Menhan Ryamizard: Bela Negara Tak Bertentangan dengan Al Quran

Agustus 28, 2017

Menhan Ryamizard Ryacudu memberi pembekalan Kesadaran Bela Negara kepada mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta. (Puskom Publik Kemhan)

Jakarta, penamerahputih.com – Kesadaran Bela Negara tak bertentangan dengan ajaran Al Quran dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Bahkan seluruh faham yang melahirkan konsep Bela Negara tertuang di dalam Al Quran. Muslim yang baik pastilah seorang anggota bangsa yang baik pula.

“Dan cinta Tanah Air harus dibuktikan secara konkret sebagaimana telah dilakukan Nabi Muhammad SAW dan terefleksi dalam haditsnya, Hubbul wathan minal iman atau cinta Tanah Air itu sebagian dari iman,” kata Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu saat memberi pembekalan Bela Negara kepada Mahasiswa dan Dosen Universitas Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), di Kampus UMJ, Senin (28/8/2017).

Baca: Menhan Sebut Intelijen AS Prediksi Indonesia Bakal Pecah Pasca Reformasi

Menhan kemudian memaparkan bahwa Islam hadir untuk melindungi, menjaga dan memelihara harkat derajat martabat manusia.  Islam merupakan agama rahmatan lil’alamin atau rahmat bagi semesta alam yang lengkap dan komprehensif. Termasuk di dalamnya terdapat konsep mengenai Bela Negara.  Islam juga sangat mendukung faham kebangsaan yang di dalam bahasa Arab dikenal dengan kata Al-Qaumiyah.

Kebangsaan adalah ciri-ciri yang menandai suatu golongan bangsa. Berasal dari kata ‘bangsa’ yang berarti kesatuan dari orang-orang yang bersamaan asal keturunan, adat, bahasa dan sejarah, serta berpemerintahan sendiri.

“Kemudian Allah SWT juga menurunkan ayat untuk menegaskan bahwa tidak dilarang berbuat baik kepada orang yang tidak memusuhi agama Allah.  Artinya, berbuat baik dengan siapa saja tidaklah dilarang, bahkan dengan musuh sekalipun, karena hidayah turun hanya dari Allah SWT. Tidak dapat dipaksakan oleh manusia,” kata Menhan.

Oleh sebab itulah, menurut Menhan, pembelaan terhadap negara sama dengan pembelaan kita terhadap agama. Susunan ayatnya diawali dengan yang menjelaskan berbuat baik dengan yang tidak memusuhi, menunjukkan bahwa yang paling utama adalah berbuat baik itu sendiri, mewujudkan perdamaian dan persatuan.

“Akan tetapi jika mereka memusuhi sehingga membahayakan kesejahteraan agama dan negara, maka secara tegas mereka adalah musuh. Nabi juga telah memberikan anjuran membela kelompok, selama pembelaan tersebut tidak ada indikasi dosa di dalamnya,” tegas Menhan.

Pesan Soekarno dan Jenderal Soedirman

Mahasiswa baru UMJ mendengarkan pembekalan dari Menhan Ryamizard Ryacudu. (Puskom Publik Kemhan)

Menhan Ryamizard juga mengingatkan jajaran civitas akademika UMJ bahwa perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan tak lepas dari peran Muhammadiyah.   Secara usia, Muhammadiyah berdiri jauh lebih dulu dibandingkan  Indonesia.   Sehingga tidak usah heran bila kita mengatakan bahwa para tokoh, perintis dan pendiri bangsa banyak belajar dari kalangan Muhammadiyah.

“Bung Karno misalnya, beliau adalah tokoh yang lahir dari keluarga besar Muhammadiyah. Begitu pula Jenderal Soedirman, pahlawan gerilya ini adalah pendiri Hisbul Wathan yang merupakan cikal bakal Pramuka Indonesia yang merupakan organisasi Pelopor Bela Negara Indonesia,” kata Menhan.

Bung Karno pernah berpidato, “Kalau dada Soekarno ini dibelah, maka di dalamnya yang ada adalah hati Islam.” Tetapi Bung Karno sadar, bahwa republik Indonesia dibangun untuk semua. Republik Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, dan punya ikrar 28 Oktober tahun 1908 untuk menjadi satu bangsa yang bertanah air satu.

Sementara Panglima Besar Jenderal Soedirman selaku kader dan pimpinan Muhammadiyah, juga telah membuktikan peran strategisnya dalam perjuangan kemerdekaan dan mempertahankan keabsahan Indonesia Merdeka. Soedirman menjadi tokoh utama perang gerilya dan kemudian menjadi Panglima Tentara Nasional Indonesia.

Oleh karena itulah, menurut Menhan Ryamizard, peran dan andil Muhammadyah sebagai salah satu organisasi Islam mainstream di Indonesia sangatlah besar dalam memberikan kontribusi untuk mewujudkan Kemerdekaan RI.

“Di dalam DNA kalian telah mengalir nilai-nilai luhur Bela Negara yang mencerminkan semangat juang, semangat kepahlawanan  yang tinggi serta rasa cinta Tanah Air yang sangat mendalam.  Dan itu tidak perlu kita ragukan lagi,” pesan Menhan kepada para mahasiswa UMJ.

Harus disadari dan diyakini bahwa Pancasila yang telah dan akan terus membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kokoh, kuat, mandiri dan disegani sekaligus sebagai perekat bangsa.

Konsep Bela Negara dan Pancasila sebagai kekuatan Idealisme bangsa Indonesia untuk melawan kekuatan materialisme keduniawian, juga tercermin dari pidato Panglima Besar Jenderal Soedirman yang juga merupakan  ustad,  mubaligh, dan tokoh Muhammadyah pada saat beliau dilantik sebagai Panglima Tentara Komando Rakyat pada 25 Mei 1946.

Berikut pidato Jenderal Soedirman, “Hendaknya perjuangan kita harus kita dasarkan pada kesucian. Dengan demikian, perjuangan merupakan perjuangan antara jahat melawan suci.  Kami percaya bahwa perjuangan yang suci itu senantiasa mendapat pertolongan dari Tuhan.

Apabila perjuangan kita sudah berdasarkan atas kesucian, maka perjuangan ini pun akan berwujud perjuangan antara kekuatan lahir melawan kekuatan bathin.  Dan kita percaya, kekuatan batin inilah yang akan menang. Sebab, jikalau perjuangan kita tidak suci, perjuangan ini hanya akan berupa perjuangan jahat melawan tidak suci, dan perjuangan lahir melawan lahir juga, tentu akhirnya si kuat yang akan menang”.

Menhan juga mengingatkan bahwa  seluruh jajaran UMJ juga wajib mengimplementasikan Kesadaran Bela Negara di dalam dirinya. Sejalan dengan visi dan misi yang diemban Universitas Muhammadiyah Jakarta, yakni menjadikan Universitas Muhammadiyah Jakarta yang Terkemuka, Modern, Islami.(bhimo)