Menakar Peluang Jenderal Gatot Nurmantyo Jadi Cawapres

Juni 1, 2017

Presiden Joko Widodo dan Jenderal Gatot Nurmantyo (ANTARAFOTO)

Jakarta, penamerahputih.com – Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mulai disebut-sebut sebagai salah satu kandidat calon wakil presiden (cawapres) pada Pilpres 2019. Akbar Tandjung, Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar, bahkan telah dua kali menyebut bahwa Gatot layak jadi cawapres untuk mendampingi Jokowi.

“Panglima TNI itu posisi yang penting dan sangat strategis. Dalam konteks itu, kalau dia (Gatot) disebut-sebut sebagai calon wakil presiden ya wajar saja,” kata Akbar di Kantor DPP Perindo, Selasa (30/5/2017).

Menurut Akbar, Gatot layak dan mumpuni untuk maju menjadi cawapres mendampingi Jokowi di Pilpres 2019. Sebab menjadi Panglima TNI pastilah sudah melalui proses seleksi kepemimpinan yang sangat teruji.

Sebelumnya, Akbar bahkan sudah melontarkan nama Gatot pada perhelatan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar di Novotel, Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (23/5/2017). “Dia punya potensi menjadi calon wakil presiden,” ujar Akbar.

Lontaran Akbar, agaknya terkait dengan munculnya dukungan dari beberapa kader partai beringin saat Jenderal Gatot tampil menjadi pembicara. Jenderal yang akan memasuki pensiun pada Maret 2018 itu sempat membacakan puisi berjudul ‘Tapi Bukan Kami Punya’ di hadapan peserta Rapimnas, pada Senin (22/5/2017).

Dukungan Akbar terhadap Jenderal Gatot, pastilah bakal membuat marak bursa cawapres yang bakal diusung partai pemenang kedua Pemilu 2014 tersebut. Maklum, untuk posisi kandidat  presiden, Partai Golkar pada Rapimnas Juli 2016 di Istora Senayan, telah mendeklarasikan dukungan terhadap Jokowi.

Akbar sendiri mengaku mendukung Jenderal Gatot karena kedekatan pribadi. “Secara pribadi kami dekat. Dia kan orang Solo. Dengan istri saya apalagi. Dengan istri beliau (Gatot) juga dekat. Itu saja,” ujarnya.

Persoalannya kemudian, siapa yang bakal dijagokan Golkar menjadi cawapres? Bukan persoalan mudah mengingat Ketua Umum Setya Novanto kabarnya juga berambisi dan dijagokan sebagian kader elite untuk menjadi cawapres mendampingi Jokowi.

Akbar yang memahami sinyal ini memilih mengelak saat ditanya kepastian Jenderal Gatot benar-benar diusung Partrai Golkar menjadi cawapres. “Pada waktunya lah kita bicarakan. Terlalu dini karena nanti kami nggak bisa fokus,” katanya.

Pilpres 2019 Atau Tidak Sama Sekali

Jenderal Gatot Nurmantyo (57) memang bisa disebut sebagai salah satu bintang berkilau di jajaran militer. Gatot yang merupakan alumni Akmil tahun 1982 dilantik menjadi Panglima TNI ke-16 oleh Presiden Jokowi pada 8 Juli 2015. Dia menggantikan Jenderal Moeldoko yang memasuki usia pensiun.

Jenderal Gatot Nurmantyo dan Jenderal Moeldoko. (setkab.go.id)

Sebelum menjadi Panglima TNI, Gatot ditunjuk menjadi KSAD oleh Presiden SBY pada 25 Juli 2014. Sebelumnya, dia menjabat Pangkostrad, Komandan Kodiklat TNI AD, Pangdam V Brawijaya, juga Gubernur Akmil.

