Menunggu Pertarungan Jokowi Versus Mega di Pilkada Jatim

September 8, 2017

Jokowi, Megawati, JK dan SBY bakal ‘berperan’ dalam Pilkada Jatim. (istimewa)

Jakarta, penamerahputih.com – Pemilihan Gubernur Jatim tahun depan berpotensi memunculkan pertarungan antara Presiden Jokowi melawan Megawati Soekarnoputri. Keduanya bisa saling berhadapan melalui representasi Khofifah yang didukung Jokowi, melawan Saifullah Yusuf yang disokong Ketua Umum PDIP.

Tanda-tanda pertarungan antara ‘Ibu Banteng’ melawan ‘Banteng Kerempeng’ –sebutan Megawati buat Jokowi saat pertama kali PDIP mendeklarasikan Jokowi sebagai kandidat presiden menjelang Pilpres 2014— tampak semakin transparan.

Megawati dan PDIP hampir pasti memberi dukungan kepada Saifullah Yusuf, petahana wakil gubernur Jatim. Sinyal dukungan dilontarkan Hasto Kristianto, Sekjen DPP PDIP, yang memastikan partainya bakal mendukung calon gubernur dari Nahdlatul Ulama.

“Bu Mega telah memerintahkan Wasekjen DPP PDIP Ahmad Basarah dan didampingi Ketua DPD PDIP Jatim Kusnadi meminta masukan kiai di Jatim,” kata Hasto.

Basarah sendiri segera menjalankan tugas partai. Pada Kamis sore kemarin, dia datang ke Ponpes Lirboyo Kediri pimpinan KH Anwar Manshur. Mewakili suara para kiai wilayah Mataraman di Jatim, KH Anwar Iskandar menyampaikan dukungan buat Gus Ipul, panggilan akrab Saifullah Yusuf.

Satu hal penting yang tidak boleh dilupakan, Saifullah Yusuf pernah menjadi anggota DPR dari Fraksi PDIP semasa Megawati menjadi Wakil Presiden dan kemudian Presiden pada 1999-2004.

Saifullah bahkan memiliki kedekatan pribadi  dengan Megawati sebagai penghubung antara Mega dengan almarhum Gus Dur. Megawati bahkan terang-terangan mengaku pernah dititipi oleh Gus Dur dua keponakannya. “Mas Dur menitipkan Imin (Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB) dan Ipul (Saifullah Yusuf),” kata Megawati  saat deklarasi Jokowi sebagai capres oleh PDIP, PKB dan Nasdem di Kantor Pusat  PDIP Lenteng Agung, Rabu (14/5/2014).

Khofifah Loyalis Jokowi

Lalu bagaimana dengan Khofifah? Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba saja ormas Projo (Pro Jokowi) Jatim menyiapkan panggung buat Khofifah di Gedung Kesenian Cak Durasim, Surabaya, pada Minggu (20/8/2017). Pada peringatan HUT ke-3 Projo yang sering disebut-sebut bakal partai milik Jokowi itu, Khofifah menjadi pembicara bersama Ketum Projo Budi Arie Setiadi dan Ketua Projo Jatim Suhandoyo.

Saat memberi sambutan, Suhandoyo menyatakan figur Khofifah dibutuhkan untuk memimpin Jatim. “Di Jawa Timur sangat membutuhkan pemikiran Ibu Khofifah Indar Parawansa. Itu yang bisa saya sampaikan,” katanya.

Sementara Budi Arie Setiadi hanya tertawa saat ditanya apakah perhelatan Projo di Surabaya itu menjadi sinyal dukungan RI-1 buat Khofifah. “No comment dulu,” kata Munik, panggilan akrabnya kepada penamerahputih.com.

Toh pada acara itu, Khofifah kepada wartawan mengamini bakal maju menjadi Gubernur Jatim. Tapi dengan catatan,  jika diizinkan oleh Jokowi. “Saat ini saya sedang membawa mandat dari Bapak Presiden. Seluruh apresiasi, support, dan dukungan saya sampaikan terima kasih,” kata Ketua Umum PP Muslimat NU itu sembari mengatakan dukungan dari parpol buatnya sudah lebih dari cukup untuk maju.

Dukungan Gerindra, Golkar dan Demokrat

Pertanyaan mendasar yang pertama harus dijawab, beranikah Jokowi melawan keputusan Mega yang mendukung Saifullah Yusuf? Jika melihat fakta bahwa Khofifah terus bermanuver mencari dukungan, tampaknya tak menutup peluang Jokowi bakal lebih percaya diri untuk ‘membangkang’ terhadap keputusan Mega.

