‘Perang Modern’ Murah Meriah, Daya Hancurnya Lebih Dahsyat dari Bom Atom (Bag 1)

Juli 22, 2017

 

Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu (CNNIndonesia)

 Pengantar : Perselisihan, pertikaian dan perseteruan agaknya menjadi santapan keseharian kita di media massa. Sebut saja konflik Pilkada Jakarta yang berlanjut dengan keluarnya Perppu Ormas. Belum lagi, kegaduhan antara DPR melawan KPK terkait Hak Angket KPK yang dipicu mega korupsi e-KTP. Pro dan kontra di mana-mana.

 Persoalannya, kegaduhan tak hanya berkelindan di sekitar elite di pusat, tapi juga menyebar ke para pendukung atau kelompok. Bahkan selanjutnya, begitu cepat menyebar ke seantero negeri melalui sosial media. Memang, semua pihak pasti berharap agar kegaduhan di sosmed hanya sebatas perselisihan ide dan gagasan di dunia maya.

 Namun, ada hal yang perlu dicatat bahwa pertikaian, sejatinya  salah satu tahapan (tahap adu domba) dalam strategi  Perang Modern yang dilontarkan pihak asing yang tak ingin Indonesia menjadi negara besar dan kuat. Perang yang juga disebut sebagai Perang Asimetris ini tak melibatkan militer, tak menggunakan senjata, meski munurut Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, daya hancurnya lebih dahsyat dari bom atom. Berikut analisis Hendajit, pengkaji geopolitik dari Global Future Institute, tentang Perang Modern:

Perang Modern tak melibatkan militer. (Antaranews.com)

Pemahaman Bela Negara sudah seharusnya didasari pada gagasan untuk menghadapi ancaman nasional yang bersifat non-fisik. Konsepsi Perang Modern ala Jenderal (Purn) TNI Ryamizard Ryacudu yang kebetulan saat ini diberi amanah sebagai Menteri Pertahanan, kiranya amat penting untuk dipertajam dan dikembangkan pada tataran yang lebih strategis namun aplikatif.

Seperti terurai dalam artikel kami sebelumnya, http://penamerahputih.com/2017/07/19/pelatihan-bela-negara-harus-dalam-bingkai-konsepsi-perang-modern-jenderal-ryamizard/

pandangan Jenderal Ryamizard maupun beberapa rekannya yang sevisi,  telah menginspirasi kami untuk sampai pada sebuah kesadaran baru. Yakni ada sebuah ‘perang gaya baru’ yang secara terencana memang diplot oleh negara-negara kapitalis-imperialis sebagai perangkat pendukung utama dilancarkannya ‘skema penjajahan gaya baru’ dan ‘strategi neo-kolonialisme’ di negara-negara berkembang, tak terkecuali Indonesia.

Oleh karena itu, kami berupaya untuk lebih mempertajam lagi konsepsi Perang Modern — disebut juga Perang Asimteris atau Perang Non-Militer — yang telah disampaikan Jenderal Ryamizard, maupun kajian-kajian strategis lainnya yang sevisi. Maka itu, dalam uraian-uraian selanjutnya yang kami olah dari buku karya kami dan M Arief Pranoto berjudul ‘Perang Asimetris dan Skema Penjajahan Gaya Baru’, kami bermaksud mengedepankan sebuah konsepsi yang kiranya bisa lebih detail dan rinci mengenai Perang Modern, baik sifat, bentuk, pola dan sumber.

Logika Berpikir yang Tak Lazim

Menurut Dewan Riset Nasional (DRN), Perang Asimetris adalah suatu model peperangan yang dikembangkan dari cara berpikir yang tidak lazim dan di luar aturan peperangan yang berlaku. Spektrum perang ini sangat luas dan mencakup aspek-aspek astagatra. Perpaduan antara trigatra, yakni geografi, demografi dan sumber daya alam, serta pancagatra yakni ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Perang Asimetris selalu melibatkan peperangan antara dua aktor atau lebih, dengan ciri menonjol dari kekuatan yang tidak seimbang.

