Perancis Contek Indonesia, Presiden Muda Pecinta Wanita Lebih Tua

Mei 16, 2017

 

Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Ibu Negara Brigitte Macron.(uhabitus)

Jakarta, penamerahputih.com – Perancis mencontek Indonesia? Ya. Emmanuel Macron baru saja dilantik menjadi presiden Perancis di usia 39 tahun, pada Minggu (14/5/2017). Sosok rupawan, jenius, optimis, pelobi handal, serta pecinta seni. Mengingatkan sosok hebat Ir Soekarno yang menjadi presiden di usia 44 tahun. Termasuk dalam hal mencintai wanita yang usianya jauh lebih tua.

Kini, Rakyat Perancis memiliki Brigitte Macron atau Brigitte Trogneux sebagai ibu negara yang usianya 64 tahun atau 25 tahun lebih tua dari sang presiden. Brigitte lahir 13 April 1953, sedangkan Presiden Macron lahir 21 Desember 1977.

Kisah percintaan mereka bak drama, Briggite tak lain guru bahasa Perancis dan Latin, saat Macron masih duduk di bangku SMA di kota Amiens, Perancis. Dia juga pelatih kelompok teater yang diikuti Macron.

Macron (15) pun jatuh cinta pada sang pelatih teater yang berusia 40 tahun, bersuami bankir bernama Andre Louis Auziere dan memiliki tiga anak. Laurence, anak kedua Brigitte, tak lain teman sekelas Macron.

Macron dan Brigitte saling jatuh cinta dan berpacaran. Pada usia 17 tahun, Macron bahkan sudah berjanji untuk suatu saat menikahi pujaan hatinya itu. Seperti ditulis dalam buku: ‘Emmanuel Macron: A Perfect Young Men’, orang tua Macron yang semula mengira putranya berpacaran dengan Laurence, pernah meminta dengan sangat agar Brigitte menjauh.

Berciuman usai dinyatakan menang pemilihan presiden. (Dailymail UK)

Namun cinta mereka tak terpisahkan. Pada tahun 2007, Macron menikahi Brigitte yang telah bercerai dengan suaminya. Mereka berusia 29 tahun dan 54 tahun. Keduanya sepakat untuk tak memiliki anak, sebab telah memiliki tujuh cucu dari tiga anak Brigitte.  “Tanpa harus menjadi anak dan cucu biologis, aku membanjiri mereka dengan cinta,” kata Macron tentang keluarga besarnya.

Lalu apa persamaan Macron dengan Bung Karno?

Jauh sebelum menjadi Presiden Indonesia, Soekarno yang berusia 21 tahun menikahi Inggit Ganarsih yang berusia 35 tahun, pada 24 Maret 1923. Ada rentang usia 14 tahun di antara mereka. Sejak kegagalan pernikahan pertama dengan Oetari, putri HOS Cokroaminoto yang hanya bertahan dua tahun, hati Soekarno tertambat pada Inggit yang tak lain ibu kostnya saat kuliah di ITB Bandung.

Menurut novel sejarah ‘Kuantar Kegerbang’ karya Ramadhan KH, peran Inggit sangatlah besar saat mendampingi Soekarno muda dalam merajut impian besar bagi negerinya. Inggit lah yang selalu mendamaikan hati Soekarno saat mulai rapuh. Inggit jugalah yang selalu memompa semangat Putra Sang Fajar agar tetap tegar.

Inggit yang tak bisa baca dan tulis itu pulalah yang setia mendampingi Soekarno saat dibuang oleh pemerintah kolonial ke Ende. Di saat susah, dia berani mengambil peran menghidupi keluarga dengan berjualan bedak dingin, jamu dan kutang berenda buatannya ke nyonya-nyonya Belanda. Inggit sosok tangguh yang mendampingi Soekarno hingga nantinya begitu disegani di negerinya dan bahkan di mata dunia.

