Menhan Sebut Intelijen AS Prediksi Indonesia Bakal Pecah Pasca Reformasi

Agustus 22, 2017

Menhan Ryamizard Ryacudu saat tiba di Universitas Trunojoyo, Senin (21/8/2017)

Bangkalan, penamerahputih.com – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu memaparkan bahwa intelijen AS ternyata pernah memprediksi negara Indonesia bakal pecah. Analisis intelijen AS itu dia terima dari seorang perwira TNI yang baru pulang mengikuti pendidikan di negera Paman Sam tahun 2005.

“Intelijen AS memprediksi Indonesia bakal pecah setelah empat atau lima tahun pasca reformasi 1998. Namun prediksi tersebut tidak kunjung tiba hingga sekarang ini.  Artinya, persatuan Indonesia adalah rahmatan dan anugerah dari Tuhan yang tidak tergoyahkan oleh kekuatan manusia,” kata Menhan Ryamizard Ryacudu saat memberi kuliah umum Bela Negara kepada mahasiswa dan dosen Universitas Trunojoyo, Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Senin (21/8/2017).

Menurut Menhan, Pancasila dan UUD 1945 merupakan cerminan konkrit sentuhan dan campur tangan Tuhan untuk seluruh bangsa Indonesia yang harus selalu diamalkan dan dilestarikan.

Menhan Ryamizard mengungkap tentang analisis intelijen AS itu guna menunjukkan bahwa posisi geopolitik dan geostrategi Indonesia –dengan potensi-potensi yang dimiliki —  menempatkan bangsa Indonesia pada posisi yang rawan dengan instabilitas nasional akibat berbagai kepentingan, persaingan, atau perebutan pengaruh baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

“Hal itu dipastikan akan memberikan dampak bagi hidup dan kehidupan bangsa dan negara Indonesia  dalam jangka pendek maupun jangka panjang,” katanya.

Oleh sebab itulah, bangsa Indonesia memerlukan semangat dan kesadaran ‘Bela Negara’ dalam menghadapi derasnya persaingan memperhankan eksistensi suatu bangsa di era ‘globalisasi baru’.

“Era Globalisasi Baru yang saya maksudkan merupakan konsekuensi logis dari pola perubahan akibat proses modernisasi yang sarat dengan pola persaingan ekonomi antarbangsa serta saling ketergantungan satu dengan yang lain,” ungkapnya.

Munculnya Donald Trump dan Erdogan

Satu hal yang harus dicermati oleh bangsa Indonesia adalah munculnya kembali semangat nasionalisme di berbagai belahan dunia. Bangsa-bangsa di dunia mulai memiliki kesadaran kolektif akan pentingnya kemurnian jati diri sebagai fondasi ketahanan nasional suatu bangsa guna menghadapi berbagai potensi ancaman dan tantangan yang bisa merintangi pencapaian tujuan nasional bangsanya.

“Presiden baru Amerika Serikat Donald Trump dengan Konsep Make America Great Again juga mengedepankan semangat nasionalisme yang relatif antiglobalisasi,” tegas Menhan.

Juga munculnya Recep Tayyip Erdogan menjadi Presiden Turki pada 2014 yang merupakan sosok nasionalis populis di kejayaan era Otomania yang berbasis Islam Suni. Serta terpilihnya Presiden Perancis Emmanuel Macron dengan kebijakan ekonomi Perancis yang cenderung protektif.

Berbagai bangsa di dunia juga mulai memahami bahwa di era modernisasi ini muncul tantangan nonfisik terhadap ideologi negaranya. Bangsa Indonesia juga sudah seharusnya memahami  ancaman yang maha dahsyat terhadap idelogi Pancasila yang bisa berujung jebolnya keutuhan dan ketahan nasional bangsa.

“Ancaman dan tantangan tersebut berupa serangan ideologis dengan kekuatan soft power yang berupaya untuk merusak mindset dan jati diri bangsa Indonesia melalui pengaruh kehidupan ideologi asing yang beraliran materialisme,” kara Menhan sembari menyebut liberalisme, komunisme, sosialisme dan radikalisme agama.

Serangan Ideologis ini sering saya sebut dengan istilah Perang Modern atau saat ini populer dengan istilah proxy war. Suatu bentuk perang jenis baru yang mempengaruhi hati dan pikiran rakyat dengan tujuan membelokkan pemahaman terhadap ideologi negaranya,” papar Menhan.

Metode operasional Perang Modern dilakukan melalui Infiltrasi ke dalam dimensi intelijen, militer, pendidikan, ekonomi, ideologi, politik, sosial budaya dan agama, melalui bantuan-bantuan, kerja sama di berbagai bidang, termasuk melalui sarana media dan informasi.

“Strategi paling efektif menghadapi pengaruh Ideologi bermuatan materialis adalah mengedepankan aktualisasi dan pemurnian implementasi nilai-nilai Pancasila sebagai basis kekuatan Ideologi bangsa dan negara melalui program Kesadaran Bela Negara,” tegasnya.

Esensi dari Kesadaran Bela Negara yang digagas Ryamizard pada hakikatnya adalah membentuk karakter anak bangsa dengan gagasan ‘The Man Behind The Gun’ yang berkepribadian dan memiliki kesadaran sikap dan perilaku yang menjunjung tinggi pentingnya aktualisasi nilai-nilai  luhur budaya bangsa.

Yakni cinta Tanah Air, sadar berbangsa dan bernegara, setia pada Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara, serta mempunyai kemampuan awal bela negara baik psikis maupun fisik.

Pada penutup kuliah umumnya, Menhyan Ryamizard mengutip pesan Empu Tadah saat menjadi Mahapatih Kerajaan Majapahit kepada Patih Gajah Mada dan Adityawarman. “Memang sangatlah sulit untuk menyatukan suku-suku yang beraneka ragam di Nusantara ini, tetapi justru persatuan dan kesatuan itulah kekuatan kita yang maha dahsyat, tetapi dengan kesadaran akan persatuan dan kesatuan yang tidak dipaksakan (Kesadaran Bela Negara)”.(bhimo)