Pelatihan Bela Negara Harus dalam Bingkai Konsepsi ‘Perang Modern’ Jenderal Ryamizard

Juli 19, 2017

Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) TNI Ryamizard Ryacudu.

Bogor, penamerahputih.com – Sejak Selasa 18 Juli hingga 24 Juli 2017, Kementerian Pertahanan (Kemhan) bekerjasama dengan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), menyelenggarakan pelatihan Bela Negara yang berlangsung di Pusat Pendidikan dan Latihan Bela Negara Kemhan di Rumpin, Bogor, Jawa Barat.

Mengangkat tema ‘Melalui Kader Muda Bela Negara Kita Wujudkan Generasi Emas Menuju Indonesia Emas 2045’, prakarsa Kemhan sudah sepatutnya mendapat apresiasi yang setinggi-tingginya. Namun terkait dengan program pelatihan tersebut, kiranya penting untuk menggarisbawahi kata kunci dari gagasan yang mendasari hajatan Kemhan, yaitu: Pentingnya Pembinaan Kesadaran Bela Negara.

Hakikinya,  pengertian Bela Negara mengandung dua arti. Pertama dalam arti fisik yang secara langsung dilaksanakan TNI dan Polri untuk mempertahankan keamanan negara. Kedua,  Bela Negara dalam artiannya yang bersifat non-fisik yaitu menangkal ancaman yang tidak nyata atau tidak kasat mata di  sektor ipoleksosbudhankam (ideologi, politik-ekonomi, sosial-budaya dan pertahanan-keamanan) yang dipandang berpotensi bakal membahayakan negara.

Maka, pelatihan Bela Negara yang menurut informasi terkini diikuti sekitar 1.031 mahasiswa Papua, selain cukup spektakuler, namun pada saat yang sama pelatihan tersebut harus membuahkan sesuatu yang bersifat strategis. Meskipun secara umum, tentu saja pelatihan Bela Negara ini pastinya dimaksudkan agar para mahasiswa sebagai cikal bakal kader-kader kepemimpinan nasional di masa depan, utamanya dalam menyongsong Indonesia 2045 mendatang, harus selaras dengan kepentingan nasional.

Terkait dengan kerangka pemikiran tersebut, maka Pelatihan Bela Negara seperti yang saat ini  berlangsung di Rumpin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat tersebut, harus dalam skema dan strategi nasional untuk menangkal apa yang kerap saya sebut dalam berbagai kesempatan, Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru.

Dengan demikian, maka program Pelatihan Bela Negara yang diselenggarakan oleh Kemhan ini pada perkembangan selanjutnya, harus menekankan proyeksi pelatihannya tidak semata untuk menghadapi ancaman fisik seperti serangan dari luar baik berupa agresi militer maupun aksi terorisme sebagai salah satu bentuk dari Kejahatan Lintas Negara, melainkan harus lebih dititikberatkan untuk menghadapi serangan Asimetris atau serangan dengan menggunakan sarana-sarana IPOLEKSOSBUDHANKAM.

Perang Asimetris Bukti Nyata Ancaman NonFisik

Pelatihan Bela Negara di Pusat Pendidikan dan Latihan Bela Negara Kemhan, di Rumpin, Bogor, Jawa Barat.

Untuk mengenali lebih jauh dimensi non-fisik dari ancaman nasional, ada baiknya saya bongkar kembali beberapa aspek penting dari buku karya saya dan M Arief Pranoto, “Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru”.

Sejak berakhirnya Perang Dunia II dan dimulainya Perang Dingin antara Blok Amerika Serikat dan Eropa Barat versus Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina, ada sebuah model penjajahan gaya baru yang agaknya gagal dikenali dan diantisipasi oleh elit kepemimpinan nasional kita kala itu. Yaitu munculnya Neo-Kolonialisme sebagai jabaran dari Skema Penjajahan Gaya Baru melalui inflitrasi dan penetrasi korporasi multinasional dan modal asing ke negara-negara sasaran.

Dan tak ayal, negara-negara kapitalis-imperialis tersebut kemudian harus menciptakan sebuah perang gaya baru juga untuk melayani skema penjajahan gaya baru. Mengingat karakteristik dan watak Neo-Kolonialisme tersebut sebagai suatu penjajahan yang bersifat tidak langsung, tidak kasat mata dan non-kekerasan tanpa harus melibatkan sarana-sarana militer, maka munculnya suatu model Perang Gaya Baru pun merupakan keniscayaan guna mendukung Skema Penjajahan Gaya Baru.

Dalam berbagai kajian dan analisis yang dikembangkan sejak 2010 lalu, kami mengistilahkan Perang Gaya Baru tersebut sebagai Perang Asimetris atau asymmetric warfare.

Sebagaimana kami paparkan di bab sebelumnya, sejak berakhirnya Perang Dunia II yang ditandai bangkitnya negara-negara merdeka di negara-negara berkembang, di mana titik kulminasinya ketika berakhirnya Perang Dingin pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, agaknya negara-negara kapitalis-imperialis mulai memunculkan sikap dan pemikiran baru untuk mengurangi penggunaan kekuatan militer untuk memenuhi hasrat dan nafsu imperialisme dan ekspansionismenya. Apa boleh buat, kenyataan baru tersebut mengharuskan mereka mengembangkan strategi, konsep dan doktrin baru pula.

