Agar Game Tak Lagi Negatif, Liga eSport Libatkan Guru dan Sekolah

September 21, 2018

Surabaya, PMP – Mayoritas masyarakat masih memandang negatif terhadap aktivitas ngegame yang dilakukan anak-anak dan remaja. Padahal ngegame sudah menjadi ajang untuk berprestasi dan menjadi industri tersendiri.

Olahraga elektronik atau umum disingkat eSports bahkan sebenarnya sudah diikutkan sebagai salah satu cabang olahraga eksibisi yang dipertandingkan pada Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, beberapa waktu lalu.

Bertujuan mencari bibit unggul gamer untuk kompetisi tingkat dunia dan menyosialisasikan game di masyarakat, bakal digelar High School League (HSL) 2018 tingkat nasional. Pesertanya kalangan pelajar dari 32 SMU di seluruh Indonesia.

“Melalui HSL 2018, diharapkan pandangan masyarakat akan game yang negatif bisa berubah. Pada akhirnya akan meningkatkan industri game di Tanah Air. Tidak hanya terbatas pada atlit e-sports saja, melainkan meluas ke pembuat game, publisher, serta manajemen bisnis game,” kata Stevanus, President HSL 2018, saat melakukan sosialisasi di Surabaya, Jumat (21/9/2018).

Menurut Stevanus, tujuan utama HSL 2018 adalah mencetak bibit baru dari kalangan siswa SMA untuk meningkatkan daya saing Indonesia di kancah dunia. Turnamen bakal melibatkan guru dan sekolah agar para peserta tetap terkontrol dan tak mengabaikan tugas utamanya untuk belajar. Itu pun, kompetisi selama enam bulan hanya dilaksanakan pada hari libur Sabtu dan Minggu.

Game yang bakal dipertandingkan di HSL 2018 adalah DOTA 2 yang merupakan jenis game strategi beregu. Setiap sekolah yang ingin mendaftarkan tim peserta, bisa memasukkan data ke situs HSL 2018, mulai 6 September hingga 12 Oktober 2018.

Pemilihan DOTA 2 bukan tanpa alasan. Game tersebut mensyaratkan kemampuan tim untuk bekerja sama, mengambil keputusan secara cepat dan tepat, mengatur strategi, sportif dan disiplin.

“Babak kualifikasi bakal digelar di delapan kota. Termasuk Surabaya dan Malang. Panitia memilih secara ketat iCafe yang memiliki arena e-sports berstandar internasional dan mendapat sertifikasi GeForce,” tambah Stevanus.

Sebanyak 10 iCafe telah dipilih. Yakni Jakarta (Highgrounds dan BarracX), Bogor (Redfox), Bandung (Immortal), Solo (Poseidon), Surabaya (Three Kingdoms), Malang (Hardcore), Medan (Noblenation dan iCafe Medan), serta Makassar (GIX).

Total hadiah senilai Rp 1,2 miliar berupa beasiswa, penyediaan kurikulum e-sports di sekolah pemenang, biaya subsidi untuk guru pembimbing ekstrakurikuler e-sports, serta perlengkapan lab e-sports berupa PC Gaming.

“Hadiahnya memang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan sekolah pemenang,”tambah Stevanus.

HSL 2018 yang digelar secara nasional ini didukung JD.ID selaku penyedia perdagangan elektronik terkemuka, Lenovo dan NVIDIA sebagai penyedia komputer gaming, serta iCafe berstandar internasional yang mendapatkan sertifikasi GeForce.

“Bila HSL 2018 sukses, maka besar kemungkinan sekolah dan masyarakat akan lebih terbuka. Masyarakat akan menerima e-sports bukan hanya sebagai permainan anak-anak belaka yang memberikan efek negatif, tetapi justru meningkatkan peluang anak untuk menjadi pemain di industri game,” harap Stevanus. (bm)