 Sedangkan ‘US Army War College’ menyatakan, Perang Asimetris dapat digambarkan sebagai sebuah konflik, di mana dari dua pihak yang bertikai berbeda sumber daya inti dan perjuangannya, cara berinteraksi dan upaya untuk saling mengeksploitasi karakteristik kelemahan-kelemahan lawan.

Perjuangan tersebut sering berhubungan dengan strategi dan taktik perang unconvensional. Pejuang yang lebih lemah, berupaya untuk menggunakan strategi dalam rangka mengimbangi kekurangan yang dimiliki dalam hal kualitas atau kuantitas.

Sementara menurut defenisi Kementerian Pertahanan Australia (Australia’s Department of Defence) adalah: “Konflik selalu melibatkan satu pihak yang mencari celah keuntungan asimetris atas pihak lainnya dengan cara memperbesar pendadakan, penggunaan teknologi, atau metode operasi baru secara kreatif. Sisi asimetris dicari dengan menggunakan pasukan konvensional, khusus dan tidak biasa dalam rangka menghindari kekuatan-kekuatan musuh dan memaksimalkan keunggulan yang dimilikinya. Semua perang kontemporer didasarkan pada pencarian keunggulan asimetris. Asimetris muncul pada saat diketahui adanya perbedaan perbandingan antara dua hal. Asimetri militer dapat diartikan dengan perbedaan tujuan, komposisi pasukan, kultur, teknologi dan jumlah.”.

Dari definisi yang bersumber tiga rujukan berbeda di atas, ada beberapa poin penting yang layak dicermati pada kajian mengenai Perang Asimetris. antara lain:

Demo mendukung KPK. (kompasiana.com)

Dewan Riset Nasional (DRN) misalnya, lebih memaknai Perang Asimetris sebagai perang konvensional yang dikembangkan, tetapi dengan cara berpikir tidak lazim. Mengapa? DRN melihatnya sebagai peperangan yang memiliki spektrum sangat luas karena mencakup astagatra (delapan aspek kehidupan) yang meliputi trigatra dan pancagatra.

Sedang pada taktis peperangan, DRN menekankan keterlibatan antara dua aktor atau lebih, dan menyoroti ketidakseimbangan keadaan (bagi dan antar aktor) yang terlibat peperangan.

Sementara definisi versi US Army War College, menekankan perbedaan sumber daya dua pihak yang berkonflik, cara berinteraksi, dan upaya mengeksploitasi masing-masing kelemahan lawan. Ia juga masih mengaitkan dengan strategi dan taktik perang non-konvensional yang berarti tiada lain masih dalam kerangka Perang Militer. Artinya, diasumsikan bahwa pihak yang lemah berupaya memakai strategi guna mengimbangi kekurangannya baik dalam hal jumlah maupun kualitas.

Selanjutnya, perang non militer versi Australia’s Department of Defence, lebih kepada pencarian keuntungan secara Nir-Militer atas pihak lainnya. Kendati pencarian sisi asimetris tersebut dilakukan secara militer, sedangkan asimetris secara militer dipersepsikan sebagai perbedaan tujuan, komposisi pasukan, kultur, teknologi dan jumlah.

Memberi Makna Baru Pengertian Perang Asimetris

 Berdasarkan definisi ketiga sumber di atas, memang masih terdapat perbedaan arti, maksud dan makna daripada peperangan non-militer. Belum ditemui definisi yang dirasa cocok, pas dan baku.

Australia’s Departement of Defence misalnya, masih saja mengaitkan perang nir-militer dengan perang militer (konvensional). Namun ia menekankan kepada hasil peperangan berupa non-militer (mungkin maksudnya adalah kontrol ekonomi negara lawan, penguasaan SDA, dan sebagainya).

Demikian juga dengan US Army War College,  masih membandingkan atau mengukur kekuatan antarpihak yang saling bertikai, sebagaimana terjadi dalam perang militer secara terbuka.

