan dengan crayon yang ditumpahi air.

Terus terang saja, gaji saya juga tidak seberapa cukup. Saya akhirnya mencoba melukis dengan berbagai media. Saya kemudian jual hasilnya ke sebuah galeri di Bali. Ternyata laku keras. Lukisan ukuran 60  x 70 cm bisa terjual Rp 75 ribu –Rp 150 ribu. Sebagai perbandingan, gaji saya sebulan Rp 175 ribu. Gaji staf Bank Jatim yang lulusan S-1 Rp 225 ribu. Hahaha…

Jadi penghasilan Anda dari lukisan lebih besar dari pekerjaan utama?

Ya lebih besar beberapa puluh kali. Gaji saya Rp 175 ribu. Lha sekali jualan ke Bali, saya pulang bisa mengantongi Rp 2 juta.  Bahkan alhamdulillah, saya bisa membeli rumah. Meskipun saat itu harga rumah di Banyuwangi masih Rp 13 juta.

Apalagi saat itu pekerjaan saya juga tidak menyita waktu. Saat itu saya pembina pengawas Lembaga Kredit Usaha Rakyat Kecil (LKURK), itu lembaga punya Pemprov Jatim yang menjadi cikal-bakal Bank UMKM Jawa Timur. Anak juga masih satu. Tapi jujur saja, 75 persen tenaga saya tercurah ke melukis. Hahaha…

Koq bisa menjual lukisan di Bali?

Ya hunting mencari galeri yang mau membeli lukisan saya. Jadi saya dan Aziz, seorang teman, melukis banyak-banyak kemudian sewa pikup dan keliling mencari galeri di Bali. Sekali bawa, jumlah lukisan sekitar 25 buah.

Saat itu jadi pengalaman yang mengesankan. Ada ratusan galeri di Ubud dan Kuta. Di setiap galeri, kita turunkan semua lukisan. Ada yang tertarik dan ambil satu. Ada yang tidak tertarik dan lukisan kembali harus dinaikkan ke pikup. Bahkan ada pemilik galeri yang mau, tapi hanya bisa bayar kalau lukisan sudah terjual. Kami ya mau saja, wong biaya yang kami keluarkan juga lumayan. Dan itu berjalan beberapa tahun antara 1991-1994.

Apa hal paling mengesankan saat itu?

Nah, dampak dari upaya saya dan Aziz berjualan ke Bali, ternyata memompa semangat banyak pelukis di Banyuwangi. Banyak anak-anak lulusan SMA yang kemudian ikut belajar dan membuat lukisan. Kami pun membuat komunitas pelukis. Banyak yang kemudian mulai ikut berjualan ke galeri di Bali. Bahkan ada anak muda yang sudah jadi PNS, rela keluar dan memilih menjadi pelukis.

Artinya langkah awal Anda dan Aziz dicontoh mereka?

Setidaknya apa yang kami lakukan memacu mereka. Sebelumnya tidak ada keberanian. Kecuali Pak Moses atau Pak Yadi yang sudah terkenal. Penjualan ke Bali itu terus marak, bahkan sampai tahun 2010 ketika saya pindah tugas ke Surabaya.

Apakah Anda masih menyimpan lukisan-lukisan masa itu?

Lho, kolektor lukisan saya ada beberapa. Setiap Kantor Cabang Bank Jatim, pasti ada lukisan saya. Sebab ada pejabat Bank Jatim yang menyukai lukisan saya. Saya sampai lupa, berapa ratus lukisan saya yang dibelinya. Di Kantor Cabang Bank Jatim di Banyuwangi misalnya, ada lukisan saya “Gandrung Sewu”. Pada tahun 2007, Pimpinan Cabangnya membeli dari saya Rp 1 juta.

Apa sebenarnya problem para pelukis saat ini?

Para pelukis itu rata-rata berasal dari kalangan menengah ke bawah. Potensi dunia lukis memang besar, tapi kendala mereka adalah media untuk mencurahkan karyanya. Sejak dulu, harga cat tidak ada yang murah. Begitu juga harga kanvas dan apalagi harga bingkai.

Saat gaji Rp 175 ribu, saya hanya bisa membeli empat atau lima warna. Saya harus berpikir bagaimana membuat lukisan berbeda dengan modal warna yang sama. Bahkan dalam satu dekade, otomatis saya hanya menggunakan empat warna itu.

Saya pernah melukis hanya dengan nuansa hijau dan putih karena keterbatasan. Saya membuat beberapa lukisan dengan nuansa tersebut. Eh, ternyata justru disukai sama orang Jepang. Dia pikir ini khasnya Drajat. Padahal dalam hati kecil saya sedih, karena mampunya hanya beli dua warna itu. Hahaha…

Ada kenangan unik lainnya?

Pernah saya menjual sebuah lukisan ke sebuah galeri. Itu nuansa warnanya juga terbatas. Hijau dan hitam karena keterbatasan modal. Dibeli pemilik galeri Rp 75 ribu. Saya belum keluar galeri, masuk tamu orang asing. Dia tertarik lukisan saya dan kemudian membelinya. Yang membuat saya jengkel, lukisan itu ternyata dibelinya Rp 750 ribu.  Saya hanya bisa manyun karena terlanjur jual Rp 75 ribu. Hahaha…

Selain modal, apa problem lainnya yang dihadapi pelukis?

Banyak pemula yang otodidak dan hanya bermodal kemampuan dirinya sendiri. Kalau mereka sudah bisa beli cat dan kanvas, akhirnya bingung setelah lukisannya menumpuk. Tidak lagi punya uang untuk membeli cat dan kanvas.

Nah, faktor peminat karya lukis yang harus diperhatikan. Agar pelukis bisa terus menerus berkreasi, tentu dia butuh penghargaan. Bagi seorang pemula, penghargaan itu berupa karya lukisnya dibeli. Sebab dia perlu uang untuk hidup dan kembali berkreasi.

Dan biasanya, seorang pelukis pemula potensinya masih sebatas menjadi plagiat karena  meniru para senior. Dia akan memilih gaya mana yang bisa dibuatnya. Tujuannya, hanya agar bisa mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Nah, jika kebutuhan dasar telah terpenuhi, dia akan mulai kreatif dan bakal menemukan jati dirinya. Jika sudah sampai menemukan jati diri, seorang pelukis bakal benar-benar berkarya sesuai nurani, ekspresi dan jati dirinya.

Jadi persoalannya adalah bagaimana melewati masa-masa memenuhi kebutuhan dasar tadi?

Benar. Kalau tidak bisa melewati, maka dia hanya menjadi tukang gambar. Mereka yang seperti ini masih banyak. Saya sedih dengan kondisi seperti ini.

Jadi apa kata kuncinya?

Faktor kepedulian. Saya di Bank UMKM Jawa Timur ini, sebenarnya sangat ingin membantu para pelukis. Misalnya mereka mau membuat galeri bersama, komunitasnya kemudian dibentuk badan hukum seperti koperasi. Kalau mereka mau seperti itu, saya pasti mau membantu memberi pinjaman. Kan mereka bisa beli cat, kanvas, atau bingkai. Kemudian hasil karyanya bisa dijual di galeri. Dari situ bisa mendapat pemasukan untuk membayar pinjamannya. Saya punya impian untuk menyejahterakan para pelukis.(sha)