Sehari Beromset Rp 2 Juta, Warung Nasi di Pabrik Semen Rembang

Desember 1, 2017

Warung nasi Tegaldowo milik Sri Wahyuni di dalam areal pabrik semen Rembang. Sehari beromset Rp 2 juta. (bhimo)

Rembang, pmp – Belasan warung nasi berada di dalam areal pabrik semen Rembang untuk menyediakan konsumsi bagi 967 karyawan yang bekerja shift siang dan malam. Para pemilik warung tak lain ibu-ibu dari desa-desa di sekitar pabrik.

Warung nasi-warung nasi itu berada di di sebelah timur laut areal pabrik semen Rembang, di dekat gerbang masuk pabrik. Manajemen pabrik memang menyediakan areal khusus bagi warga di sekitar pabrik yang bersedia berjualan nasi untuk para karyawan.

Maklum, areal pabrik semen Rembang –milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk– yang berada di perbukitan Gunung Bokong, Kecamatan Gunem, memang terletak di wilayah hutan yang terisolir dari pemukiman. Jarak yang harus ditempuh ke desa terdekat di sebelah tenggara, yakni Desa Kajar sekitar 5 kilometer melalui perbukitan dan hutan.

Baca juga: Pabrik semen Rembang miliki 967 karyawan, 70 persen warga lokal

Bangunan yang disediakan untuk warung nasi berupa petak-petak memanjang sekitar 24 meter x  8 meter beratap seng. Setiap warung nasi menempati petak ukuran 4 meter x 8 meter.

Setiap warung nasi diberi nama sesuai desa asal penjual, seperti Desa Tegaldowo, Desa Kajar, Desa Pasucen, atau Desa Timbrangan yang masuk Kecamatan Gunem. Ada pula warung Desa Kadiwono Kecamatan Bulu. Juga warung Desa Ngampel yang masuk Kabupaten Blora.

Beberapa penjual adalah Bu Tarmini (Kajar), Bu In dan Bu Damik (Timbrangan), Bu Rame dan Bu Yanti (Pasucen), Bu Sri Wahyuni (Tegaldowo), atau Bu Mun dan Bu Mah (Kadiwono). Sementara Bu Linda berasal dari Desa Ngampel.

Para ibu itu mulai melayani para karyawan pada jam masuk pagi sekitar pukul 07.00 Wib hingga lepas maghrib. Mayoritas berjualan mulai Senin hingga Sabtu. Beberapa penjual memang masih berjualan di hari Minggu.

Lauk-pauk yang dijajakan lazim seperti warung nasi di Rembang. Mulai dari sayur sop, sayur lodeh, sayur asem, hingga nasi pecel. Lauknya juga beragam, mulai dari tahu, tempe, ikan, telor, hingga daging.

Harganya pun relatif terjangkau. Sepiring nasi pecel dengan lauk tempe dan tahu Rp 8.000. Jika meminta lauk daging harganya menjadi Rp 15.000. Segelas teh, kopi, atau es teh antara Rp 2.000 – Rp 3.000.

Deretan warung nasi milik para warga yang tinggal di sekitar areal pabrik semen Rembang. (bhimo)

Omset Rp 2 Juta Sehari

Para ibu-ibu penjual itu tak sendiri melayani pembeli. Rata-rata mereka dibantu dua hingga empat pelayan. Maklum, pada jam-jam istirahat karyawan atau menjelang pergantian shift, warung bakal ramai pembeli.

Sri Wahyuni (36) misalnya. Pemilik warung nasi Tegaldowo itu dibantu empat perempuan yang tak lain para tetangganya. Masing-masing dia gaji Rp 1.200.000 per bulan.

“Saya dibantu sama tetangga yang tidak mampu. Riris itu anak yatim. Sementara Jarmi dan Sari sudah tidak punya suami. Keduanya kan harus menafkahi anak. Jadi istilahnya dari warung ini saya bisa bagi-bagi rejeki,” kata Sri Wahyuni.

Sebelum berjualan di pabrik sejak Agustus 2015, Sri Wahyuni sudah membuka  warung nasi di rumah. Omsetnya per hari rata-rata Rp 300 ribu. Dia membuka usaha untuk membantu suami yang bekerja di perusahaan Bangun Artha yang menambang di wilayah perbukitan di atas Desa Tegaldowo.

“Dulu jualan di desa sepi. Tidak seperti sekarang di sini,” kata ibu satu anak itu. Dia mengaku bisa berjualan di dalam areal pabrik setelah menerima tawaran dari Lurah Tegaldowo.

Kini, berjualan nasi di areal pabrik semen Rembang, omset Sri Wahyuni rata-rata  Rp 2 juta dalam sehari. Sementara Bu Rame (35), pemilik warung nasi Pasucen, mengaku beromset sekitar Rp 1,5 juta sehari. Dia dibantu dua perempuan tetangga desanya.

Sri Wahyuni melayani pembeli. (bhimo)

Baik Sri Wahyuni maupun Bu Rame tidak punya kewajiban membayar sewa lapak atau fasilitas air dan listrik ke pihak pabrik. “Gratis semuanya. Alhamdulillah,” kata Bu Rame.

Menurut Sri Wahyuni, di saat awal membuka warung nasi pada tahun 2015, omsetnya per hari antara Rp 6 juta hingga Rp 7 juta. Wajar, sebab saat itu areal pabrik masih dipenuhi sekitar 3 ribu tukang, teknisi dan para ahli yang terlibat membangun pabrik semen Rembang.

Sri Wahyuni pun berdoa agar pabrik semen Rembang bisa segera beroperasi secara normal. Dia paham masih ada pihak tertentu yang tak ingin pabrik semen Rembang beroperasi. “Kalau yang kontra ya biarkan saja. Mereka jumlahnya sedikit. Kan warga juga punya sikap masing-masing,” katanya.

Toh menurutnya, saat ini banyak warga desanya yang bekerja di pabrik semen Rembang. “Banyak yang jadi sekuriti atau driver. Tapi ada juga yang jadi pegawai,” katanya.

Lalu bagaiman jika ternyata pemerintah tak mengizinkan pabrik semen Rembang?

“Kalau ditutup banyak yang rugi. Seperti kami, rakyat kecil yang dapat rejeki dari jualan makanan. Banyak warga desa kami yang sekarang tidak perlu kerja jauh ke Surabaya atau Kalimantan karena kerja di sini,” jelasnya.

Sri Wahyuni pun melontarkan harapan. “Ampun ditutup. Pak Jokowi terose merakyat, mosok bade nutup pabrik (Jangan ditutup. Pak Jokowi katanya merakyat, apa iya mau menutup pabrik),” ujarnya. (bhimo)