Mencari Solusi Kemiskinan dan Pabrik Semen Rembang Melalui Forrem

November 30, 2017

Forrem berembuk untuk mencari solusi terbaik bagi warga Rembang. (dok Forrem)

Rembang, pmp – Kemiskinan dan investasi menjadi fokus perhatian masyarakat dan Pemkab Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Muncul upaya mencari solusi kemiskinan dan keberadaan pabrik semen Rembang melalui Forrem (Forum Rembuk Rembang).

 Mengentas warga miskin di Rembang yang menurut BPS jumlahnya pada 2016 mencapai 115,5 ribu orang atau 18,54 persen dari total 650 ribu orang, tentu bukan pekerjaan mudah.

 Bupati Abdul Hafidz terus berikhtiar mengentas kemiskinan di daerahnya. Salah satunya dengan mengundang investor masuk Rembang agar terbuka lapangan kerja.

 Namun tak setiap langkah yang diambil Bupati disikapi positif. Contohnya pabrik semen Rembang yang justru dikritisi beberapa pihak di luar Rembang.

 Para tokoh Rembang pun menggelar Forum Rembuk Rembang (Forrem) yang diharapkan menjadi sarana bagi semua pihak –internal maupun luar daerah– untuk bertukar pikiran demi kebaikan Rembang.

Pabrik semen Rembang. (bhimo)

Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Rembang membaik sejak dimulainya pekerjaan konstruksi pendirian pabrik semen Rembang di wilayah Gunung Bokong, Kecamatan Gunem.

Pekerjaan konstruksi pabrik semen Rembang milik PT Semen Gresik –anak perusahaan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk— itu, banyak menyerap tenaga kerja lokal. Termasuk mendatangkan pekerja-perkaja dengan keahlian khusus dari luar daerah.

Dampaknya, berbagai usaha kecil bermunculan di Rembang. Mulai dari  warung makan, toko kelontong, penyewaan kamar atau rumah, ojek, penyewaan mobil, hingga jasa laundry.

Menurut Sri Winarsih, Kepala Seksi Neraca Wilayah dan Analis Statistik – BPS Rembang, pembangunan pabrik semen telah menaikkan peringkat Kabupaten Rembang dari posisi termiskin ketiga menjadi kelima dari 35 kabupaten dan kota di Jateng.

Meski jelas memberi manfaat bagi peningkatan ekonomi warga Rembang, namun tetap saja beredar isu bahwa pabrik semen Rembang membahayakan. Seperti hilangnya sumber air, sumber pendapatan warga, hingga membahayakan nasib petani.

Baca juga: Kenapa semen Rembang begitu menakutkan bagi semen asing?

Agar tidak gagal paham berkepanjangan, sekumpulan pemuda Rembang yang notabene aktivis dan intelektual, sepakat membuat sebuah wadah kultural. Ide dasarnya, segala permasalahan hanya bisa diselesaikan melalui rembuk atau diskusi dengan bertukar ide dan gagasan dari semua pihak. Tujuannya satu, bagaimana bersama-sama memajukan Kabupaten Rembang.

Maka muncullah Forum Rembuk Rembang (Forrem) yang mengusung slogan ‘Ngomong Becik Kanggo Apike Rembang” atau ‘Berbicara Baik (berembuk) buat Kebaikan Rembang’. Tema pertama yang diangkat tak lain upaya mengentas kemiskinan melalui investasi, khususnya pabrik semen Rembang yang masih menggantung.

Mahasiswa AKSI yang mayoritas remaja Rembang. (bhimo)

Semangat RA Kartini

Rembang memiliki beragam sebutan yang indah didengar. Mulai dari Kota Garam, Kota Santri, atau bahkan Kota Pendidikan karena terdapat makam Raden Ajeng (RA) Kartini, tokoh pendidikan dan inspirasi pembebas bagi kaum perempuan.

Namun berbagai sebutan indah dan semangat Kartini tadi berbanding terbalik dengan fakta bahwa Rembang merupakah daerah termiskin ke-5 di Provinsi Jawa Tengah.

Berdasarkan data  BPS Kabupaten Rembang tahun 2016, penduduk Rembang yang berada di bawah garis kemiskinan berjumlah 115,49 ribu orang (18,54 persen) dari total penduduk. Menurun dibanding 2015, sebanyak 119,11 ribu orang (19,28 persen).

Penurunan itulah yang membuat peringkat Rembang naik dari termiskin ketiga menjadi termiskin kelima dari 35 kabupaten/kota di Jateng.

Tercatat kabupaten termiskin di Jateng adalah Wonosobo (20,53 persen), sedangkan Kota Semarang berada paling buncit dengan tingkat kemiskinan 4,85 persen. Sementara persentase penduduk miskin Provinsi Jateng sebesar 13,27 persen. Menurun dari tahun sebelumnya 13,58 persen.

Khusus untuk wilayah eks-Karesidenan Pati, persentase penduduk termiskin Kabupaten Rembang tertinggi. Sedangkan terendah Kabupaten Kudus dengan 7,65 persen.

Indeks Kedalaman Kemiskinan Rembang turun dari 3,47 pada 2015 menjadi 3,28 pada 2016. Sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan juga menurun dari 0,99 menjadi 0,85 pada periode sama. Mengindikasikan ketimpangan pengeluaran antarpenduduk miskin semakin menyempit selama setahun terakhir.

