M Fathul Fauzi: Prof NA Berpesan agar Amanah dan Tak Ambil yang Bukan Hak

Maret 25, 2019

Uji dikerubuti simpatisannya saat berkampanye.

Makassar, PMP – Usianya baru menginjak 23 tahun, namun semangatnya untuk menjadikan Sulsel semakin jaya ke depan begitu menggelora. M Fathul Fauzi Nurdin begitu terinspirasi dengan sosok ayahnya, Gubernur Sulsel Prof Nurdin Abdullah (NA) yang telah menanamkan sikap amanah, ikhlas dan kerja keras kepadanya sejak kecil.

“Masyarakat itu sudah banyak yang susah, jangan lagi ditambah beban mereka,” kata M Fathul Fauzi Nurdin menirukan pesan Prof NA saat dirinya meminta izin maju sebagai wakil rakyat Sulsel dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).

Menurut Uji, panggilan akrabnya, dirinya memutuskan maju menjadi anggota DPRD Provinsi  dengan niatan bisa berbuat  banyak untuk kemaslahatan rakyat Sulsel, khususnya warga Jeneponto, Bantaeng dan Selayar yang masuk Dapil IV.

Selama masa kampanye, Uji yang dipercaya menjadi Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPW PSI Sulsel itu rajin blusukan di Dapilnya. “Sudah sekitar 1.000 rumah saya datangi untuk mendengar langsung aspirasi warga,” kata alumni Binus University Jakarta itu.

Berbagai aspirasi yang diserap, dia sampaikan langsung ke Prof NA agar menjadi perhatian dan dicarikan jalan keluar.  “Tentu bakal berbeda jika inshaallah saya sendiri diberi amanah oleh rakyat menjadi wakil mereka. Sebagai anggota DPRD, saya inshaallah bisa berbuat sesuatu sesuai kewenangan yang dimiliki,” tegas putra ketiga dan bungsu pasangan Prof NA dan Liestiaty Nurdin itu.

Apa saja persoalan utama warga Jeneponto, Bantaeng dan Selayar? Bagaimana visi dan misi suami Gunya Putri itu sebagai wakil rakyat? Berikut wawancaranya:

Apa alasan utama Anda terjun ke politik di usia muda?

Saya memahami pentingnya regenerasi kader. Termasuk di politik. Selain itu, tujuan saya tidak lain ingin membantu ‘Pak Prof’ Nurdin (Gubernur NA) mewujudkan visi dan misi Sulsel Jaya. Sebab bagaimanapun juga, seorang gubernur butuh dukungan dari parlemen dan sekaligus perwakilan di daerah.

Mengapa pilih PSI sebagai kendaraan politik?

Sebenarnya saya sudah lebih dari dua tahun di PSI, sejak masih berkuliah di Jakarta. Saya merasa banyak kesamaan visi-misi dengan PSI. Salah satunya sangat antikorupsi.

Saya juga ingin mengubah cara pandang masyarakat yang menilai politik jahat. Sebenarnya politik tidak jahat, asal dijalankan oleh orang yang amanah dan selalu berpikir untuk kemasalahatan orang banyak. Saya sendiri bakal berpolitik dengan hati nurani untuk kemaslahatan orang banyak.

Uji berkampanye di Dapil IV wilayah Jeneponto, Selayar dan Bantaeng.

Apa visi Anda jika diberi amanah oleh rakyat?

Tentunya membawa aspirasi dan menyelesaikan masalah paling umum di Dapil IV (Jeneponto, Bantaeng dan Selayar), utamanya di bidang pertanian, pengairan dan perikanan. Hampir setiap rumah yang saya datangi di Jeneponto memiliki keluhan sama, yaitu permasalahan bibit, harga jagung kuning, hingga irigasi pertanian.

Tidak sedikit masyarakat yang mengeluh tentang air bersih untuk hidup sehari-hari. Padahal menurut saya bukan hal sulit dipenuhi karena pada dasarnya pemerintah memiliki solusi. Tinggal tergantung dari niat dan kemauan anggota legislatifnya untuk merealisasi.

