Wiranto dan Ryamizard Ingatkan Ancaman Asing Bukan Lagi Agresi Militer

Juli 26, 2017

Mendagri Tjahjo Kumolo dan Menhan Ryamizard Ryacudu pada Rakor dan Pembekalan Ketua Kopertis dan Rektor Seluruh Indonesia terkait Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PKBN), di Kantor Kementerian Pertahanan.

Jakarta, penamerahputih.com – Menko Polhukam Jenderal (Purn) Wiranto dan Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Ryamizard Ryacudu mengingatkan bahwa ancaman yang ditebar pihak asing sudah merasuk ke berbagai sendi kehidupan masyarakat. Ancaman militer sudah tak laku lagi.

“Ancaman militer sudah menjadi ancaman tradisional,” kata Wiranto pada Rapat Koordinasi dan Pembekalan kepada Ketua Kopertis dan Rektor Seluruh Indonesia dalam rangka Pembinaan Kesadaran Bela Negara (PKBN), di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Rabu (26/7/2017).

Selain Menko Polhukam Wiranto, hadir pada kegiatan itu Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dan Mendagri Tjahjo Kumolo. Hadir pula 111 rektor dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Seiring perubahan zaman, lanjut Wiranto, terjadi perubahan ancaman yang luar biasa. Ancaman militer berubah menjadi ancaman yang masuk ke dalam kehidupan keseharian dalam spektrum yang sangat luas dan multidimensional.

“Padahal dulu sudah tercetak betul di otak saya dan teman-teman saya di militer, bahwa ancaman dari luar itu ya ancaman militer. Kita dijajah Belanda atau Jepang juga secara militer,” katanya.

Namun kini, ancaman dari negara asing sudah tidak lagi berupa ancaman militer karena biayanya mahal. Sejarah menunjukkan, negara sekaya AS dan Uni Soviet juga tidak mampu mempertahankan invasinya ke negara lain. Menguasai berhasil, tapi mempertahankannya tidak bisa. Mahal dan berlarut-larut.

“AS kewalahan dengan Vietnam, Uni Soviet ke Afghanistan juga tak bisa bertahan lama,” katanya.

Masih menurut Wiranto, saat ini  ancaman lebih soft tapi justru lebih fatal. Sebut saja terorisme dan radikalisme. Atau yang terkait kekayaan alam berupa kapitalisme, separatisme, atau illegal fishing. Ancaman kartel-kartel yang merusak perekonomian. “Kemudian yang menyangkut cara berpikir bangsa berupa serangan cyber,” katanya.

Ospek Diisi Bela Negara

Persoalannya, mayoritas rakyat belum mengetahui ancaman yang sudah merasuk ke berbagai sendi kehidupan. Rakyat hanya memahami bahwa untuk menangkal ancaman dari luar merupakan tugas tentara dan polisi.

“Bahkan fatalnya, sekarang rakyat justru menjadi bagian dari ancaman itu sendiri. Ini yang repot,” kata Wiranto sembari menyebut munculnya demo yang radikal dan ideologi radikal.

Persoalan menjadi bertambah karena ternyata ada sinergi dengan kekuatan asing. “Aktornya di luar, pelakunya di dalam negeri,” kata Wiranto.

Salah satu upaya adalah menyadarkan masyarakat terkait UUD 1945 pasal 30 yang mengatur bahwa setiap warga negara berhak dan mempunyai kewajiban yang sama dalam membela negara.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan (Kemhan) berencana mengisi kegiatan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek) bagi mahasiswa baru 2017 dengan Pembinaan Kesadaran Bela Negara.  Tujuannya menangkal paham radikalisme dan membangun perilaku cinta tanah air bagi mahasiswa.

Menurut Ryamizard, kampus menjadi wahana mencetak para cendekiawan dan calon pemimpin bangsa. Semangat bela negara dan kecintaannya kepada bangsa dan negara harus ditumbuhkan.

“Jangan sampai kita hanya mencetak ilmunya, tapi bela negara nggak ada. Itu seperti senjata berbalik menghantam bangsa sendiri. Jangan sampai ilmu dipakai untuk radikalisasi,” kata Menhan Ryamizard.

Sebagaimana Wiranto, Menhan juga mengingatkan bahwa ancaman dari pihak asing bukan lagi berbentuk agresi militer atau perang konvensional, namun Perang Modern yang dilancarkan tanpa kekuatan militer atau senjata. “Perang Modern itu memang murah meriah, namun daya hancurnya lebih dahsyat dari bom atom,” katanya.(bhimo)