Puspa Agro Jatim Optimis Omzet Rp 400 Miliar di Akhir Tahun

September 25, 2017

Dirut PT Puspa Agro Abdullah Muchibuddin (tengah) dan Kepala Humas Suhartoko (kanan). (sha)

Surabaya, penamerahputih.com –  Pasar Induk Modern Agrobis PT Puspa Agro milik Pemprov Jatim makin meunjukkan perannya dalam membantu meningkatkan nilai tambah bagi petani di Jatim. Sepanjang semester I 2017, divisi Trading House mencetak omset  Rp 234,66 miliar dan diprediksi bakal tembus Rp 400 miliar di akhir tahun.

“Kami terus memaksimalkan peran ekonomi Puspa Agro sebagai pusat perdagangan sektor agro dan menjadi barometer di Indonesia. Salah satunya lewat salah satu sayap bisnis kami, yakni Trading House. Kami juga terus mengupayakan untuk meningkatkan pengelolaan pasar induk dan sektor lainnya untuk memaksimalkan kinerja Puspa Agro,” kata Dirut PT Puspa Agro, Abdullah Muchibuddin, di kantornya, beberapa waktu lalu.

Menurut Muchibuddin, unit Trading House memang dioperasikan guna memaksimalkan serapan hasil panen petani –termasuk nelayan dan peternak– di Jatim. Tujuannya memberi nilai tambah bagi petani. Puspa Agro kemudian mendistribusikan berbagai hasil panen petani tadi ke mitra-mitra bisnisnya.

Saat pertama unit Trading House beroperasi pada pertengahan 2014, serapan terhadap hasil panen petani, nelayan, dan peternak di Jatim tercatat 780 ton dengan nilai transaksi Rp 14,37 miliar. Kemudian 2015, meningkat drastis menjadi Rp 78 miliar dari total volume 5.485 ton. Selanjutnya 2016, mengalami lonjakan lebih signifikan dengan serapan 33.268 ton dengan nilai Rp 279,12 miliar.

“Pada tahun ini, kinerja Trading House dipastikan melampaui capaian tahun lalu. Hingga semester l (Januari-Juni), serapan hasil panen petani tercatat 30.946 ton dengan nilai Rp 234,66 miliar. Kami prediksi omzet Trading House mampu menembus angka Rp 400 miliar di akhir tahun nanti,” lanjut Muchibuddin yang didampingi Suhartoko, Kepala Humas Pupsa Agro.

Melentingnya nilai transaksi hingga Rp 234,66 miliar didominasi komoditas bahan pokok seperti beras, jagung, kopi, ikan, ayam frozen, telor, serta daging. Beras mendominasi nilai transaksi dengan capaian Rp 227,02 miliar dari volume 30.468 ton. Disusul gula sebanyak 12 ton dengan nilai Rp 192,35 juta.

Beras Merek Puspa Agro

Sementara menurut Suhartoko, Puspa Agro terus melakukan terobosan pemasaran melalui kerja sama strategis dengan PT Perusahaan Perdagangan lndonesia (Persero). Tujuannya perluasan pasar karena Puspa Agro maupun Perusahaan Perdagangan Indonesia memiliki segmen dan sasaran pasar yang berbeda.

Kerja sama juga dilakukan dengan PT Bulog Divre Surabaya Selatan untuk menyerap beras petani di kawasan Mojokerto, Jombang dan sekitanya. Kerja sama juga dijalin dengan perusahaan-perusahaan katering skala nasional yang biasa melayani perusahaan-perusahaan pengeboran minyak, seperti PT Pangansari Utama yang memenuhi permintaan katering Freeport.

Kerja sama dengan Rumah Sakit PHC dijalin melalui anak perusahaannya PT Prima Citra Nutrindo guna melayani sekitar 20 rumah sakit di Surabaya.

Sedangkan untuk pemasaran aneka jenis ikan, Puspa Agro menjalin kerja sama dengan BUMN PT Perikanan Nusantara. Juga dengan pengelola pasar di berbagai provinsi di Indonesia.

Puspa Agro juga bekerja sama dengan Universitas Brawijaya Malang terkait dengan pemberdayaan petani. Mulai dari penelitian, studi  peningkatan produksi, hingga pemasaran komoditas yang dihasilkan petani. “Hasilnya melahirkan produk beras dengan merek Puspa Agro yang siap dikonsumsi masyarakat,”  kata Suhartoko.(sha)