Puspa Agro, Jujugan Studi Banding Pasar Induk Berbagai Pemprov dan Pemda

Oktober 13, 2017

Kunjungan Pemkab Deli Serdang, Sumut, ke Puspa Agro.

Sidoarjo, penamerahputih.com – Seperti gadis cantik yang memiliki daya pikat kuat bagi perjaka. Begitulah gambaran manajemen Puspa Agro saat ini. Sebagai perusahaan yang concern terhadap peningkatan pendapatan petani dan memosisikan sebagai pusat perdagangan agro, Puspa Agro menjadi jujugan atau tujuan studi banding dari para pengelola badan usaha milik daerah (BUMD) di berbagai provinsi.

September 2017 merupakan bulan padat kunjungan bagi Puspa Agro. Tujuan mereka relatif sama, yakni  studi banding untuk mengadopsi konsep pemberdayaan petani dan pengembangan bisnis sektor agro yang selama ini dilakukan Puspa Agro.

Pada Kamis (7/9/2017), misalnya, dalam waktu bersamaan dua utusan pemerintah provinsi, yakni Sumatera Utara (Sumut) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) mengunjungi Puspa Agro. Mereka bermaksud menimba pengetahuan dan pengalaman dalam mengelola BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) berbasis pertanian atau agro.

Pemprov Sumut sedang menyiapkan pembentukan BUMD yang akan mengelola dan mengembangkan bisnis agro. Sementara Pemprov Kalteng telah memiliki BUMD,  namun masih butuh support untuk mengembangkannya secara optimal. Untuk maksud itulah, mereka studi banding ke Puspa Agro.

Lalu di penghujung bulan, tepatnya Jumat (29/9/2017), dua instansi, yakni DPRD Kabupaten Mojokerto dan Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan juga bertandang ke Puspa Agro untuk studi banding. Mereka diterima langsung oleh Dirut PT Puspa Agro, Abdullah Muchibuddin.

Berbagai hal terkait dengan pengelolaan dan pengembangan bisnis agro didiskusikan dalam forum ini, di antaranya dari aspek legal formal pendirian perusahaan, optimalisasi peran ekonomi untuk meningkatkan nilai tambah petani, termasuk kontribusi untuk menahan laju inflasi. Sebelumnya, beberapa Pemprov di Sulawesi dan Irian juga berkunjung ke Puspa Agro untuk maksud yang sama. Demikian juga Pemprov Sumatera Barat, Riau, dan Sumatera Selatan.

Winajat, pimpinan rombongan DPRD Mojokerto, mengungkapkan, selama ini ada problem mendasar yang sering dialami petani. Misalnya kecenderungan jatuhnya harga ketika musim panen. Hal ini terjadi, bisa saja karena tidak adanya pemetaan tentang potensi daerah oleh pemerintah atau pihak yang berkepentingan dengan pengelolaan dan pengembangan komoditas yang diproduksi oleh petani.

“Petani sering gigit jari karena harga kurang berpihak kepada mereka saat panen tiba. Karena itu, sebelum masa tanam, perlu adanya mapping tentang potensi daerah, baik oleh pemerintah maupun swasta yang peduli dengan petani, termasuk bagaimana masalah pemasarannya. Itulah sebabnya, kami ingin belajar ke Puspa Agro yang sudah punya pengalamanan,” katanya.

Sementara Agus Takaryawati, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulawesi Selatan mengatakan, secara umum Sulawesi Selatan memiliki potensi kuat di bidang pertanian atau agro. Bahkan pada waktu-waktu tertentu, sejumlah komoditas yang dihasilkan petani over supply. Kini pihaknya mencari mitra kerja sama untuk mengembangkan potensi agro.

“Kalau ada potensi bisnis yang bisa dikerjasamakan dengan Puspa Agro, kami dengan senang hati siap melakukannya. Barang apa yang bisa kami bawa ke sini, juga apa yang bisa dikirim ke daerah kami, mari kita garap bersama,” katanya.

Dirut Puspa Agro Abdullah Muchibuddin menyambut baik peluang kerja sama dengan beberapa daerah. Apalagi penguatan jejaring bisnis mesti dilakukan, di antaranya dengan saling tukar informasi tentang potensi yang dimiliki masing-masing pihak. Puspa Agro, lanjut Udin, selama ini juga telah memasok sejumlah komoditas ke perusahaan-perusahaan di berbagai daerah di Indonesia Timur.

“Kalau kerja sama antar-BUMD bisa kita lakukan dengan baik, maka hasilnya tidak saja bermanfaat buat petani, tetapi juga bisa membantu pemerintah dalam menstabilkan harga dan menahan laju inflasi,” katanya. (*)