TGB: Bangsa Abnormal Pasca Pilkada Jakarta, Terberat Jaga Akal Sehat

Mei 22, 2017

Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang. (suaranw.com)

Jakarta, penamerahputih.com – Tuan Guru Bajang, sapaan Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi, menganggap hal terberat dalam kondisi bangsa yang abnormal akibat terpolarisasi pasca Pilkada DKI Jakarta adalah menjaga akal sehat. Sebab ada pihak yang mencoba menghadapkan nilai-nilai demokrasi dengan nilai-nilai Islam.

“Memang pada masa-masa seperti ini, hal paling berat bagi kita semua adalah menjaga akal sehat. Maka Rasulullah pernah berpesan, dunia boleh berputar seperti apapun, tapi tetaplah konsisten kepada kebenaran,” kata TGB saat menjadi pembicara di Universitas Paramadina, Sabtu (20/5/2017).

TGB menjadi pembicara dalam seminar ‘Politik dalam Islam’ dengan sub tema ‘Islam, demokrasi dan praktik nyata pemerintahan di Indonesia’. Jaya Suprana hadir pada seminar itu untuk menemui TGB.

Menurut TGB, kondisi bangsa saat ini sedang abnormal akibat Pilkada DKI Jakarta. Kehidupan berbangsa terganggu dengan adanya polarisasi yang di antaranya disebabkan munculnya upaya menghadapkan niai-nilai Islam dengan nilai-nilai demokrasi.

“Saya khawatir, 30, 40 atau 50 tahun ke depan, orang akan menulis tentang Indonesia bahwa pada periode kita berisi perpecahan dan polarisasi bangsa pasca Pilkada Jakarta. Karena kita sadari kondisi saat ini abnormal, maka mari kita ikhtiarkan supaya kembali normal,” kata TGB.

Zumi Zola (Gubernur Jambi), Irwan Prayitno (Gubernur Sumbar) dan M Zainul Majdi (Gubernur NTB).

Kemanusiaan yang Berketuhanan

TGB secara tegas menyatakan bahwa nilai-nilai Islam tak berhadapan dengan nilai-nilai demokrasi. Sebab nilai-nilai Islam justru mengisi nilai-nilai demokasi di negeri ini.

“Malah saya justru yakin bahwa Islam dan demokrasi saling bersanding. Demokrasi yang kita pilih justru mendapatkan isi dari nilai-nilai yang dibawa Islam,” katanya.

TGB kemudian mengingatkan bahwa seminar kali ini digelar di Universitas Paramadina yang didirikan almarhum Prof Dr Nurcholis Madjid. Sebagai sosok cendekiawan  muslim, Nurcholis di berbagai tulisannya menyebut kutipan dalam Al Quran yang isinya ajakan bagi para ahli kitab (nonmuslim) untuk mencari titik temu.

“Kita perlu terus belajar dari almarhum Nurcholis Madjid, bahwa kita dalam kehidupan berbangsa jangan pernah putus untuk terus mencari konsesus. Semangat untuk mencari konsesus, semangat untuk mencari titik temu,” katanya.

Bahkan para pendiri negeri ini juga terus mencari titik temu dari berbagai agama dan perbedaan yang ada dalam upaya melahirkan bangsa dan negara Indonesia. “Dan alhamdulillah bisa terwujud dalam Pancasila dan lima silanya, termasuk di dalam UUD 45,” katanya.

Menurut TGB, saat ini kita sebagai bangsa jusru terlalu mudah menghadap-hadapkan hal-hal baik di dalam kehidupan. “Kita letakkan secara diametral dan kita pertentangkan. Satu kearifan Ilahiah dan satu lagi kearifan insaniah. Contohnya  menghadapkan Islam dan demokrasi,” katanya.

Padahal kita harusnya menyadari bahwa kearifan insaniah pasti bersumber dari akal budi yang diberikan Allah SWT, maka pasti ada kebaikan-kebaikan di dalamnya. “Itu saya percaya, sehingga antara Islam dan demokrasi tidak usahlah dicari titik-titik perbedaan untuk kemudian dibesar-besarkan,” ujarnya.

TGB kemudian menyebut bahwa Pancasila pada intinya adalah “Kemanusiaan yang Berketuhanan”. Hanya satu sila yang menunjukkan pondasi utama ketuhanan dan sebanyak empat sila yang terkait ranah kemanusiaan.

“Ada empat batu uji kemanusiaan di empat sila. Jika kita gagal dalam batu uji kemanusiaan, hal itu juga berarti kita ingkar kepada Tuhan,” katanya.(bhimo)