Maka itu, Pelatihan Bela Negara seperti yang saat ini sedang berlangsung hingga 24 Juli mendatang, sudah seharusnya diterapkan dalam bingkai konsepsi ‘Menangkal Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya  Baru’ yang dilancarkan asing baik dari Blok AS dan Barat maupun dari China.

Pemikiran Jenderal Ryamizard

Menariknya, konsepsi menangkal perang asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru seperti terurai dalam buku kami tersebut,  selaras dan paralel dengan konsepsi pemikiran dan pandangan Jenderal (Purn) TNI Ryamizard Ryacudu yang saat ini kebetulan diberi amanah menjabat Menteri Pertahanan RI.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengistilahkan hal ini sebagai ‘Perang Masa Kini atau Perang Modern’. Terkait pandangannya mengenai Perang Nir-Militer, mari kita simak uraian Ryamizard selengkapnya:

“Kenyataan tersebut mengharuskan grand strategi negara yang memiliki nafsu imperialisme dilakukan tanpa pengerahanan pasukan dan alutsista. Inilah yang disebut sebagai perang masa kini atau perang modern di mana perang ini kehancurannya lebih dahsyat dibandingkan dari perang konvensional dengan pengerahan alutsita, karena negara sasaran akan dihancurkan secara sistemik yang pada akhirnya negara sasaran tidak eksis sebagai negara bangsa, sebagaimana yang sudah terjadi pada Uni Sovyet dan negara  Balkan”.

Skenario perang seperti ini, menurut Ryamizard, bisa dilakukan tanpa mengeluarkan biaya besar. Skenario perang dilancarkan dengan memaksa elite suatu bangsa agar silau dan terpengaruh terhadap faham luar, yang pada akhirnya mengakibatkan suatu bangsa terpecah dan terkotak-kotak ke dalam tiga parameter yaitu;

Menhan Ryamizrd Ryacudu

Pertama: mayoritas masyarakat dibuat tidak tahu apa yang sesungguhnya sedang terjadi, hal ini terjadi pada masyarakat awam;

Kedua: sebagian masyarakat tahu, namun tidak sadar atau tidak menyadari bahwa bangsa ini berada dalam jebakan, ini terjadi pada kaum intelektual.

Ketiga: sebagian masyarakat tahu dan sadar apa yang sesungguhnya terjadi, namun akibat kerakusan, mereka justru bersedia berkhianat kepada negara bangsanya dengan bekerja sebagai agen asing atau sebagai komprador.

Jelasnya, Perang Modern atau Perang Masa Kini dalam alur pemikiran dan pandangan Ryamizard adalah suatu bentuk perang yang dilakukan secara non militer dari negara maju/asing untuk menghancurkan suatu negara tertentu melalui bidang IPOLEKSOSBUDHAN.

Dengan kata lain, perang ini adalah bentuk kontrol dari negara-negara koalisi global yang dimotori oleh salah satu negara kuat terhadap negara lain yang tidak mengakomodasi kepentingan negara koalisi tersebut atau yang membahayakan kepentingan negara koalisinya.

Melalui kerangka konsepsional Ryamizard tersebut, setidaknya ada dua poin penting. Pertama,  perang nir-militer jenis ini dilancarkan oleh negara-negara adikuasa terhadap negara berkembang yang relatif lebih lemah. Kedua, lingkup perang nir-militer jenis ini meluas tidak lagi sekadar di lingkup kemiliteran sebagai kekuatan utama.

Pada era liberalisme global seperti sekarang ini, pemerintah tidak lagi merupakan aktor yang paling menentukan dalam percaturan politik luar negeri negaranya, maupun politik internasional. Bahkan tren global saat ini menunjukkan bahwa kekuasaan pemerintah sudah beralih kepada kekuatan-kekuatan non-negara seperti korporasi multinasional yang mana sumberdaya non-militernya, baik sumber daya manusia maupun sumberdaya keuangannya, sangat melimpah dan tanpa batas.

 Alhasil, aktor-aktor perang yang terlibat pun semakin meluas tanpa batas, bisa negara, non-negara, organisasi internasional, korporasi, non-government organization, media massa, dan bahkan bisa juga perorangan.

Maka perang semesta masa kini yang semula terbatas, di mana militer menjadi kekuatan utama dan penentu, telah berkembang menjadi perang-perang dalam bentuk lain, di mana kekuatan non-militer atau siapa saja yang memiliki kemampuan bisa menjadi kekuatan utama dan penentu, di medan pertempuran yang berbeda, dan perang telah menjadi instrumen dengan kekuatan luar biasa di tangan pihak-pihak yang bertikai yang berkeinginan untuk mengendalikan dunia khususnya wilayah nusantara.

Solusi Menangkal Perang Asimetris

Bagaimana menjelaskan perang nir-militer semacam yang kita pandang lebih berbahaya daripada perang konvensional yang semata melibatkan militer sebagai kekuatan utama dan penentu?

