Wabup Bayu: Menangis Kalau Rembang Dibandingkan Kabupaten Lain untuk Kemiskinan

November 21, 2017

Wakil Bupati Rembang Bayu Andriyanto. (dok pribadi)

Rembang, pmpRembang memiliki warga miskin sekitar 120 ribu dari 650 ribu jiwa, serta  pengangguran 17 ribu orang. Wakil Bupati Bayu Andriyanto sedih ketika Rembang dibandingkan kabupaten lain untuk kemiskinan.

“Rasanya mau menangis kalau Rembang dibandingkan dengan kabupaten lain hanya untuk masalah kemiskinan. Padahal kita bisa dan mampu untuk bersama-sama keluar dari kemiskinan,” kata Wabup Bayu yang juga Ketua Tim Koordinator Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Kabupaten Rembang kepada penamerahputih.com, awal November lalu.

Pemkab Rembang memang terus bebenah. Mereka berupaya mengurangi dampak lain dari kemiskinan, seperti keberadaan Rumah Tak Layak Huni (RTLH) yang mencapai 25 ribu. Termasuk kebiasaan tak sehat penduduk untuk Buang Air Besar Sembarangan (BABS).

Belum lagi memerangi tradisi buruk perkawinan dini warga yang hidup di desa-desa miskin pinggir hutan dan perbukitan seperti Kecamatan Gunem. Desa-desa yang kebetulan berada di sekitar areal pabrik semen Rembang milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

Bayu mengaku sangat terbantu dengan keberadaan investor yang masuk ke Rembang. Salah satunya PT Semen Gresik, anak perusahaan Semen Indonesia. Dia pun berharap bakal makin banyak investor masuk.

“Saya mohon para entrepreneur dan investor membuka kesempatan buat warga dengan membuka usaha di sini,” harapnya. Berikut wawancaranya:

Bertemu dengan warga.(dok pribadi)

Berapa sebenarnya angka kemiskinan di Rembang?

Kalau dari sisi angka, warga miskin di Rembang sebanyak 18,5 persen dari total penduduk yang hampir 650 ribu jiwa. Artinya ada sekitar 120.250 jiwa warga miskin.

Apa yang sudah Anda ikhtiarkan sebagai Ketua TKPK Rembang?

Pak Bupati Abdul Hafidz dan saya punya misi mengurangi angka kemiskinan setidaknya mendekati angka provinsi Jateng 13 persen. Kalau sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) lima tahun, targetnya 11,5 persen.

Saya melakukan rapat dengan seluruh SKPD, 14 camat, Paguyuban Kades, atau Bappeda. Hal pertama yang harus kami lakukan adalah faktualisasi data agar warga miskin terdeteksi by name by address. Tujuannya agar program kemiskinan seperti Jamkesmas, RTLH, atau BPJS tepat sasaran.

Kita juga putuskan bahwa kemiskinan masalah krusial. Kalau kita punya semangat membangun Rembang bangkit menuju masyarakat yang sejahtera dan madani, kita harus merasa bersalah kalau kemiskinan tetap tinggi.

Target riilnya?

Mengurangi pengangguran 17 ribu orang. Memugar 25 ribu RTLH. Seluruh SKPD kami beri tugas melakukan pendampingan ke desa-desa yang berwarna merah di 14 kecamatan. Mereka mendampingi hingga Musrembangdes. Agar alokasi program dana desa yang nilainya Rp 1,4 miliar terarah. Alokasi membangun infrastruktur atau pemberdayaan masyarakat harus tepat. Bahkan Bupati siap keluarkan Perbup untuk pastikan alokasi dana desa lebih terarah.

Bukankah tak mudah memugar 25 ribu RTLH?

Makanya kita juga arahkan agar setiap desa mempergunakan dana desa untuk memugar 10 rumah, tiap rumah Rp 10 juta. Kalau satu desa perbaiki 10 rumah, berarti kalau ada 294 desa sudah hampir 3.000 rumah.

