Pasca Peluncuran Siluman Air Nagapasa, Indonesia Makin Strategis Bagi Korsel

Agustus 14, 2017

Menhan Ryamizard Ryacudu (duduk depan tengah) berpose dengan latar belakang KRI Nagapasa-403. (asian defense news)

Pengantar:  Keputusan Presiden Korea Selatan Moon Jae-In yang lebih memilih menemui Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu dibanding membahas uji coba rudal balistik Korut dengan Presiden AS Donald Trump, menunjukkan pentingnya kerja sama pertahanan antara Indonesia-Korsel.

Maklum, fakta menunjukkan, Indonesia saat ini merupakan mitra yang sangat penting untuk ekspor produk persenjataan Korsel. Presiden Moon bahkan menyebut bahwa Indonesia merupakan negara pertama yang mengintegrasikan kapal selam buatan Korsel ke dalam Alutsistanya (Alat Utama Sistem Pertahanan).

Paling mutakhir, Indonesia memesan tiga kapal selam tipe Changbogo Class yang nilai totalnya sekitar Rp 14,5 triliun. KRI Nagapasa-403, salah satu kapal selam canggih buatan  Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME), saat ini sedang dalam perjalanan dari galangan di Korsel menuju pangkalan utamanya di Surabaya .

Menhan Ryamizrd Ryacudu didampingi KSAL Laksamana TNI Ade Supandi berbincang dengan Presiden Korsel Moon Jae-In. (www.korea.net)

PENGALAMAN buruk yang dialami Thailand dan Kroasia dalam hal kerja sama militer dengan Ukraina, menjadi urgensi bagi Kementerian Pertahanan (Kemhan) agar terus meningkatkan kerja sama dengan kementerian lain dalam meng-update tren global. Termasuk mencermati konstalasi dalam negeri dari negara-negara yang bermaksud menjadi mitra dalam kerja sama pertahanan dengan pemerintah Indonesia.

Baca: Belajar dari  Pembelian MIG-21 Bekas, Kerja Sama Pertahanan Indonesia-Korsel

Berdasarkan temun sekilas hasil diskusi Global Future Institute, nampaknya sudah beralasan untuk mendesak pemerintah Indonesia, khususnya Kemhan, agar menghentikan kelanjutan kerja sama bidang pertahanan dengan Ukraina. Termasuk, menolak usulan Presiden Ukraina agar Indonesia membeli kendaraan lapis baja jenis 4-M.

Terkait kerja sama pertahanan antara RI-Korsel ke depan, semoga pengalaman buruk Thailand dan Kroasia tidak terjadi.

Korsel sendiri nampaknya memang memandang Indonesia cukup strategis. Terbukti pada Juni 2017, sebanyak 31 delegasi Joint Staff College (JSC) Republik Korea yang dipimpin oleh Kolonel Na Byung Yeop melakukan kunjungan ke Indonesia terkait Program Studi Strategis Luar Negeri mereka.

Pada kunjungan tersebut, Kolonel Na Byung Yeop, selaku Ketua Delegasi JSC, menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara yang penting bagi Korsel, karena Indonesia merupakan negara yang luas dan memiliki penduduk besar.

Setelah tahun 90-an, hubungan ekonomi dan militer Indonesia dengan Korsel sangat baik dan terus meningkat. Khususnya kerja sama dalam  dalam bidang industri maritim yang semakin berkembang.

Transfer Teknologi Bagi PT PAL

Menhan didampingi KSAL pada peluncuran kapal selam KRI Nagapasa-403, di galangan milik Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME), Korsel. (detik news)

Fakta bahwa Korsel memilih Indonesia sebagai salah satu obyek studi Program Studi Strategis Luar Negeri, tentu sudah selayaknya menjadi bahan pertimbangan Menhan Ryamizard Ryacudu maupun jajarannya di Kemhan untuk memanfaatkan dan mengembangkannya dalam skala yang lebih strategis dari kerjasama pertahanan tersebut.

Jangan sebatas proyek pengadaan Alutsista. Oleh sebab itu, Kemhan sudah seharusnya lebih proaktif menjalin koordinasi dengan Kementerian Luar Negeri terkait pembahasan isu-isu strategis RI-Korsel.

Sebab belum banyak kalangan yang tahu bahwa Indonesia dan Korsel memiliki forum Joint Commission Meeting pada tingkat Menlu dan Strategic Dialogue pada tingkat Wamenlu untuk membahas isu-isu strategis kedua negara.

Satu catatan penting yang kiranya perlu diapresiasi, di bidang pertahanan, khususnya dalam pengadaan Alutsista, Indonesia dan Korsel telah mengimplementasikan strategic partnership dengan meletakkan trust and confidence sebagai prinsip kerjasama.

Saat ini, selain kapal selam KRI Nagapasa-403 yang sedang dalam perjalanan menuju pangkalan utamanya di Surabaya, tengah diproduksi dua unit kapal selam lainnya yang disertai proses transfer teknologi pembuatan kepada PT PAL. Indonesia juga pemesan pertama produk jet trainer T-50 dan saat ini tengah dilakukan program pengembangan bersama pembuatan pesawat tempur KFX/IFX.

Hal ini tentu saja merupakan kabar gembira terkait kerja sama pertahanan Indonesia-Korsel ke depan. Berbekal pengalaman kerja sama antara Thailand atau Kroasia dengan Ukraina, hendaknya tidak terjadi dalam kerjasama RI-Korsel yang landasan dan kerangka kebijakan strategisnya –maupun momentumnya — sudah sangat bagus.(*)

(Hendrajit, Pengkaji Geopolitik dan Direktur Eksekutif Global Future Institute-bim)