Laiknya Soekarno, Macron yang kini menjadi pemimpin negara dengan perekonomian terbesar kelima di dunia itu kerap memuji isterinya. Dia menyebut Brigitte sangat berkontribusi dalam hidupnya dengan membentuknya menjadi sosok seperti saat ini.

Begitulah faktanya, Brigitte berperan aktif dalam kampanye Macron menuju kursi presiden. Menasihati dan mengatur agendanya. “Emmanuel Macron tidak akan bisa memulai karier politik tanpa bantuan istrinya. Kehadiran Brigitte amat penting baginya,” kata Marc Ferracci, penasihat kampanye Macron yang menjadi saksi pernikahan pasangan itu.

Pelobi Hebat Berkat Dunia Akting

Setahun lalu, Macron bukanlah sosok populer. Dia hanyalah menteri ekonomi, industri dan hubungan digital di era kabinet Presiden Francois Hollande. Bahkan saat itu, tingkat elektabilitasnya sangat jauh di bawah Marine Le Pen yang jadi jagoan partai sayap kanan.

Macron melangkah dengan dukungan partai sayap tengah yang tak populer. Namun dia berhasil mencuri perhatian rakyat Perancis dengan gerakan ‘En Marche’ atau ‘Bergerak’.  Ada yang menyebut bahwa En Marche menduplikat cara kampanye mantan Presiden Barack Obama pada Pemilu AS tahun 2008.

Presiden Macron (borsendk)

En Marche memiliki banyak relawan yang mengampanyekan Macron door to door. Menurut Emily Schultheis, jurnalis Perancis, para relawan ini setidaknya telah mendatangi 300 ribu rumah. Selain berkampanye, mereka melakukan wawancara tentang apa yang masyarakat butuhkan dan inginkan dari pemerintah. Data hasil wawancara inilah yang menjadi program kampanye Macron tahun lalu.

Selain gerakan En Marche, Macron ternyata juga dinilai memiliki pesan kampanye yang lebih positif dan ramah dibanding Le Pen. Apalagi Macron menampilkan diri bukan representasi kalangan elite. Hal itulah yang membuat Macron lebih disukai karena lebih membumi.

Hal penting lainnya, Macron memposisikan sikap yang berseberangan dengan Le Pen yang konservatif dan tak menyukai penggabungan Uni Eropa. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Le Pen juga tak mendukung kebijakan pemerintah terhadap kaum imigran yang mayoritas beragama Islam.

Macron pun dengan lantang mendukung Perancis tetap bergabung dengan Uni Eropa. Dia pun tak segan menyatakan menerima kaum imigran. Sebuah sikap moderat dalam kebijakan politik internasional.

Prosesi pelantikan Macron menjadi presiden. (atlantic broadband)

Terlepas dari perbedaan sikap Macron dan Le Pen, rakyat Perancis terlanjur jatuh cinta kepada Macron yang dianggap tokoh paling cemerlang dari generasinya.

Salah satu hal yang melekat di diri Macron adalah kepiawaiannya dalam berdiplomasi dengan siapa saja. Macron sanggup berbicara dan menenangkan para buruh yang marah karena pabrik bakal ditutup. Kalimat-kalimat Macron mampu menjembatani perpecahan. Mampu membuat lawannya tersanjung. Bahkan mampu memunculkan kesetiaan bagi orang-orang yang merasa terilhami.

Satu hal yang harus diingat, kecintaan Macron pada dunia teater  –di mana dia bertemu sang isteri— telah membuat berbagai perkataan dan bahasa tubuhnya menjadi kekuatan untuk menarik banyak orang agar mencintainya.

Kepaiwaian Macron ini sekali lagi mengingatkan kepada sosok Soekarno yang orator, pelobi hebat, juga sekaligus pecinta seni. Kita tunggu saja, apakah Macron bakal benar-benar dicintai rakyat Perancis dengan berbagai kebijakannya. Sebagaimana Soekarno dicintai rakyat Indonesia dan bahkan dunia.(bhimo)