Alat Kesehatan Karya Anak Bangsa Didorong idsMED Masuk Pasar Global

Mei 25, 2017

Jakarta, penamerahputih.com – Sepuluh karya inovasi alat kesehatan terbaik di ajang Indonesia Healthcare Forum (IndoHCF) Innovation Award 2017 akan didorong dijual di pasar kesehatan global. Alat kesehatan produk Indonesia memiliki harga yang terjangkau dan efektif dalam penggunaanya.

“Partisipan dalam ajang IndoHCF Award 2017 sangat berkualitas. Persaingan makin ketat karena memang bakat dan talenta inovator lokal kita saat ini very impression,” kata Rufi Susanto, Executive VP & Senior Managing Director PT IDS Medical Systems Indonesia (idsMED) di Jakarta, Selasa (23/5/2017).

Menurut Rufi, sepuluh hasil inovasi anak bangsa bakal dipasarkan ke luar negeri karena PT idsMED telah berada di delapan negara “Sehingga ke depan kita akan banyak meng-attack pesaing di luar sana,” katanya.

Hal yang membuat optimis, produk kesehatan itu bakal bisa bersaing karena harganya kompetitif. “Kita harus percaya diri. Jangan hanya manfaakan produk luar negeri (impor) kemudian pasang di sini. Ini merendahkan inovasi atau karya anak bangsa,” katanya.

Ajang IndoHCF Award 2017 merupakan program corporate social responsibility (CSR) dari PT idsMED yang merupakan distributor alat kesehatan berskala besar seperti perlengkapan kamar operasi.

Menurut Ketua Umum IndoHCF Award 2017, Dr dr Supriyantoro, SpP MARS, para pelaku industri kesehatan di tanah air diminta memanfatkan kegiatan CSR secara maksimal.  “Manfaatkan celah kegiatan yang belum terbiayai pemerintah baik di pusat maupun di daerah. Contohnya ajang indoHCF. Banyak peminat dari berbagai daerah yang berkesempatan menunjukkan kreativitas mereka,” kata Supriyantoro.

Menurutnya, sebanyak 194 karya dari 25 propinsi bersaing dalam ajang indoHCF Award 2017. “Kami yakin masih banyak yang belum terungkap. Mutiara yang terpendam itu harus kita gosok terus,” katanya.

Masih menurut Supriyantoro, sudah banyak alat kesehatan yang diciptakan oleh produsen lokal. “Alat banyak, tetapi nilainya murah. Value kita sangat murah. Padahal alat kesehatan kita banyak dan bagus. Ini yang perlu kita angkat ke permukaan hingga pasar global,” katanya.

Detektor Ginjal, Lokal Rp 900 ribu Asing Rp 1 Miliar

Terdapat lima kategori penghargaan yang ditampilkan di ajang  IndoHCF Innovation Award 2017. Yakni Inovasi SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu) Pra-RS, Inovasi Program KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), Inovasi Alat Kesehatan, Inovasi E-Health dan Inovasi Seni Kreasi Promosi Kesehatan.

Deretan finalis untuk setiap kategori memiliki keunikan masing-masing. Baik dari sisi inovasi, nama, layanan dan prosesnya. Misalnya untuk kategori Inovasi SPGDT, terdapat program aplikasi android SENSASI SILET (Sentuhan Satu Aplikasi Sistem Layanan Emergency Terpadu), PSC 119 Sepintu Sedulang Pangkas Cemas Masyarakat Kabupaten Bangka.

SENSASI SILET diciptakan sebagai solusi One Stop Service penanggulangan kegawatdaruratan medis pra fasilitas layanan kesehatan. Menggunakan paradigma baru pelayanan publik, agar lebih efektif dan efisien. SENSASI SILET diciptakan karena sebelumnya warga  harus menelpon ke HP atau telepon PSC 119 yang bakal terkena biaya atau pulsa untuk mendapatkan layanan gawat darurat.

Sementara untuk kategori Inovasi KIA, drg Hunik Rimawati MKes menciptakan ‘Rindu KIA’, suatu sistem pemantauan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi/anak dengan menggunakan komunikasi lancar, cepat dan tepat dari berbagai pihak di tingkat kecamatan dan kabupaten dan stakeholder lain melalui WA group atau telepon.

Harapannya, semua ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dan bayi/anak yang memerlukan rujukan karena kegawatdaruratan dapat segera dirujuk dan dilayani dengan cepat dan tepat.

Tak kalah menarik Inovasi Alat Kesehatan, yakni Inovasi Videolaryngoscope Kualitas Mercy seharga Panci bernama ‘Black Box VL-Scope’. Inovasi yang diklaim murah ini terdiri dari bilah laryngoscope biasa serta berbagai bentuk modifikasinya dan sebuah kamera endoskopi.

“Harganya sesuai permintaan. Bisa mulai dai Rp 200 ribuan hingga Rp 1 jutaan. Kelebihannya alat ini, merekam audiovisual yang terjadi selama proses laringoskopi dan hasilnya dapat disimpan berupa softcopy di dalam computer atau smartphone. Kalau yang produk impor harganya bisa puluhan juta dan hanya merekam visual saja,” kata dr Soni Sunarso Sulistiawan, SpAn FIPM, pemimpin proyek Black Box VL-Scope.

Menurutnya, pembuatan Videolaryngoscope dipadukan dengan sebuah perangkat lunak dan layar laptop. Proses laringoskopi dapat terlihat dari layar yang dapat dihubungkan ke layar komputer maupun smartphone.

Temuan alat kesehatan yang juga menarik diciptakan peserta dari SMA Muhammadiah Sidoarjo. Dia menciptakan ‘kursi roda listrik’ bagi pasien disabilitas dan lansia yang bisa membantu berdiri otomatis dengan kontrol joystick.  “Kursi ini kita jual hanya Rp 10 juta. Kalau yang dari luar tentu lebih mahal,” kata Tasya, perwakilan inovator kursi roda listrik tersebut.

Ada pula inovasi Renograf Terpadu untuk mendeteksi fungsi ginjal dan kelenjar tiroid. Alat ini ditaksir seharga Rp 900 juta, jauh lebih murah dari produk kompetitor luar negeri  yang mencapai Rp 15 miliar.

Kemudian masih ada sendi lutut hasil inovasi anak negeri yang bisa dipesan sesuai ukuran. Harganya berkisar  Rp 6 juta – Rp 7 juta. Tentu jauh berbeda dengan produk impor yang pastinya berbeda dengan ukuran sendi orang Indonesia. Harganya pun mencapai Rp 22 juta atau tiga kali harga produk lokal.(han)