Dituding Bakal Rusak Lingkungan, Pabrik Semen Rembang Buktikan Peduli Hutan

Oktober 26, 2017

 

Bupati Rembang Abdul Hafidz (berpeci) melihat rumput raja saat peluncuran proyek IFFS, di Kantor Perhutani KPH Mantingan. (mataairradio.com)

Rembang, pmp – Meski belum diizinkan menambang di areal Izin Usaha Penambangan (IUP) yang dimiliki, pabrik semen Rembang milik PT Semen Gresik (PTSG) terus menunjukkan kepedulian menjaga lingkungan. Mereka bakal menanami areal hutan seluas 50 hektare di sekitar pabrik dengan rumput raja (king grass) agar hutan menjadi lebih produktif dan bisa dimanfaatkan petani dan masyarakat sekitar hutan.

Saat ini, pabrik semen Rembang memang harus membeli batu gamping dari penambang swasta di sekitar pabrik untuk berproduksi, sembari menunggu keluarnya hasil dari Tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Pegunungan Kendeng.

Baca : Geolog ITB Nilai Positif KLHS Kendeng Berdasarkan Scientific Finding

Meski terhambat dalam proses produksi karena dituding bakal merusak lingkungan oleh beberapa kelompok, PTSG yang merupakan anak perusahaan BUMN PT Semen Indonesia (Persero) Tbk ternyata justru menunjukkan pentingnya menjaga lingkungan.

PTSG menggandeng Perum Perhutani membuat proyek Integrated Forest Farming System (IFFS) yang diluncurkan di KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) Mantingan, Rembang, pada Rabu (18/102017).

Proyek IFFS adalah budi daya rumput raja yang memadukan pengelolaan hutan, pertanian dan industri. Tujuannya mengoptimalkan areal hutan di sekitar pabrik semen Rembang agar lebih produktif.

Rencananya areal hutan seluas 50 hektare bakal ditanami rumput raja. Pada saat peluncuran, areal seluas 14,7 hektare sudah ditanami. Meliputi tiga desa di Kabupaten Rembang, yaitu Desa Kajar dan Pasucen Kecamatan Gunem, serta Desa Kadiwono Kecamatan Bulu.

Bupati Rembang Abdul Hafidz memberi apresiasi proyek IFFS karena bakal memberi pengaruh positif terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Ia juga berharap agar proyek IFFS bisa berjalan efisien, sehingga energi terbarukan dapat segera terpenuhi.

“Karena sumber energi gas di dunia ini semakin menipis. Bahkan penelitian oleh pakar energi menyebutkan, pada tahun 2054 energi gas di dunia sudah habis. Itu menurut paparan dari para pakar-pakar energi,” kata Bupati Abdul Hafidz saat peluncuran IFFS.

Tingkatkan Pendapatan Masyarakat

Direktur Utama PTSG Gatot Kustyadji menyambut positif sinergi antara pihaknya dengan Perum Perhutani dan KPH (Kesatuan Pengelolaan Hutan) Mantingan Divisi Regional Jateng. Melalu program IFFS di tiga Desa Kajar, Pasucen dan Kadiwono dapat memberikan manfaat bagi masyarakat lokal. ”IFFS sebenarnya tugas bersama berbagai pihak dalam menjaga hutan. Dan kami sudah merumuskannya sejak awal membuat pabrik,” katanya.

Sementara menurut Kepala Proyek Pabrik Semen Rembang Heru Indrawijayanto, penanaman rumput raja bertujuan menjadikan areal hutan lebih produktif. Selain itu, bisa menciptakan sumber energi terbarukan.

Batang rumput raja nantinya bisa diolah menjadi etanol. Daunnya bisa dimanfaatkan para petani sebagai pakan ternak sapi dan kambing. Selanjutnya kotoran sapi dan kambing bisa dimanfaatkan menjadi biogas pengganti elpiji.

Setiap hektare rumput raja akan menghasilkan 99 ton batang rumput. Jika diolah di pabrik etanol, bakal menghasilkan 80 ribu liter etanol. Sementara ampas dari pengolahan batang rumput tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan bakar pengganti batu bara.

Guna memenuhi target penanaman 50 hektare lahan hutan di Kabupaten Rembang, diperlukan 20 ribu bibit stek per hektare atau total 100 ribu bibit.

Administratur KPH Mantingan Joko Santoso meyakini proyek IFFS mampu meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan.

“IFFS ini secara tidak langsung mengoptimalkan fungsi kawasan hutan dengan budi daya rumput raja. Program yang memadukan antara pengelolaan hutan, pertanian, perternakan, dan industri ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar hutan,” tegasnya.(bm)