Apa misi yang bakal direalisasi buat rakyat di dapil Anda?

Mengawal program-program  Prof Andalan (Gubernur NA dan Wagub Andi Sudirman Sulaiman) hingga tuntas. Tidak ada alasan lain karena kita memiliki gubernur ‘orang selatan’. Sungguh sayang kalau momen lima tahun ini terlewat sia-sia karena Gubernur dan Wagub tak didukung sepenuhnya oleh rakyat dalam merealisasi program-programnya.

Apalagi kita tahu, Prof NA seorang profesor di bidang pertanian. Sedangkan Andi Sudirman Sulaiman tak lain adik Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Keberadaaan seorang wakil rakyat yang punya akses ke pemerintahan, baik pusat maupun provinsi, pasti akan sangat berpengaruh bagi kemudahan pendistribusian bantuan ke petani dan rakyat.

Baca juga : Jaket 01 Prof NA dan ‘Suara Satu’ Ribuan Rakyat Takalar

Siapa figur yang menginspirasi Anda?

Ayah saya (Prof NA).

Apa pesan Prof NA sebelum Anda memutuskan terjun ke politik?

Beliau berpesan agar saya amanah, bekerja ikhlas dan jangan mengambil sesuatu yang bukan merupakan hak kita. Masyarakat itu sudah banyak yang susah, jangan lagi ditambah beban mereka.

Apa yang Anda pelajari dan jadikan panutan dari sosok Prof NA yang kini jadi kebanggaan rakyat Sulsel?

Alhamdulillah, jiwa dan karakter Pak Prof telah membuat saya terinspirasi untuk maju sebagai calon anggota legislatif. Jiwa pekerja yang beliau terapkan di Bantaeng begitu terasa hingga hari ini. Walaupun beliau tidak lagi menjabat Bupati Bantaeng, tetapi kenangan baik masih diingat oleh sebagian besar masyarakat. Dan saya sangat terinspirasi dengan keikhlasan dan kerja keras beliau untuk banyak orang.

Baca juga : Ini Strategi Gubernur NA Genjot Pembangunan dan Pariwisata Sulsel 

Apa problem utama di dapil Anda yang telah diserap selama masa kampanye ini?

Berbagai problem seperti yang saya sampaikan tadi. Tambah satu lagi, pembagian alat pertanian yang tidak merata. Saya rasa kita semua harus turut membantu ‘Pak Prof’ membenahi masalah-masalah tersebut.

Apakah Anda punya jawaban atas berbagai problem itu?

Tentu saya sudah siap jawabannya. Setiap sosialisasi saya selalu sampaikan ke masyarakat, bahwa saya hadir salah satunya mewakili Prof NA. Di manapun, saya tetap bakal mendengar keluhan masyarakat untuk disampaikan kepada Prof NA.

Sejauh ini saya hanya sebatas menyampaikan kepada Pak Prof karena tidak punya wewenang apapun. Tentu bakal berbeda jika inshaallah saya sendiri diberi amanah oleh rakyat menjadi wakil mereka. Sebagai anggota DPRD, saya inshaallah bisa berbuat sesuatu sesuai kewenangan yang dimiliki. Bukankah ada masalah-masalah yang bisa kita selesaikan di lapangan tanpa perlu diketahui oleh gubernur?

Apa pesan Anda untuk warga Jeneponto, Bantaeng dan Selayar, juga Sulsel pada umumnya?

Saya ingin mengingatkan agar ajang lima tahunan ini jangan disia-siakan. Jangan karena Rp 50 ribu atau Rp 100 ribu kita relakan hak selama lima tahun ke depan dirampas oleh mereka yang hanya mementingkan jabatan dan wewenang.  Oleh karena itu, terima saja kalau ada yang memberi. Tapi saat di TPS, pilihlah sesuai hati nurani. (bhimo)