Menurut hemat penulis, definisi Perang Asimetris versi DRN lebih realistis daripada defenisi lainnya, karena sejalan dengan model dan praktik-praktik selama ini.

Perang nir-militer dinilai sebagai model perang tidak lazim —non-militer— bahkan dalam praktik operasionalnya cenderung non-kekerasan. Spektrum sasarannya lebih luas daripada perang konvensional, sebab mencakup segenap aspek kehidupan. Meski penulis sedikit menyayangkan, karena pada defenisi versi DRN masih mencantumkan “ketidakseimbangan keadaan (bagi dan antar aktor) terlibat peperangan.” Kenapa?

Sebab strategi Neo-Kolonialisme, perang non-militer sekarang justru dinilai sebagai metode favorit para adidaya dalam rangka menancapkan kuku pengaruh dan kolonialismenya di negara-negara yang jadi target penaklukkan.

Pertanyaannya, bukankah dari sisi sumber daya perang, para adidaya lebih canggih dan lebih kuat daripada negara-negara target? Lantas, kenapa dalam perang Nir-Militer masih mempersoalkan ketidakseimbangan pihak yang terlibat peperangan?

Rumusan Ryamizard Lebih Inspiratif

Itulah sebabnya, rumusan Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, menurut kami jauh lebih inspiratif sebagai rujukan awal untuk mengembangkan konsepsi Perang Asimetris.

Persenjataan milik TNI. (Antaranews.com)

Ryamizard memaknai asymmetric warfare sebagai perang non-militer atau dalam bahasa populernya dinamai smart power atau perang non-konvensional. Merupakan perang murah-meriah, tetapi memiliki daya hancur lebih dahsyat daripada bom atom.

Asymmetric warfare merupakan perang murah meriah tapi kehancurannya lebih dahsyat dari bom atom. Jika Jakarta di bom atom, daerah-daerah lain tidak terkena. Tetapi bila dihancurkan menggunakan asymmetric warfare maka seperti penghancuran sistem di negara ini, hancur berpuluh-puluh tahun dan menyeluruh,” ujar Ryamizard, pada Kamis (29/1/2015).

Merujuk pada diskusi terbatas di Global Future Institute (GFI) Jakarta pada 24 Maret 2015, dirumuskan definisi asymmetric warfare sebagai berikut: “Perang asimetris merupakan metode peperangan gaya baru secara Nir-militer (non-militer) namun daya hancurnya tidak kalah bahkan dampaknya lebih dahsyat daripada perang militer. Ia memiliki medan atau lapangan tempur luas meliputi segala aspek kehidupan (astagatra).”

Sasaran perang non-militer tak hanya satu aspek tetapi juga beragam aspek, dapat dilakukan bersamaan, atau secara simultan dengan intensitas berbeda. Kelaziman sasaran pada perang asimetris ini ada tiga: (1) membelokkan sistem sebuah negara sesuai kepentingan kolonialisme; (2) melemahkan ideologi serta mengubah pola pikir rakyatnya;  (3)  menghancurkan ketahanan pangan dan energy security (jaminan pasokan energinya), selanjutnya menciptakan ketergantungan negara target atas kedua hal tersebut (food and energy security).

Sedangkan muara ketiga sasaran tadi, senantiasa berujung pada kontrol terhadap ekonomi dan penguasaan SDA sebuah negara, sebagaimana doktrin yang ditebar oleh Henry Kissinger di panggung politik global: “Control oil and you control nations, control food and you control the people.” Kuasai minyak maka Anda mengendalikan negara, kendalikan pangan maka anda mengontrol rakyat

Betapa efek perang ini sungguh dahsyat karena berdampak selain kelumpuhan menyeluruh bagi negara bangsa, juga membutuhkan biaya tinggi dan perlu waktu yang relatif lama untuk proses recovery atau pemulihan kembali kelak.

(Bersambung…)

Penulis: Hendrajit, pengkaji geopolitik dari Global Future Institute