Baca juga: Menangis kalau Rembang dibandingkan kabupaten lain untuk kemiskinan

Pegawai pabrik semen Rembang yang 70 persen warga Rembang. (bhimo)

Investasi Terkesan Tak Pasti

Gagasan para pemuda untuk menggelar Forrem mendapat sambutan positif berbagai pihak terkait di Rembang. Cita-cita memajukan daerah agar memiliki martabat sederajat dengan daerah lain mendapat dukungan.

Hampir semua pihak di Rembang sepakat bahwa ide dan gagasan yang dihasilkan Forrem bisa secara cepat dan tepat diterapkan untuk menangani berbagai permasalahan publik di Kabupaten Rembang. Utamanya terkait langkah-langkah pengentasan kemiskinan melalui investasi industrialisasi di Rembang yang seolah-olah menjadi tidak ada kepastian setelah melihat pabrik semen Rembang yang hingga kini belum diizinkan menambang oleh pemerintah pusat.

Maka pada Jumat, 20 Oktober 2017, digelarlah Forrem di aula AKSI (Akademi Komunitas Semen Indonesia) Rembang. Turut hadir di antaranya Bupati Abdul Hafidz, Wakil Bupati Bayu Andriyanto, Wakil Ketua DPRD Rembang Gunasih, juga anggota DPRD Jateng Abdoel Aziz.

Baca juga: Pemerintah pusat harus tegas izinkan pabrik semen Rembang Beroperasi

Tak hanya eksekutif dan legislatif, turut hadir pula Ketua MUI Rembang KH Munif Muslih, pengusaha lokal Atna Tukiman yang juga Direktur PT Bina Bhakti Husada. Juga hadir kalangan investor seperti Dirut PT Rembang Migas Energi Zainul Arifin dan GM Produksi Pabrik Semen Rembang Heru Indra Widjajanto. Total 150 tokoh masyarakat ikut hadir.

Bupati Rembang memaparkan bahwa ikhtiar memajukan Rembang harus berkorelasi dengan visi dan misi kepala daerah. Pihak Pemda Rembang sendiri sadar  bahwa tidak mudah membangun Rembang dan mengentas kemiskinan hanya mengandalkan kekuatan Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Alokasi Umum (DAU).

Penggunaan DAK sudah tersedot membayar pegawai, sedangkan DAU relatif kecil jumlahnya untuk pembangunan. Maka Bupati Rembang merasa perlu menemukan alternatif pembiayaan lain yang dibenarkan bagi pembangunan. Upaya ini merupakan penjabaran dari konsep Otonomi Daerah.

Persoalannya, ikhtiar memperoleh sumber pembiayaan tak selalu dilihat positif oleh semua pihak. Segelintir pihak di luar Rembang justru bersikap miring atas keputusan Bupati terkait investasi. Contohnya keberadaan pabrik semen Rembang yang masih menuai polemik.

Padahal salah satu upaya menurunkan tingkat kemiskinan di Rembang adalah memperluas lapangan kerja. Wajar jika Bupati mendukung keberadaan pabrik semen Rembang. Termasuk kemudian memberi izin bagi industri lainnya masuk Rembang, seperti pabrik sepatu, gula, dan bahkan gas.

Baca juga: Kami ingin pabrik semen Rembang segera diizinkan beroperasi

Namun di sisi lain, pihak luar tadi justru mencitrakan warga Rembang sadis terhadap investasi. Perusahaan plat merah atau BUMN saja digebuki apalagi swasta.

Meski bukan semata-mata menjadi variabel tunggal penyebab ketertinggalan Rembang, namun image yang tersemat bagi warga Rembang terlanjur negatif. Ada bayang-bayang yang kemudian menghantui, bahwa peningkatan kehidupan di bidang ekonomi, politik, sosial, dan budaya tidak bakal membaik.

Mahasiswa AKSI Rembang sedang praktikum. (bhimo)

Bersinergi Melalui Forrem

Pada akhirnya, peserta Forrem sepakat untuk secara terstruktur, masif dan bersama-sama ikut menyosialisasikan pentingnya keberadaan pabrik semen Rembang terkait peran sertanya — serta dampak ikutannnya– untuk mengurai kemiskinan di Rembang.

Baca juga: Investasi bakal suram jika pabrik semen Rembang tak diberi izin

Termasuk menyampaikan pesan kepada seluruh masyarakat bahwa pabrik semen justru sudah terlibat aktif dalam upaya mengentas kemiskinan di Rembang.  PTSI dan PTSG telah menggelointorkan anggaran bina lingkungan (CSR) dalam jumlah relatif besar.

Memang bukan perkara gampang menyelesaikan kelindan kemiskinan dan keberadaan pabrik semen Rembang. Namun sebagai pribadi yang memiliki idealisme, tak ada alasan untuk ikut apatis dan pasrah terhadap keadaan.

Melalui sinergi ide, gagasan, keyakinan, serta kepercayaan yang diwadahi Forrem, semoga mampu secepatnya terwujud solusi penyelesaian masalah kemiskinan dan kepastian operasional menambang pabrik semen Rembang seperti harapan mayoritas warga Rembang.

(Moh Sugihariyadi, SPd MM anggota Dewan Pendidikan Rembang dan Direktur AKSI Rembang)