Ini Kisah Tiga Relawan Prof Andalan yang Meninggal Dunia Akibat Kecelakaan Menuju Kampanye Bone

April 24, 2018

Rombongan relawan Prof Andalan Cere Buttaya Gowa. Almarhum Syafaruddin Dg Jarung (berdiri paling kanan) dan H Muh Idris Dg Tayang (berdiri kedua dari kanan).

Gowa, PMP – Jarum jam menunjuk pukul sepuluh malam. Prof Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman Sulaiman berjalan bergegas memasuki Jl Syamsuddin Tunru di Kelurahan Sungguminassa, Somba Opu, Gowa.  Keduanya menuju rumah nomor 14 kediaman almarhum H Muh Idris Dg Tayang (51), salah satu relawan Prof Andalan yang meninggal akibat kecelakaan di Camba Maros saat menuju lokasi kampanye akbar di Bone.

Meski seharian mengikuti prosesi Kampanye Akbar  di Stadion Persibo Bone pada Minggu pagi hingga sore (22/4/2018), pasangan Prof Andalan ternyata memutuskan malam itu juga harus mendatangi langsung para relawan yang dirawat di RS Dr Wahidin Makassar dan kemudian bertakziah ke rumah dua korban meninggal dunia di Gowa.

Prof Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman Sulaiman segera menemui Hj Hasmi Hafid, isteri almarhum HM Idris. “Kami bersedih dan turut berduka cita atas kepergian almarhum. Inshaallah beliau husnul khotimah,” kata Prof Nurdin Abdullah sembari menyalami Hj Hasmi. Keduanya pun kemudian bersimpuh di sebelah jenazah untuk mendoakan almarhum.

Prof Nurdin Abdullah dan Abdi Sudirman Sulaiman berdoa di sisi almarhum Syafaruddin Dg Jarung.

HM Idris yang memiliki empat putri itu meninggal di tempat kejadian saat mobil Avanza yang membawa tujuh relawan Persaudaraan Cere Buttaya Gowa terperosok ke jurang. Korban meninggal lainnya adalah Syafaruddin Dg Jarung (53). Sementara satu korban kritis yang akhirnya berpulang pada Senin menjelang dhuhur adalah Muh Rizal (38).

Baik HM Idris dan Syafaruddin, keduanya duduk di jok tengah mobil di sisi pintu. Sedangkan penumpang yang diapit keduanya justru selamat. Sementara Rizal menjadi sopir. Penumpang di jok depan dan dua di jok belakang selamat .

“Bapak begitu suka dengan Pak Prof dan pernah bilang Pak Prof itu begitu merakyat. Bapak bahkan dua kali membuat sendiri baju Prof Andalan warna putih dan biru, kemudian membordir nomor tiga di baju itu,” kata Rahmiyanti Idris (23), putri kedua HM Idris.

Tak ada firasat apapun dari HM Idris yang kesehariannya berdagang sepatu, sebelum meninggalkan rumah sekitar pukul 7 pada Minggu pagi. Bahkan Hj Hasmi sempat mengantar sang suami berboncengan menuju Posko Cere Buttaya untuk berangkat bersama rombongan menuju Bone.

Tolak Makan Nasi Kuning

Sejatinya sebelum bertakziah ke kediaman HM Idris, Prof Andalan terlebih dulu mendatangi rumah duka almarhum Syafaruddin Dg Jarung yang tak jauh dari rumah HM Idris. Prof Andalan juga menyampaikan bela sungkawa kepada Sunarsih, isteri almarhum.

Almarhum Syafaruddin yang buruh harian itu meninggalkan delapan anak, tiga lelaki dan lima perempuan. “Saya tidak tahu bagaimana kejadiannya karena saya sedang KKN di Bulukumba. Saya pulang setelah ditelepon bahwa bapak mengalami kecelakaan,” kata Nur Aisyah (21), putri keempat yang kuliah di Universitas Islam Makassar.

Menurut Nur Aisyah, ibunya sejak Minggu pagi ikut menyiapkan ransel yang bakal dibawa almarhum ke Bone. “Ibu bahkan sempat membuatkan kopi buat bapak,” katanya sembari menyebut adik terkecilnya Inzanul Mukmin baru berusia 8 tahun.

Kabar duka berikutnya buat Prof Andalan terdengar pada Senin menjelang siang (23/4/2018). Muh Rizal yang kritis telah berpulang sekitar pukul 11 WITA. Pada Senin siang, Andi Sudirman Sulaiman yang didampingi putri sulung dan menantu Prof Nurdin Abdullah bertakziah ke rumah duka.

Mobil Avanza ditutup terpal di dasar jurang di Kecamatan Camba, Kabupaten Maros.

Menurut Ketua Cere Buttaya Hasrul Abdul Rajab, keluarga besar persaudaraan Cere Buttaya yang beranggotakan sekitar 200 relawan merasa sangat berduka dan kehilangan atas kepergian ketiga korban.

“Inshaallah mereka bertiga husnul khotmah. Bagi kami, mereka pejuang untuk membuat Sulsel lebih baik dan jaya ke depan,” kata Lulu, panggilan akrabnya.

Lulu memaparkan bahwa pada Minggu sekitar jam 08.00 WITA, berangkat dua mobil menuju Bone dari Posko Cere Buttaya di Jl Andi Mallombassang, Sungguminasa. Avanza ditumpangi tujuh orang dan Calya lima orang.

“Sebelum berangkat saya ajak mereka semua sarapan nasi kuning. Hanya HM Idris dan Syafaruddin yang duduk persis di kiri-kanan saya menolak makan. Mereka bilang nanti saja makan di Bone,” kata Lulu.

Saat kecelakaan, menurut Lulu, mobil Avanza berada di depan dan melaju dengan kecepatan cukup tinggi di jalan menurun yang kemudian di ujungnya berbelok ke kanan. “Rupanya mobil selip dan menghantam pembatas jalan sebelum terjun ke jurang,” ujarnya.

Almarhum Muh Rizal (dua dari kiri) bersama keluarga.

Masih menurut Lulu, rasa sedih keluarga Cere Buttaya terobati dengan kedatangan Prof Nurdin Abdullah dan Andi Sudirman Sulaiman ke rumah duka para korban.

“Kami sangat senang atas perhatian Pak Prof dan Pak Andi Sudirman Sulaiman yang malam itu juga bertakziah ke rumah para korban. Saya yakin beliau berdua pasti capek setelah kampanye, namun ternyata masih mau jauh-jauh datang ke Gowa dari Bone,” ujarnya.

Apalagi Prof Andalan memberikan santunan sebesar Rp 50 juta untuk setiap korban meninggal dunia dan menanggung semua perawatan para korban di rumah sakit hingga pemakaman. “Termasuk akan memberi beasiswa buat anak-anak korban hingga lulus kuliah,” kata Lulu.

Oleh sebab itulah, Cere Buttaya semakin termotivasi untuk memperjuangkan Prof Andalan agar menang di Pilkada Sulsel. “Kami inshaallah yakin bahwa ketiga almarhum, menginginkan kami semua meneruskan perjuangan mereka memenangkan Prof Andalan,” tegas Lulu.(bhimo)