Indayati Oetomo: Bersosialisasi di Sosmed Bukan Berarti Bebas Berperilaku

Juni 3, 2017

Indayati Oetomo, International Director John Robert Powers.

Surabaya, penamerahputih.comAnda gemar menulis status di Facebook atau aktif bersosialisasi lewat WA Group? Jangan pernah menulis status bernada mengeluh atau mudah curhat kepada banyak orang.

Itulah pesan yang disampaikan Indayati Oetomo, Direktur Internasional John Robert Powers (JRP), sekolah kepribadian yang mulai berdiri di Surabaya sejak 35 tahun lalu. Saat ini JRP Indonesia memiliki enam cabang, yakni Surabaya, Kelapa Gading dan Kuningan (Jakarta), BSD City (Tangerang), Bali dan Medan.

Bersosialisasi di dunia maya atau sosial media (sosmed) yang kini menjadi tren, ternyata juga menjadi salah satu perhatian JRP. Mereka menyebutnya sebagai personal branding in digital era.

“Karena masih banyak yang menganggap bahwa bersosialisasi di dunia maya boleh semaunya. Mereka lupa bahwa apa yang dilakukan di sosmed juga merupakan gambaran who you are,” kata Indayati kepada penamerahputih.com, di Kantor Pusat JRP Indonesia, Jumat (2/6/2017).

Mengapa sebaiknya tidak membuat status bernada keluhan di Facebook? Apa saja tips bersosialisasi di sosmed? Apa suka dan duka menjalankan JRP? Berikut wawancaranya:

Bagaimana perkembangan JRP Indonesia sampai saat ini?

Kami masih mempertahankan idealisme. Sekarang banyak muncul lembaga-lembaga yang menduplikasi JRP. Mereka membuat training-training kepribadian buat individu selama 3-4 hari. Jelas tidak efektif. Sebab pengalaman kami selama 35 tahun, pelatihan selama 2 minggu saja kurang efektif apalagi hanya seminggu atau kurang.

Apakah banyaknya penduplikat menjadi tantangan JRP?

Banyak yang membuat semacam JRP, tapi tidak mempunyai dedikasi moral. Mereka hanya mencari kesempatan mencari uang. Tidak punya responsibility. Mereka hanya mementingkan uang  masuk.

Tapi kalau JRP, kami selalu berpikir apakah metode pendidikan kepribadian yang kami berikan efektif. Sebab kami meyakini bahwa manusia bukan komputer yang bisa diformat dan kemudian tidak berubah-ubah lagi. Manusia itu dalam sekian menit atau detik bisa berubah. Jadi tantangan utamanya adalah membuka wawasan orang, bahwa karakter tidak bisa diubah seperti Sangkuriang membuat gunung dalam sehari.

Kami beruntung karena tetap mengutamakan kelas regular. Kami juga tidak mau membuat metode-metode instan. Kami tetap berpikir konservatif bahwa pendidikan membutuhkan waktu.

Berapa banyak cabang JRP Indonesia?

Tetap enam. Kalau mau jujur, kondisi ekonomi sedang stuck. Kita juga bertahan sambil menunggu momentum. Kalau secara omset, kami tetap naik sekitar 5 persen sampai 10 persen per tahun. Kalau dulu memang bisa naik sampai 20 persen.  Tapi ya tidak ada masalah.

Apa suka atau dukanya mengelola JRP?

Saya begitu suka dan sudah menyatu dengan JRP. Bahkan orang-orang di sekitar saya seperti BOD (Board of Director) JRP, mereka juga bingung koq saya tidak berubah sedikitpun selama 35 tahun mengelola JRP. Setiap detik setiap saat, saya selalu berpikir tentang JRP.

Apakah sekolah kepribadian masih menjadi pilihan banyak orang?

Sebetulnya sekolah kepribadian menjadi kebutuhan mutlak. Bukan soal menjadi pilihan  atau tidak. Kalau seseorang masih mau meningkatkan diri, dia harus bercermin di sekolah kepribadian. Sebab JRP punya metode, punya cermin yang jujur dan obyektif dalam menilai seseorang secara profesional.

Manusia memang berpotensi terus berubah. Bisa saja hari ini kita menjadi seseorang yang punya kepribadian utuh. Tapi besok pagi kita bisa berubah menjadi sombong, arogan, atau bahkan sebaliknya menjadi rendah diri. Semakin banyak masalah yang dihadapi, manusia bisa semakin tidak stabil.

Apakah JRP mencermati tren bersosialisasi di dunia maya?

Justru sekarang sebenarnya JRP mengarah ke personal branding in digital era. Sebab masih banyak orang yang menganggap bersosialisasi di dunia maya boleh semaunya. Mereka lupa bahwa apa yang dilakukan di sosmed juga merupakan gambaran who you are.

Jangan membuat status bernada mengeluh di sosmed. Juga jangan banyak curhat. Sebab itu justru menunjukkan kita termasuk jenis orang bermental tempe. Punya masalah koq disharing ke banyak orang? Orang semacam itu egonya juga tinggi karena dia ingin semua orang fokus ke  persoalannya.

Ada contoh lainnya?

Ada juga tipe orang yang sering membuat ulah, menulis status yang membuat orang lain sakit hati. Orang semacam itu pasti punya latar belakang kepribadian yang pahit.

Jadi sebenarnya apa yang ditampilkan seseorang di sosmed merupakan cerminan siapa dirinya. Oleh sebab itu, saat bersosialisasi di sosmed, orang harus aware pada kepribadiannya. Latar belakang bakal menunjukkan metamofosis diri kita.

Artinya seseorang memang harus memiliki bekal untuk bersosialisasi di dunia maya?

Betul. Kita juga harus menjadi orang yang punya aware terhadap emosi orang lain. Harus punya empati. Kalau kita mau menulis sesuatu, harus berpikir apa yang bakal dirasakan orang yang akan membaca tulisan itu. Kalau kita diperlakukan seperti itu, apakah kita akan suka atau tidak? Jadi harus selalu dikembalikan kepada diri sendiri.

Jadi memang perlu berempati ketika bersosialisasi di sosmed?

Kita bersosialisasi di dunia maya atau dunia nyata harus menjadi orang yang punya integritas. Artinya harus berpenampilan sama. Bersosialisasi di sosmed bukan berarti bebas berperilaku. Tidak boleh seperti itu karena saat bersosialisasi di dunia maya bakal terbaca kepribadian kita.

Apa tips bersosialisasi di dunia maya?

Hal pertama, takut pada Tuhan karena semua manusia ciptaanNya. Sehingga ketika kita mau menyampaikan sesuatu, kita akan selalu ingat jangan sampai menyakiti ciptaan Tuhan lainnya. Harusnya kita justru menyenangkan orang lain. Seseorang yang takwa kepada Tuhannya, pasti akan selalu berusaha menyenangkan orang lain.

Hal kedua, menjadi orang yang tahu posisi. Dia tidak akan berusaha masuk ke wilayah yang bukan bagiannya. Jangan masuk ke area privacy. Jangan mudah menjustifikasi karena kita tidak melihat dan bertemu secara langsung.

Ketiga, harus punya prinsip tidak mudah ikut arus. Juga jangan keminter atau sok tahu. Kalau ada yang beropini tentang Si A, tidak usah ikut-ikut beropini kalau tidak mengenal Si A.

Tips-tips Anda tampaknya bisa meredam munculnya pertikaian di sosmed?

Hargailah manusia seutuhnya. Bukan karena jabatan, ras, atau apa saja.

Bagaimana Anda melihat maraknya hoax di sosmed?

Tidak usah di dunia maya, di mana-mana orang juga bisa berbohong. Tapi seseorang yang punya wisdom pasti tidak menyukai berita negatif. Kalau saya intelektual, saya tidak akan suka berita gosip. Hoax itu sama seperti gosip. Kita tidak mengalami sendiri, tidak melihat sendiri, kenapa harus percaya? Mereka yang suka gosip, menurut saya tidak well educated.

Pesan Anda bagi mereka yang suka bersosialisasi di dunia maya?

Kalau Anda ingin punya branding personality yang baik, attitude yang baik –dan itu bisa menjadi modal yang menunjukkan kultur dan latar belakang keluarga–  Anda harusnya menjaga diri dan tidak mudah ikut arus. Milikilah wisdom atau kebijaksanaan untuk menyaring setiap informasi. Sebab sebenarnya hati nurani kita mampu menyaring mana yang benar dan mana yang tidak benar.(sha)