Brigjen TNI Totok Sugiharto: Saya Bangga Jadi Prajuritnya Jenderal Ryamizard

September 12, 2017

Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Totok Sugiharto, S.Sos. (bhimo)

Jakarta, penamerahputih.com Salah satu kunci sukses program Bela Negara yang dicanangkan Menteri Pertahanan Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu tak lain sosialisasi secara masif kepada masyarakat.  Kini, tugas berat itu diamanatkan kepada Brigjen TNI Totok Sugiharto (53) yang menjabat  Kepala Pusat Komunikasi Publik (Kapuskom Publik) Kementerian Pertahanan (Kemhan) sejak 12 April 2017.

“Kami membuat slogan-slogan Bela Negara yang kemudian disebar melalui Twitter, FB, termasuk website Kemhan. Di era sosial media seperti ini, tentu saja kami harus menyesuaikan diri mengikuti teknologi komunikasi dan informasi,” kata Brigjen TNI Totok Sugiharto saat ditemui di kantornya, Senin (11/9/2017).

Untunglah, alumni Akmil tahun 1988 itu, sudah banyak belajar menjalankan tugas menyebar informasi sekaligus menggagas  opini saat menjabat Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) V Brawijaya pada 2012-2015.

Meski piawai membangun opini dan menjalin komunikasi dengan media, bapak dua anak kelahiran Madiun tahun 1964 itu sejatinya seorang prajurit tempur. Sejak lulus Akmil, Totok yang pangkatnya menembus Brigjen pada 31 Mei 2017, bertugas di Batalyon Armed VIII Kostrad di Jember.

Setelah itu, masa pengabdian dijalaninya di beberapa batalyon Kostrad, hingga pada tahun 2002 dipercaya menjadi Kepala Staf Kodim 0830 Surabaya Utara. Kariernya terus melejit. Setelah itu menjabat Komandan Detasemen Markas (Dandenma) Kodam V/Brawijaya,  Dandenma Kodam Jaya, kemudian Komandan Kodim 0832 Surabaya Selatan.

Pangkatnya menjadi Kolonel saat menjadi Kapendam V/Brawijaya. Setelah itu, Totok ditarik ke Kemhan untuk membantu bidang opini Puskom Publik. Selanjutnya pada 12 April 2017, dia pun dipercaya memimpin Puskom Publik.

Sebagai prajurit Kostrad, Totok tentu saja memiliki kesan mendalam terhadap Jenderal Ryamizard yang pernah menjabat Pangkostrad. “Beliau orangnya jujur dan apa adanya. Tidak menutup-nutupi dan tidak suka berpolitik,” katanya. Berikut wawancara wartawan penamerahputih.com Kukuh Bhimo Nugroho dengan Brigjen Totok:

Apa peristiwa paling berkesan selama bertugas menjadi prajurit TNI?

Alhamdulillah, dilantik menjadi Brigjen pada 31 Mei 2017 bertepatan ulang tahun saya ke-53. Begitu luar biasa. Itu anugerah dari Allah SWT yang tak terlupakan. Tentu juga berkat ibu kandung saya Sri Susini (79) yang terus berdoa buat kami anak-anaknya.

Pernah terbayang bakal menjadi jenderal?

Waduh, gak pernah terbayang. Yang saya tahu, saya mengabdi menjadi prajurit dan yang penting pangkat saya bisa lebih tinggi dari almarhum Bapak yang bintara TNI AU berpangkat Peltu. Hahaha…

Sejak kapan ingin jadi tentara?

Saat  ada taruna-taruna Akmil yang sosialisasi di SMA. Saya langsung membayangkan betapa senangnya bisa jadi taruna. Begitu lulus SMA Santo Bonaventura Madiun tahun 1984, saya dipanggil Bapak. ‘Kamu mau masuk mana Le (tole = sebutan Jawa bagi anak laki-laki)?’ Saya jawab ingin jadi tentara. Bapak kemudian bilang, kamu boleh jadi tentara, tapi jangan jadi polisi. Kalau itu, lebih baik kamu kuliah. Itu pesan Bapak. Hahaha…

Apa kenangan saat mendaftar Akmil?

Kebetulan sebagai cadangan, saya ingin masuk ITS. Saya beli buku latihan soal dari Ganesha. Saya pelajari sampai hafal semua jawabannya. Alhmdulillah ternyata materi yang diujikan saat tes masuk Akmil di Magelang banyak dari buku tersebut. Mulai matematika, IPA, hingga Bahasa Inggris. Padahal saya sudah hafal luar kepala.

Apa kesan saat lulus Akmil?

Tahun 1988 lulus dan dilantik menjadi Letnan Dua. Bapak diolok sama teman-temannya, ‘Hei Prapto, kamu harus hormat sama anakmu. Dia kan perwira, kamu cuma Peltu.’ Bapak bilang, ‘Tidak mau, itu anakku koq disuruh hormat segala.’ Hahaha…

Begitu lulus Akmil tugas di mana?

Saya ditempatkan di Batalyon Armed VIII Kostrad di Jember. Di situ ketemu jodoh. Saya menikahi Jamilatul Qomariyah (50) pada November 1990. Jadi saya buka kartu ya, 75 persen teman angkatan di Akmil dapat jodoh sesuai Skep Penugasan pertama dari KSAD. Kalau dinas di Manado ya dapat orang Manado. Di Jakarta ya ketemu jodoh orang Jakarta. Lha saya di Jember, ketemu jodohnya orang Jember kelahiran Sumenep Madura.