Apalagi terkait kepentingan Pilpres 2019, sampai sejauh ini belum muncul sosok kandidat presiden yang bakal mampu menandingi Jokowi, selain rival lamanya Prabowo Subianto. Artinya, Jokowi lebih percaya diri untuk kembali maju menjadi presiden meski tanpa dukungan PDIP. Juga jangan lupa, posisi sebagai presiden bakal membuatnya lebih bebas bermanuver secara politik untuk melobi partai-partai lain untuk mendukungnya.

Nah, bagaimana peta dukungan jika Saifullah bakal berhadapan dengan Khofifah?

Saifullah sudah jelas bakal didukung oleh PKB sebagai partai pertama yang mendeklarasikan dukungan buatnya. Kemudian dia juga bakal didukung oleh PDIP.

Sementara Khofifah, partai yang telah memberi sinyal dukungan kepadanya adalah Gerindra.  Fadli Zon, Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra, menyatakan bahwa Khofifah menjadi salah satu kandidat kuat. “Itu salah satu calon yang saya kira direkomendasikan oleh DPD Gerindra Jawa Timur,” kata Fadli pada awal Agustus lalu.

Dukungan Gerindra tampaknya hampir pasti mengingat partai besutan Prabowo ini musuh bebuyutan PDIP. Jangan lupa, Gerindra dan PDIP bertarung sengit di Pilkada DKI Jakarta dan Banten beberapa waktu lalu, dengan skor kemenangan telak 2-0 buat partai berlambang kepala garuda itu. Apalagi belakangan poasca Pilpres 2014, komunikasi politik antara Jokowi dan Prabowo justru lebih baik dibanding Megawati dan Prabowo.

Partai besar berikutnya yang berpotensi mendukung Khofifah adalah Golkar. Maklum, Golkar merupakan partai pertama yang mendeklarasikan Jokowi sebagai calon presiden untuk Pilpres 2019. Elite beringin pasti menunggu ‘komando’ Jokowi untuk kepentingan Pilkada Jatim.

Selain itu, Khofifah juga diuntungkan dengan kedekatannya secara pribadi dengan Jusuf Kalla.  Sebagai Wapres dan mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar, JK saat ini pasti memiliki kekuatan di pohon beringin.

Khofifah adalah orang pertama yang mendukung JK saat pertama kali dipasangkan dengan Jokowi menjelang Pilpres 2014. Dia menyebut JK sebagai representasi kaum Nahdliyin. “Secara struktural, JK lekat dengan Mustasyar NU. Selain itu, secara historis, keluarga JK juga dikenal sebagai tokoh NU di Sulawesi,” kata Khofifah yang saat itu menjadi juru bicara pasangan Jokowi-JK.

Kemungkinan Golkar memberi dukungan kepada Khofifah juga sangat kuat, jika melihat posisi Sekjen yang dijabat Idrus Marham yang juga dekat dengan JK sebagai sesama orang Bugis. Hal baik lainnya, melalui majunya Khofifah di Pilkada Jatim, hubungan Jokowi-JK yang selama ini dikabarkan beku bisa kembali cair.

Lalu partai mana lagi yang berpeluang mendukung Khofifah? Jangan lupakan Demokrat yang tak lain partai asal Gubernur Jatim Soekarwo. Meski dua kali Saifullah bergandeng tangan dengan Pakde Karwo di Pilkada Jatim 2008 dan 2013, tak ada jaminan Demokrat bakal mendukung Gus Ipul. Sebab bagaimanapun juga, keputusan dukungan ada di tangan SBY sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat.

Khofifah tampaknya justru diuntungkan dengan adanya pertemuan antara Gibran Rakabuming Raka, putra Presiden Jokowi, dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), di Istana Negara, pada Kamis (10/8/2017). Agus saat itu datang untuk mengundang Presiden Jokowi dan putra-putrinya untuk hadir pada pembukaan The Yudhoyono Institute.

Pertemuan Gibran dan AHY yang dilakukan di Istana, tentu menyiratkan adanya upaya kembali membangun komunikasi politik antara SBY dan Jokowi. Belum lagi hadirnya SBY dan Ani Yudhoyono ke Istana pada peringatan HUT RI ke-72. Memang terlalu jauh untuk menyebut kepentingan Pilpres 2019 seperti memasangkan Jokowi-AHY, namun tak menutup kemungkinan bakal berdampak pada perhelatan Pilkada Jatim.

Jika melihat peta kemungkinan dukungan di mana Gus Ipul didukung PKB dan PDIP, sementara Khofifah disokong Gerindra,Golkar dan Demokrat, pertarungan antara keduanya bakal seru. Apalagi ada embel-embel pertarungan Megawati melawan Jokowi di belakangnya.

Tampaknya bakal terulang ketatnya persaingan di Pilkada Jatim tahun 2008 dan 2013. Lagi-lagi Gus Ipul yang saat itu di posisi calon wagub harus bertarung melawan Khofifah. Bedanya, kali ini dia harus berhadapan langsung dengan Khofifah sebagai sesama calon gubernur.(bhimo)