Prof Nurdin Abdullah Ingatkan Bahaya Politik Uang Bagi Masa Depan Rakyat Sulsel

April 2, 2018

Bupati Bantaeng Prof Nurdin Abdullah bersama warga di Galesong Utara, Takalar, Senin (2/4/2018).

Takalar, PMP –  Prof Nurdin Abdullah, kandidat cagub nomor urut 3 Prof Andalan, ingatkan bahaya politik uang bagi masa depan rakyat Sulsel di hadapan ratusan warga Takalar. Sebab pihak pemberi uang menjelang hari pencoblosan Pilkada bakal mengeruk lebih banyak uang dibanding yang diberikan.

“Kalau ada yang kasih ki’ uang, jangan senang dulu karena bisa jadi mereka ambil lebih banyak dari kita,” kata Prof Nurdin Abdullah yang disambut tepuk tangan ratusan warga, nelayan dan keluarganya, di Desa Batu-Batu, Kecamatan Galesong Utara, Takalar, pada Senin (2/4/2018).

Bupati Bantaeng dua periode itu mengingatkan bahwa politik uang atau money politics bisa berdampak dalam kehidupan keseharian rakyat Sulsel selama lima tahun ke depan.

“Politik uang itu tidak hanya soal menerima uang, tetapi kita inshaallah merugi selama lima tahun ke depan,” tegasnya.

Prof Nurdin Abdullah pun mengimbau agar para  warga dan nelayan di Galesong Utara dan seluruh Sulsel agar tidak terbeli dengan uang receh ratusan ribu rupiah.

“Inshaallah masa depan kita dan keluarga untuk hidup lebih sejahtera dalam lima tahun ke depan lebih penting. Tak layak dihargai dengan uang recehan seperti itu,” kata Prof Andalan yang disambut meriah tepuk tangan warga.

“Setuju Pak Prof..! Setuju Pak Prof..!” teriakan beberapa nalayan di bagian belakang hadirin.

Setelah memaparkan bahaya politik uang, di sesi tanya jawab, warga pun berebut menyampaikan keluhan ke Prof Nurdin Abdullah. Mereka agaknya merasa harus menyampaikan keluhan, karena Prof Nurdin telah membuka peluang untuk berbicara. “Percuma saya banyak bicara, tapi saya tidak mengetahui masalah warga sekitar sini,” kata Prof Andalan.

Salah seorang nelayan pun mengeluhkan soal makin susahnya menangkap ikan di Galesong karena adanya kegiatan penambangan pasir untuk pembangunan proyek Center Point of Indonesia (CPI) di bibir Pantai Losari Makassar.

“Penambangan pasir itu merugikan kami para nelayan. Juga merugikan penjual ikan karena ikan hasil tangkapan nelayan sedikit. Kami semua jadi susah,” keluhnya.(bhimo)