Jika Anak Tak Bisa Lepas dari Gadget, Waspadai Bahaya Sindrom Mata Kering

April 29, 2018

Surabaya, PMP – Jumlah prevalensi sindrom mata kering di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 80, 2 juta atau 30,6 persen dari jumlah penduduk 262 juta jiwa. Salah satu penyebab yang harus diwaspadai tak lain aktivitas penggunaan gadget dan komputer yang berlebihan.

“Hal yang mengkhawatirkan, jika dulu sindrom mata kering dikaitkan dengan para lanjut usia,  beberapa tahun terakhir banyak terjadi pada usia muda karena pergeseran gaya hidup. Terutama penggunaan media digital,” kata dr Nina Asrini Noor, SpM dari RS Mata Jakarta Eye Center, Sabtu (28/4/2018).

Bahaya sindrom mata kering terungkap pada media gathering yang digelar Ferron bertema ‘Mata Kering, Sindrom Kekinian yang Perlu Diwaspadai’ di Four Points Hotel Surabaya. Selain dr Nina Asrini Noor, pembicara lain adalah dr lsmi Zuhria, SpM dari Perdami Jawa Timur yang juga staf medis fungsional RSUD Dr Soetomo Surabaya dan FK Universitas Airlangga.

Sindrom mata kering (dry eye syndrome) atau kerato conjunctivitis adalah kondisi mata yang mengalami kekurangan cairan akibat air mata yang mudah menguap, atau produksi air mata sedikit. Penyebab sindrom mata kering beragam. Mulai dari faktor usia, Iingkungan seperti debu dan asap rokok, atau riwayat operasi mata. Juga penyakll diabetes, penggunaan obat tertentu seperti tetes mata, atau aktivitas penggunaan komputer dan gadget.

Bisa Berakibat Fatal

“Pada era digital ini, penggunaan gadget yang kurang tepat menjadi salah satu penyebab terbesar meningkatnya tren sindrom mata kering,” kata dr Nina. Rata-rata durasi penggunaan internet di lndonesia mencapai 8 jam 51 menit setiap hari dan menempati peringkat keempat dunia.

“Penggunaan gadget apalagi dalam waktu yang lama dan kurang tepat, tanpa disadari membuat mata menjadi lelah, perih, dan gatal. Hal itu dapat menyebabkan gangguan yang akan berdampak serius pada kesehatan mata,” lanjutnya.

Sayangnya, masih banyak orang tua yang kurang menyadari gejala-gejala tersebut harus segera ditangani. “Apalagi dari pasien yang terdeteksi terkena sindrom mata kering ini, 40 persennya tidak merasakan gejala,” papar dr Nina.

Apalagi faktanya, penanganan sindrom mata kering yang tidak tepat justru bisa menimbuikan ketergantungan pada obat tetes mata, menimbuikan efek lebih serius, hingga kerusakan pada kornea yang membuat mata jadi rusak permanen.

“Jangan sepeiekan gangguan mata kering karena bisa berakibat fatal,” tegas dr Nina.

Sementara menurut dr Ismi, perlu diwaspadai jika mengalami keluhan dengan gejaia-gejaia mata gatai, lelah, memerah, ada rasa mengganjal dan sensasi seperti berpasir, rasa terbakar dan perih, mudah siiau, atau sensitif terhadap cahaya. Termasuk jika penglihatan tidak fokus.

“Segera periksakan kondisi mata ke dokter. Bisa juga mengonsumsi asupan gizi yang tepat seperti omega 3,” kata dr lsmi.

Beberapa peneiitian pada kasus sindrom mata kering, mengonsumsi omega 3 dengan ratio DHA dan EPA yang sesuai dapat menurunkan gejaia dari sindrom mata kering. “Omega 3 memiliki peranan daiam memperbaiki fungsi keienjar air mata, sekaiigus mengurangi inflamasi yang menyertai gejala dry eye,” ujarnya.(gus)