Meski Dihajar Lumpur Lapindo, Sutono Rajai Bisnis Tas Tanggulangin

Mei 13, 2017

Suasana pembuatan tas di PT Tasindo Sentral Perkasa milik Sutono, di Kalisampoerna, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

Sidoarjo, penamerahputih.com – Pantang menyerah, kreatif dan tak pernah minder. Itulah keyakinan yang dipegang teguh oleh Sutono, Direktur Utama PT Tasindo Sentral Perkasa, saat merintis bisnis tas yang digeluti sejak di bangku STM. Bencana lumpur Lapindo pun tak mematikan impian untuk sukses.

Kini, 90 karyawan dipekerjakan Sutono untuk mengerjakan 900 unit tas per hari. Tas koper produksinya banyak dipesan agen biro perjalanan untuk kebutuhan ibadah umroh dan haji.

Melalui merek ciptaannya seperti Yuston, Kedsano dan Safira, Sutono terbukti mampu merajai outlet-oulet di kawasan Kalisampoerna, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur. Sutono menyewa beberapa blok ruko yang sudah disulap menjadi pabrik tempat produksi tas.

Perawakan kurus dan hitam di masa kecil, membuat Sutono terpinggirkan dari lingkungan pergaulan. Namun bapak dua anak kelahiran 10 Juni 1982 itu memiliki tekad besar untuk maju dan menjadi orang sukses.

“Saya dulu sangat pemalu dan minder. Apalagi saya cuma tamatan STM. Tapi ternyata untuk sukses tidak bergantung ijazah pendidikan. Makanya anak-anak muda harus yakin bisa sukses, apapun pendidikannya,” kata Sutono sembari tertawa kepada penamerahputih.com.

Awalnya, Sutono yang duduk di bangku STM ingin membantu ekonomi keluarga.  Bertahun-tahun dijalani tanpa pernah menyerah meski berbagai halangan dihadapi.

“Saya mulai dari berjualan tas buatan sendiri. Dari rumah, saya naik bis  dengan menenteng tas dan ikat pinggang di kedua tangan. Sampai di pasar malam alun-alun, saya berkeliling menjajakan tas. Tak peduli hawa dingin malam, hujan turun, yang penting jualan saya bisa laku,” katanya mengenang.

Lulus STM, Sutono makin semangat menggeluti bisnis tas. Sayang, pada tahun 2006,  musibah lumpur Lapindo sempat memporak-porandakan usaha yang dirintisnya. Iklim usaha di kawasan Sidoarjo dan sekitarnya anjlok. Tagihan macet di hampir semua toko, sehingga Sutono mengalami kerugian besar hingga gulung tikar.

Sutono dan tas-tas hasil karyanya.

Target Miliki 2.000 Karyawan

Tak kehilangan akal, Sutono mencoba kembali bangkit dan terus mencari peluang. Semangat itulah yang membawanya ke usaha baru, yakni memproduksi tas koper untuk keperluan ibadah umroh dan haji.

“Pertama kali memperkenalkan koper buatan saya, saat diuji koper saya langsung patah. Meski malu tapi saya tidak mau menyera. Saya janji akan produksi lagi lebih baik dan memberi bonus dua kali kepada pemesan pertama tersebut. Alhamdulillah hingga kini kami terus bermitra,” katanya.

Kini, meski usaha makin menggurita, Sutono tak banyak berubah. Penampilannya tetap sederhana. Tak jarang mengecoh pandangan orang, bahwa dia lah pemilik usaha tersebut.

Melalui tangan dingin serta ide kreatif dan inovatif yang tak pernah henti, nasabah Bank BPR Jatim Bank UMKM Jawa Timur ini sudah menyiapkan rencana perluasaan usaha dan jaringan.

“Kuncinya adalah tekad dan semangat besar, terus belajar dan yang utama harus pandai berinovasi untuk jangka panjang,” kata peraih penghargaan Indonesia Golden  Award 2016  dan Indonesia Profesional Award 2017. Kedua penghargaan diberikan oleh Kemenperindag.

Saat ini, produksi Tasindo didistribusikan ke-8 cabang  di Medan, Makasar, Banjarmasin, Lombok, Cirebon, Bandung, Jakarta dan Sidoarjo. Selain pesanan puluhan agen travel, Tasindo juga melayani pesanan berbagai instansi.

Menurut Sutono, kebutuhan tas koper untuk umroh dan haji masih sangat besar. Produksinya yang mencapai 900 unit per hari belum bisa memenuhi semua pesanan yang masuk. “Produksi saya baru memenuhi 10 persen kebutuhan pasar. Jadi peluang bisnis ini masih terbuka lebar,” katanya.

Guna meningkatkan kualitas dan memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat, Sutono melakukan perbaikan mekanisasi produksi sejak 4 tahun lalu. Ia membeli beberapa mesin produksi, mesin bordir buatan Italia, Jerman dan China yang harganya ratusan hingga miliaran rupiah.

Sutono meyakinkan bahwa keberadaan mesin baru tidak akan mengurangi jumlah karyawan. Sutono justru berencana menambah karyawan hingga 2.000 orang dalam dua tahun ke depan.

“Dengan adanya mesin ini kami bisa meningkatkan produksi hingga tiga kali lipat. Maklum, permintaan terus bertambah dan kami kewalahan untuk memenuhi semua pesanan. Ke depan, saya berencana menambah beberapa mesin dan karyawan. Begitu juga dengan perluasan ruko agar bisa menampung mesin baru dan karyawan tambahan,” katanya.

Untuk rencana investasi baru ini, Sutono sangat berterima kasih kepada Bank BPR Jatim Bank UMKM Jawa Timur yang selama ini mendukungnya. “Bank UMKM cabang Sidoarjo ini sangat membantu kami untuk terus mengembangkan usaha bisnis, sekaligus memberi kesempatan lowongan pekerjaan bagi masyarakat,’ katanya.(sha)