Kabar yang beredar, Presiden Jokowi menunjuk Jenderal Gatot sebagai Panglima TNI karena karakter Gatot yang dekat dengan prajurit. Gatot bukanlah tipe pemimpin di belakang meja. Dia lebih memilih terjun ke sawah bersama prajuritnya. Dan hal itu mirip dengan gaya blusukan Presiden Jokowi.

Toh, Gatot di kalangan orang dekatnya juga dikenal sebagai sosok yang punya ketetapan hati. Dia tegas dalam bersikap. Salah satu contoh pada November lalu, saat oknum TNI yang diduga terlibat bisnis narkoba ditembak mati oleh anggota Badan Narkotika Nasional (BNN) karena berusaha melarikan diri saat digerebek di Kosambi.

Gatot berkomentar tegas. “Saya katakan bahwa bisnis ilegal itu selalu berdekatan dengan aparat, baik itu kepolisian maupun TNI sendiri. Ada anggota saya yang melindungi narkoba, ya ditembak, ya dikuburin, mau apa lagi?” katanya.

Gatot juga tipe jenderal yang blak-blakan. Saat melakukan rapat kerja dengan anggota Komisi I DPR, pada Senin (6/2/2017), dia mengeluh soal terbatasnya wewenang Panglima TNI dalam pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Dia pun sempat menyatakan bahwa penggantian terhadap dirinya bisa dilakukan tahun ini atau tahun depan.

“Karena saya mungkin besok bisa diganti. Paling lambat Maret (2018), saya harus diganti. Kalau ini terjadi terus, maka kewenangan (pengadaan alutsista) di bawah Panglima TNI tidak ada,” ujarnya.

Benarkah Jenderal Gatot bakal diganti?

Kabar yang santer beredar, ada kemungkinan Jenderal Gatot bakal diganti pasca lebaran 2017. Calon terkuat penggantinya adalah KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto. Marsekal Hadi dikenal dekat dengan Jokowi sejak menjadi Komandan Lanud Adi Sumarmo Solo tahun 2010-2011, saat Jokowi masih menjadi walikota. Kedekatan berlanjut setelah Hadi diangkat sebagai Sekretaris Militer Presiden Jokowi pada 2015.

Lalu bagaimana dengan Jenderal Gatot?

Pasca menjadi Panglima TNI, tampaknya peluang Jenderal Gatot untuk berkiprah di dunia politik sangatlah terbuka. Sebagai sosok yang sudah mencapai posisi tertinggi di militer, wajar jika Jenderal Gatot digandang-gadang oleh banyak pihak untuk maju ke posisi wapres.

Meski Jenderal Gatot sendiri beberapa kali menyatakan keengganannya jika harus menjadi capres dan melawan Jokowi di Pilpres 2019.  Salah satunya saat menjadi tamu pada acara ‘Rosi’ di Kompas TV, Kamis (4/5/2017) malam. “Tidak mau. Tidak etis saya dipercaya Presiden (Jokowi), kemudian saya berambisi, beradu dengan Presiden,” tegasnya.

Mungkin benar Gatot tak berambisi untuk menjadi capres. Apalagi sejauh ini, nama-nama yang memiliki elektabilitas sebagai capres di Pilpres 2019 tak jauh dari Jokowi atau Prabowo. Tapi bagaimana dengan posisi cawapres?

Sumber penamerahputih.com yang dekat dengan kalangan militer, membuka peluang bahwa Jenderal Gatot bakal bersedia muncul sebagai cawapres. “Kalau dilihat dari sisi umur yang sudah 57 tahun, pada Pilpres 2019 nanti dia berumur 59 tahun. Sudah waktunya dia tampil. Sebab kalau menunggu Pilpres 2024, namanya pasti sudah hilang dari peredaran elite politik,” katanya.

Begitulah, Pilpres 2019 tampaknya bakal menjadi kunci apakah Jenderal Gatot bakal tampil menjadi pimpinan nasional di negeri ini atau tidak. Dan Akbar Tandjung sudah mengirim sinyalnya. Kita tunggu saja.(bhimo)