Untuk itu, rasanya tepat untuk kembali kepada uraian Ryamizard Ryacudu. Untuk dapat gambaran yang jelas mengenai betapa bahayanya Perang Modern atau perang masa kini seperti dimaksud Ryamizard, bisa dikenali melalui tujuan Perang Modern itu sendiri.

Tujuan Perang Modern, menurut Ryamizard, adalah untuk mengeliminir  kemampuan negara sasaran agar tidak menjadi suatu potensi ancaman; Melemahkan kemampuan negara sasaran sehingga semakin tergantung dan lebih mudah ditekan; Penguasaan secara total negara sasaran.

Adapun tahapannya sebagai berikut:

Tahap I = Infiltrasi. Melakukan infiltrasi melalui bidang-bidang intelijen, militer, pendidikan, ekonomi, ideologi, politik, sosial budaya/kultur dan agama, bantuan-bantuan, kerjasama di semua bidang dan media/Informasi.

 Tahap II = Eksploitasi. Melakukan ekploitasi dengan melemahkan dan menguasai bidang-bidang intelijen, angkatan bersenjata, ekonomi, politik, budaya dan ideology, di mana semua ini adalah titik berat kekuatan suatu negara.

Tahap III = Politik Adu Domba. Menjalankan strategi adu domba. Hal ini untuk menimbulkan kekacauan/kekerasan, konflik horizontal (SARA), dan berikutnya bertujuan agar muncul keinginan memisahkan diri dari NKRI atau separatism, dimulai dengan eskalasi pemberontakan yang pada akhirnya terjadi pertikaian antar anak bangsa atau perang saudara.

Tahap IV = Cuci Otak. Pada tahap brain wash atau cuci otak, mereka mempengaruhi paradigma berpikir masyarakat, yakni mengubah paradigma berpikir dalam bingkai Kebangsaan (Nasionalisme) menjadi cara pandang yang universal dengan keutamaan isu global seperti demokratisasi, HAM dan lingkungan, dengan jalan menyusupkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Tahap V = Invasi/Pencapaian Sasaran. Ketika wawasan kebangsaan suatu negara sasaran hancur dan jati diri bangsa hilang, maka praktis negara sasaran sudah dengan kata lain dapat  dikuasai, atau negara sasaran dalam penguasaan dan terjajah dalam berbagai aspek kehidupan. Berikutnya tinggal membentuk negara boneka yang diwakili oleh komprador asing.

Menhan Ryamizard dan generasi muda penerus bangsa.

Pandangan Ryamizard Ryacudu maupun Suryanto Suryokusumo dkk, telah menginspirasi kami untuk sampai pada sebuah kesadaran baru, bahwa ada sebuah Perang Gaya Baru yang sedari awal secara terencana memang diplot oleh negara-negara kapitalis-imperialis sebagai perangkat pendukung utama dilancarkannya Skema Penjajahan Gaya Baru dan Strategi Neo-Kolonialisme di negara-negara berkembang, tak terkecuali Indonesia.

Karenanya, kami berupaya untuk lebih mempertajam lagi konsepsi Perang Modern dan Perang Masa Kini yang telah disampaikan Ryamizard Ryacudu, maupun rekan-rekannya di TNI yang sehaluan dengan beliau.

Untuk itu, dalam uraian-uraian selanjutnya dari buku kami ‘Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru’, kami bermaksud mengedepankan sebuah konsepsi yang kiranya bisa lebih detail dan rinci mengenai Perang Asimetris baik sifat, bentuk, pola dan sumber.

Namun, untuk menjabarkan hal tersebut, ada baiknya kami paparkan dalam rangkaian tulisan kami selanjutnya. Namun terkait dengan topik utama tulisan kami tersebut di atas, hanya satu hal yang coba kami sarankan. bahwa Pelatihan Bela Negara yang sedang berlangsung dan diikuti oleh seribu lebih mahasiswa dari delapan kabupaten atau kota Di Papua seperti Jayapura, Biak, Wamena, Merauke, dan Papua Barat seperti Manokwari, Sorong, Kaimana, dan Fakfak, sayang sekali jika Pelatihan Bela Negara yang sepenting itu hanya difokuskan pada Pelatihan Bela Negara untuk menangkal ancaman nasional secara fisik. Dan mengabaikan pentingnya menangkal Perang Asimetris atau Perang Nir-Militer sebagai jabaran dari Skema Penjajahan Gaya Baru yang dilancarkan oleh asing sejak berakhirnya Perang Dunia II dan dimulainya Perang Dingin.

Lebih ironis lagi, ketika Pelatihan Bela Negara hanya fokus pada menangkal ancaman fisik, padahal Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu justru secara intensif menaruh perhatian pada bahaya dari perang asimetris sebagai perang melalui sarana non militer untuk menaklukkan negara sasaran. Yang mana di benak Menhan Ryamizard Ryacudu tak lain adalah negeri kita tercinta, Indonesia.

(Penulis: Hendrajit, pengkaji geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute)