Semen Indonesia Raih SRI KEHATI Apresiasi 2017, Emiten Berkomitmen Terbaik Lestarikan Lingkungan

Juni 8, 2017

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk raih SRI KEHATI Appreciation 2017.

Jakarta, penamerahputih.com – PT Semen Indonesia (Persero) Tbk menerima penghargaan SRI KEHATI Appreciation 2017 dari Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI). Pabrik semen BUMN ini menjadi salah satu emiten terbaik yang memiliki komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan pembangunan yang berkelanjutan.

“Semen Indonesia mendapatkan penghargaan karena kami memang sangat berkomitmen dalam pemeliharaan lingkungan dalam setiap kegiatan operasional,” kata Johan Samudera, Direktur Produksi dan Strategi Bisnis Semen Indonesia, seusai menerima penghargaan dari Ismid Hadad selaku pimpinan Yayasan Kehati, di Jakarta, Rabu (7/6/2017).

SRI KEHATI merupakan indeks yang mengacu pada tata cara sustainable and responsible investment (SRI) hasil kerjasama antara PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Yayasan Kehati, sejak tahun 2009. Indeks SRI KEHATI telah menjadi acuan di BEI untuk melihat perusahaan hijau atau perusahaan yang peduli terhadap lingkungan dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

Menurut Johan Samudera, Semen Indonesia selalu mengutamakan kinerja lingkungan dan pengembangan masyarakat (community development), tata kelola perusahaan (corporate governance), perilaku bisnis dan prinsip ketenagakerjaan dalam kegiatan operasionalnya.

“Sebagai strategi bisnis yang berkelanjutan, kami selalu menerapkan prinsip triple bottom line yang meliputi Planet, Profit, serta People dalam operasional perusahaan. Artinya, kami tidak hanya mengedepankan keuntungan, tetapi juga pelestarian lingkungan dan pengembangan masyarakat,” ujarnya.

Johan kemudian memaparkan bagaimana Semen Indonesia sangat peduli terhadap ketersediaan air bagi masyarakat dan lingkungan di sekitar pabrik. Contohnya di pabrik Tuban, area bekas penambangan tanah liat direklamasi menjadi embung atau telaga penampung air yang kini menjadi sumber air bagi pertanian milik warga. Keberadaan embung terbukti mampu meningkatkan produktivitas petani di sekitar pabrik.

Areal bekas penambangan tanah liat direklamasi menjadi embung yang bisa dimanfaatkan warga sekitar pabrik untuk budidaya ikan Nila.

Bagaimana tidak, areal bekas penambangan tanah liat yang kemudian disulap menjadi embung seluas 122,7 hektar di beberapa tempat, mampu menampung air hujan hingga 4,6 juta meter kubik dan mampu mengairi sawah seluas 133,5 hektare sepanjang tahun. Petani yang sebelumnya hanya bisa panen padi sekali dalam setahun karena mengandalkan tadah hujan, kini bisa panen padi hingga tiga kali.

Sementara areal bekas penambangan batu kapur direklamasi menjadi hutan dengan tanaman keras seperti jati atau mahoni. Petani diperbolehkan menanam tanaman buah di sela-sela tanaman keras tadi.

“Masyarakat juga dilibatkan dalam penanaman berbagai jenis tanaman pangan seperti jagung, kacang tanah dan sebagainya. Kelompok masyarakat ini disebut sebagai petani green belt,” kata Johan Samudera.

Program Penyelamatan Lingkungan

PT Semen Indonesia juga memiliki program penyelamatan lingkungan yakni memanfaatkan sampah perkotaan menjadi bahan bakar alternatif yang disebut proyek refuse drived fuel (RDF) atau program Waste to Zero. Program Waste to Zero dilakukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngipik, di Kabupaten Gresik.

Setiap harinya, proyek RDF mampu mengolah 650 meter kubik sampah atau sekitar 217 ton per hari. Sampah tersebut diolah menjadi padatan yang dapat dimanfaatkan sebagai tanah urug, sampah organik yang bisa diolah menjadi kompos, atau cacahan plastik. Bahkan bisa diolah menjadi bahan untuk campuran bahan bakar biomassa yang dipergunakan pabrik semen di Tuban.

“Secara langsung juga memberikan kontribusi pengurangan sampah perkotaan yang dihasilkan oleh Kabupaten Gresik,” kata Johan.

Satu kepedulian Semen Indonesia terhadap lingkungan lainnya adalah membangun pembangkit listrik yang memanfaatkan panas gas buang atau lebih dikenal sebagai Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG) di PT Semen Padang. Pembangkit listrik ini mampu menghasilkan listrik 8 MW dan berkontribusi pada pengurangan emisi gas karbondioksida sebesar 43.000 ton per tahun.

Kini, Semen Indonesia juga sedang membangun WHRPG di pabrik Tuban yang nantinya mampu menghasilkan listrik 30,6 MW dan mampu mengurangi emisi CO2 sebesar 122.000 ton per tahun.

“Dengan diterapkannya Green Industry Concept pada seluruh lini mulai dari penambangan, produksi, hingga pengelolaan area bekas tambang, tidak berlebihan jika Semen Indonesia Group yang memiliki produk bermerek Semen Gresik, Semen Padang, serta Semen Tonasa dikatakan sebagai produk yang ramah lingkungan,” tegas Johan Samudera.(bhimo)