Dua tahun kemudian, pada 4 April 1992 lahir Ayu Fitria Anggraini. Sekarang mahasiswi  Fakultas Psikologi Unair. Kemudian 23 Mei 1996, saat berdinas di Batalyon Armed XII di Ngawi, lahir Anggriawan Laras Sugiharto yang kini juga mahasiswa Sastra Unair.

Jadi masa dinas Anda lebih banyak di Batalyon Kostrad?

Iya, saya memang dibesarkan di Kostrad. Pernah tugas jadi Komandan Baterai Tempur C, Pussen Art, hingga Wadanyon  Armed X di Ciluer Bogor.  Saat mayor pernah menjadi pelatih di Peleton Intai Tempur (Tontaipur) di Sanggabuana, tempat latihan Kostrad.

Tontaipur itu pasukan elite Kostrad. Dibentuk oleh Pangkostrad Letjen Ryamizard tahun 2001 untuk memenangkan pertempuran jenis apapun. Setiap batalyon Kostrad di seluruh Indonesia, pasti ada Tontaipurnya. Kalau ditugaskan selalu berhasil. Kelebihannya, satu prajurit Tontaipur setara dengan lima prajurit komando kewilayahan.

Jangan lupa, pada tahun 2003, Jenderal Ryamizard saat menjadi KSAD juga membentuk Batalyon Raider, pasukan elite antiteror yang kini dimiliki oleh seluruh Kodam. Misalnya Batalyon 500 Raider di Kodam V Brawijaya.

Apa prinsip hidup yang Anda pegang?

Saya selalu ingat pesan Ibu. ‘Le, menjabat di manapun, kamu jangan pernah korupsi.’ Itu saya pegang teguh. Saya bisa seperti saat ini, berkat doa dan keikhlasan Ibu.

Makanya saya selalu sampaikan kepada anak buah, kalau kalian masih punya orang tua, berbaktikah sebesar dan setulusnya kepada orang tua. Buatlah orang tuamu senang. Kalau orang tuamu senang, Tuhan pasti juga akan senang. Kalau Tuhan senang, hidupmu pasti juga akan senang. Pak Menhan juga sampaikan seperti itu, kalau kita membuat Tuhan senang, Tuhan juga akan membuat kita senang.

Anda tampaknya sangat terkesan dengan Jenderal Ryamizard?

Saya bangga menjadi prajuritnya Jenderal Ryamizard. Beliau santun, jujur apa adanya, tidak menutup-nutupi dan tidak suka berpolitik. Beliau menyampaikan sesuatu secara praktis dan mudah dimengerti oleh seluruh prajuritnya. Contohnya saat Pangkostrad, beliau pernah sampaikan, kesejahteraan utama bagi prajurit adalah berlatih. Berlatih segala-galanya. Dengan berlatih, kita menjadi prajurit profesional, memiliki jiwa juang yang luar biasa yang tidak dimiliki prajurit negara lain.

Apa hal lain yang berkesan tentang Ryamizard?

Saat ini kita semua pasti akrab dengan slogan ‘NKRI Harga Mati’. Kalimat itu juga dicetuskan Pak Ryamizard Ryacudu saat menjabat KSAD. Sekarang slogan itu ditulis di seluruh markas batalyon-batalyon se-Indonesia.

Artinya saat ini sebagai Kapuskom Publik, Anda kembali menjadi prajuritnya Jenderal Ryamizard di medan tempur yang lain?

Tentu saja saya harus ikut menyukseskan program Bela Negara. Untuk soal Bela Negara, beliau pernah mencontohkan Israel yang penduduknya cuma 8 juta. Tapi pada saat negaranya genting, seluruh warganya angkat senjata. Coba bayangkan kalau itu terjadi di Indonesia yang berpenduduk 250 juta lebih. Tidak akan ada negara yang bisa mengalahkan kita. Jiwa militan, patriotisme, rasa cinta tanah air, tak akan bisa dikalahkan oleh kekuatan senjata manapun.

Bagaimana Anda melihat pemberitaan media massa saat ini?

Pemberitaan media massa melalui teman-teman wartawan saya lihat sudah berimbang. Mereka menyampaikan apa adanya sesuai fakta. Kalau baik mereka bilang baik. Kalau kurang mereka juga sampaikan apa adanya. Saya bangga bisa bekerja sama dengan teman-teman wartawan dan saya berharap bakal semakin baik ke depannya.

Kapan Bela Negara mulai dicetuskan?

Semenjak Pak RR (Ryamizard Ryacudu) menjadi Menhan, beliau canangkan program utama Bela Negara. Saat ini sekitar 70 juta warga negara Indonesia sudah ikut Bela Negara. Target Menhan, pada tahun 2024 nanti harus lebih dari 100 juta warga negara sudah ikut pelatihan Bela Negara.

Bagaimana keseriusan RR soal keberhasilan program Bela Negara?

Pak Menhan RR turun langsung memberikan pengajaran Bela Negara kepada mahasiswa hingga santri. Beliau sangat antusias menyosialisasikan Bela Negara. Diundang ke manapun, beliau pasti hadir. Semangatnya luar biasa. Banyak intelektual, akademisi dan alim ulama yang segan terhadap beliau. Mudah-mudahan ke depan banyak orang seperti beliau agar Indonesia lebih maju.(*)