Kami optimis mampu. Pemkab perbaiki 5.000 rumah, desa perbaiki 3.000 rumah. Total sudah 8.000 rumah.  Artinya bakal tuntas dalam tiga tahun. Untuk tahun 2017, Pemkab mendapat dukungan dari PTSG yang memperbaiki RTLH di desa-desa sekitar pabrik. Jadi kita ingin benar-benar keluar dari kemiskinan. Dan ini tugas bersama pemerintah, partipasi masyarakat, juga perusahaan-perusahaan.

Ikut terlibat dalam Forum Rembug Rembang. (dok Forrem)

Apa sebenarnya penyebab utama kemiskinan di Rembang?

Sumber daya alam di Rembang ini luar biasa. Mulai dari tambang sampai laut, semua kaya akan hasil. Rata-rata warga yang miskin, secara faktual adalah mereka yang hidupnya di tepi hutan dan yang hidup dari pertanian. Anda perlu tahu, pertanian di Rembang mengandalkan tadah hujan. Hanya beberapa kecamatan yang bagus untuk pertanian.

Masyarakat di pegunungan itu mengikuti tradisi orang tuanya. Misalnya sesegera mungkin bekerja dan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Padahal orang tuanya hanya bekerja serabutan. Bekerja kalau ada yang nyuruh. Kemudian ada tradisi di usia 17 tahun harus nikah. Kalau gadis biar tidak disebut perawan tua. Padahal secara mental belum siap menikah, sementara kerjanya serabutan. Wajar kalau hidupnya jadi miskin. Permasalahannya kompleks.

Bagaimana mengatasi persoalan itu?

Melihat pola hidup masyarakat itu, saya mohon para entrepreneur dan investor membuka kesempatan buat masyarakat dengan membuka usaha di sini. Kita sudah mengeroyok bersama para investor untuk meningkatkan kesejahteraan warga.

Baca juga: Investasi Bakal Suram Jika Pabrik Semen Rembang Tak Diberi Izin

Saya juga bargaining perusahaan-perusahaan untuk membantu menggunakan SDM lokal. Saya minta perusahaan bersedia menerima 70 persen karyawannya dari warga Rembang. Kalau pun mensyaratkan tenaga yang punya skill, mereka harus siapkan pelatihan sebelum melakukan penerimaan karyawan.

Apakah semua perusahaan bersedia?

Begitu mereka mengurus perizinan, kami sudah tetapkan persyaratan tadi. Kita juga tidak ingin warga Rembang hanya jadi tenaga kasar. Memang kemiskinan problem yang tak mudah.

Tak bisa menolak diajak selfie warganya. (dok pribadi)

Bagaimana realisasi kepedulian investor yang sudah masuk?

Contohnya pabrik semen Rembang, terlepas pro dan kontra, saya lihat manfaatnya saja. Dana CSR dari PTSG hampir Rp 20 miliar. Itu pun tiap tahun terus naik. Bahkan mereka memberi pelatihan dan mendirikan Akademi Komunitas Semen Indonesia (AKSI). Sementara dari sisi lapangan kerja, PTSG punya 13 anak perusahaan.

Baca juga: Peduli SDM di Rembang, Akademi Komunitas Semen Indonesia Serap 121 Mahasiswa Lokal

Apa hal penting yang harus direalisasi?

Perlu ada diskusi atau gathering antara Pemda, PTSG, dan pengusaha lainnya untuk segera mengaktifkan Kadin Rembang. Kadin akan mewakili pelaku-pelaku usaha di Rembang agar sinergi dengan Pemkab makin optimal.

Sepertinya Anda harus tularkan semangat ke banyak pihak di Rembang?

Lho, kita punya semangat, kita punya impian. Saya hanya ingin menularkan semangat, ’Apa tidak ingin Kabupaten Rembang sejahtera?’ Cara berpikir masyarakat harus berubah. Marwah kabupaten harus diangkat bersama-sama. Rasanya mau menangis kalau Rembang dibandingkan dengan kabupaten lain hanya untuk masalah kemiskinan. Padahal kita bisa dan mampu bersama-sama keluar dari kemiskinan.(bhimo)