Inilah 12 Kerugian Jika Pabrik Semen Rembang Ditutup

November 1, 2017

Pabrik semen Rembang. (bhimo)

Jakarta, pmp – Pabrik semen Rembang milik PT Semen Gresik -anak perusahaan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk- hingga saat ini belum bisa melakukan penambangan di areal Izin Usaha Penambangan (IUP) yang mereka miliki. Profesor Hermawan Sulistiyo MA PhD, peneliti utama LIPI, pernah melansir kajian tentang kerugian jika pabrik semen Rembang ditutup.

“Hasil kajian dampak penutupan semen Rembang itu masih sangat relevan sampai saat ini,” kata Ir Djuni Thamrin MSc PhD, pengamat kebijakan publik yang ikut terlibat dalam kajian tersebut, pada Rabu (1/11/2017).

Kajian berjudulKerugian Jika Pabrik Semen Rembang Ditutup’ itu memamaparkan 15 dampak yang merugikan jika pabrik semen milik perusahaan BUMN itu ditutup oleh pemerintah pusat.

Apakah mungkin pabrik semen Rembang yang dibangun dengan investasi Rp 4,9 triliun itu ditutup? Tentu saja sangat bergantung kepada kebijakan Presiden Jokowi.  Saat ini, Tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) bentukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sedang melakukan kajian untuk Pegunungan Kendeng. Hasil rekomendasi Tim KLHS menjadi kunci kebijakan pemerintah pusat terkait pabrik semen Rembang karena IUP semen Rembang berada di dalamnya.

Berikut 12 dampak di antara 15 dampak hasil kajian tersebut:

  1. Hilangnya peluang dan kesempatan penduduk Rembang untuk hidup lebih sejahtera. Kawasan di sekitar pabrik semen Rembang termasuk daerah termiskin di Kabupaten Rembang. Sedangkan Kabupaten Rembang sendiri, menurut data BPS 2015, merupakan kabupaten termiskin ke-4 di Jawa Tengah dengan jumlah penduduk lebih dari 119 ribu jiwa.
  2. Hilangnya kesempatan kerja bagi 350 tenaga berkeahlian (skilled workers), serta 1.698 tenaga jika pabrik beroperasi (organik, anak perusahaan, mitra kerja, mitra binaan dan pemberdayaan warga).
  3. Hilangnya kesempatan bagi remaja Rembang untuk mengenyam pendidikan dan pelatihan di perguruan tinggi vokasional Akademi Komunitas Semen Indonesia (AKSI) Rembang. Akademi yang diinisiasi PT Semen Indonesia (PTSI) ini menyiapkan generasi muda Rembang agar menjadi tenaga kerja berkeahlian.

Baca juga: Peduli SDM di Rembang, Akademi Komunitas Semen Indonesia Serap 121 Mahasiwa Lokal

  1. Hilangnya peluang masyarakat Rembang memiliki rumah yang layak. Pada 22 Februari – 21 Mei 2016, program CSR PTSI telah melakukan ‘bedah rumah’ untuk 30 unit rumah warga yang tak layak huni. PTSI telah berkomitmen melakukan bedah rumah bagi 30 unit rumah setiap tahunnya.
  2. Hilangnya kesempatan memperoleh pendidikan yang lebih layak bagi anak-anak warga setempat. Program CSR PTSI sudah memulai program beasiswa bagi murid berprestasi sejak 2014.
  3. Hilangnya peluang usaha kemitraan di Rembang. Sampai akhir 2016, PTSI telah menggandeng 523 mitra binaan UMKM yang melibatkan 800 tenaga kerja. Dana yang digulirkan telah mencapai Rp 11 miliar.
  4. Hilangnya kesempatan memperoleh air bersih. Melalui program CSR, PTSI telah membangun tandon air di Desa Kajar dan Desa Pasucen Kecamatan Gunem untuk menampung air dari sumber mata air yang terletak 1 km dari desa. Proyek pipanisasi dan pembuatan tandon ini menelan biaya Rp 670 juta. PTSI telah berkomitmen memperluas jaringan pipanisasi.
  5. Lenyapnya uang negara sebesar Rp 4,9 triliun yang merupakan nilai investasi pabrik semen Rembang.
  6. Potensi susulan kerugian negara akibat hilangnya Rp 4,9 triliun yang diinvestasikan untuk pabrik semen Rembang, tak lain bakal tergerusnya nilai saham PTSI yang merupakan perusahaan terbuka atau Tbk yang sebagian sahamnya dimiliki masyarakat.
  7. PTSI adalah perusahaan BUMN. Artinya, PTSI menjadi andalan untuk menghadapi gempuran semen asing yang saat ini bermunculan di Indonesia. Baca juga : Kenapa Semen Rembang Begitu Menakutkan Bagi Semen Asing
  8. Pada saat ini memang tersedia stok cadangan semen nasional sebesar 30 juta ton yang bakal habis dalam jangka waktu 5 tahun-15 tahun. Penutupan semen Rembang sama saja membantu semen asing berkembang karena praktis mereka tidak memiliki kompetitor nasional.
  9. Kontribusi pajak dan pendapatan daerah senilai Rp 2,1 triliun bakal menguap. Angka itu dihitung berdasarkan harga semen Rp 700 ribu per ton dikali kapasitas produksi semen Rembang sebesar 3 juta ton per tahun.(bhimo)