Pesaing Prof Andalan Panik, Lebih Baik Pilih Mantan Ketua OSIS Dibanding Terpidana Korupsi

Maret 27, 2018

Makassar, PMP – Pasangan calon kandidat Pilkada Sulsel nomor 3 Prof Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman Sulaiman diserang juru bicara pasangan pesaingnya.  Calon wakil gubernur Prof Andalan itu disebut sebagai mantan Ketua OSIS yang belum layak menjadi pemimpin Sulsel.

Pernyataan itu dilontarkan Risman Pasigai, politisi Partai Golkar Sulsel yang juga juru bicara pasangan nomor 1 Nurdin Halid – Aziz Qahhar Mudzakkar. “Sebenarnya itu tipu-tipu politik, masa ada calon yang didorong orang yang tidak punya pengalaman dan kemampuan,” katanya.

Lontaran Risman ditanggapi dengan tawa lepas oleh Husain Djunaid, Wakil Sekretaris DPD PDI Perjuangan Sulsel.  Menurutnya, pernyataan Risman justru menjadi bukti bahwa para pesaing pasangan Prof Nurdin Abdullah yang merupakan petahana Bupati Bantaeng dan Andi Sudirman Sulaiman mulai panik karena elektabilitas Prof Andalan selalu teratas.

“Hahaha… Itu justru tanda-tanda panik. Kalau dia yakin dengan calonnya, kenapa pula harus repot mempersoalkan calon lain? Kan seharusnya dia fokus pada kampanye santun dengan memaparkan program-program calonnnya ke masyarakat,” kata Uceng, panggilan akrab Husain Djunaid, di Makassar, Senin (26/3/2018).

Menurut Uceng, wajar jika pendukung NH-Aziz  panik karena elektabilitas atau tingkat keterpilihan Prof Andalan selalu mengungguli tiga pasangan lainnya. “Makanya wajar kalau juru bicara pasangan nomor 1 panik,” katanya.

Uceng justru meminta Risman berkaca. Sebab jika dia menuding Andi Sudirman Sulaiman yang bersih dari korupsi sebagai tak layak, bagaimana dengan Nurdin Halid yang justru pernah divonis korupsi oleh Mahkamah Agung.

“Ibarat semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak. Jadi sebenarnya siapa yang lebih tak layak untuk maju menjadi kandidat pemimpin Sulsel? Para pemilih di Sulsel sudah semakin kritis. Jangan menepuk air di dulang, justru terpercik muka sendiri,” tambah Uceng.

PDI Perjuangan memilih tak terlalu menanggapi tudingan negatif dan akan terus melakukan sosialisasi program Prof Andalan ke masyarakat dengan kampanye santun menggunakan simpati dan empati.

“Buat apa sibuk membuang energi mempersoalkan calon lain? Toh masyarakat sudah paham dan bosan dengan kampanye negatif,” ujarnya.

Husain Djunaid, Wakil Sekretaris DPD PDI Perjuangan Sulsel.

Terkait pemilihan dukungan kepada Prof Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman Sulaiman untuk maju di Pilkada Sulsel, DPP PDI Perjuangan di Jakarta pasti memiliki kriteria dan penilaian ketat.

“Andi Sudirman Sulaiaman baru berusia 34 tahun. Artinya dia berasal dari generasi milenial yang mewakili anak muda jaman now. Orangnya pandai, kariernya cemerlang dan bersih dari korupsi sehingga layak mendampingi Prof Nurdin Abdullah yang menerima Bung Hatta Anti-Corruption Award 2017. Sudah saatnya anak muda menjadi pemimpin Sulsel agar lebih jaya,” katanya.

Baca juga: Sewa Ruko Hj Bunga Rp 3 Juta Jadi Rp 100 Juta, Sejak Bupati Bantaeng Dijabat Prof Nurdin Abdullah

Lebih Baik Ketua OSIS Dibanding Koruptor

Pernyataan Risman Pasigai justru dinilai Muhammad Saifullah, pemerhati politik dan peneliti Pusat Kajian Entrepreneur Indonesia, telah keluar dari koridor Pilkada Sulsel yang sehat.

“Pernyataannya sangat tidak arif dan etis. Seharusnya juru bicara kandidat sanggup meletakkan nilai-nilai kearifan budaya Bugis-Makassar yang menjunjung tinggi sikap sipakatau sipakalebbi (saling memanusiakan dan saling menghargai),” kata Saifullah.

Baca juga: Sepanggung Syahrul Yasin Limpo, Abraham Samad Ingatkan Bahaya Politik Dinasti

Bagi Saifullah, pernyataan juru bicara NH-Aziz justru menjadi ironi. Sebab semua orang juga tahu, lebih baik memilih mantan ketua OSIS dibanding memilih terpidana korupsi atau koruptor.

Jika merunut kamus wikipedia, lanjut Saifullah, juru bicara adalah seseorang yang diberi tanggung jawab atau amanah untuk menerangkan kondisi atau situasi dari orang yang mengutusnya. Jadi ada dua kemungkinan terkait pernyataan Risman. Apakah dia memahami posisinya sebagai juru bicara pasangan NH-Aziz atau tidak.

Apabila tidak memahami, maka sebaiknya pasangan NH-Aziz mempertimbangkan posisi Risman Pasigai sebagai juru bicara. “Tapi kalau Risman paham, berarti pernyataan Risman  memang mewakili pasangan NH-Aziz. Dan kalau memang seperti itu, sebaiknya masyarakat hati-hati memilih pasangan calon seperti itu,” tegasnya.

Saifullah enggan merinci. “Kenapa saya ingatkan masyarakat agar hati-hati pilih yang model beginian? Lihat saja pernyataan itu. Nilai saja sendiri pernyataan itu,” katanya. (bhimo)