Istri Penjual Ayam Termotivasi Luluskan Anaknya Jadi Perawat

Juli 10, 2019

Sulastri (kanan) bertekad biayai anaknya hingga jadi perawat meski penghasilan pas-pasan.(Humas Unusa)

Surabaya, PMP – Nada suara Sulastri (44) bergetar. Istri penjual ayam itu tak bisa menyembunyikan tekad membara agar Gita Rizky Oktavia – putri pertamanya yang duduk di program studi S-1 Keperawatan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) —  berhasil menjadi perawat.

“Saya ingin sekali melihat anak saya bekerja dan sukses menjadi perawat. Meski hari ini saya tidak punya uang sama sekali, saya akan berusaha keras agar Gita bisa melanjutkan pendidikannya,” kata Sulastri saat mengikuti pemaparan prodi Profesi Ners bagi para orang tua/wali mahasiswa S1 Keperawatan, di Kafe Fastron, Lantai 3, Unusa Tower, Kampus B, Jemursari, Surabaya, pada Senin (8/7/2019).

Bagi Sulastri, pendidikan sangat penting sebagai bekal ketiga putrinya. Penghasilan pas-pasan tak menghalanginya untuk menyekolahkan mereka hingga tuntas. Maklum Karsono suaminya sudah lebih setahun tidak lagi berdagang ayam karena lumpuh.

“Alhamdulillah, Gita bisa ikut wisuda S-1 Keperawatan pada Agustus. Semangatnya untuk menjadi perawat telah mendorong saya bekerja lebih keras. Tak ada salahnya cita-cita saya dulu jadi perawat diwujudkan anak,” ujar Sulastri yang menganggap kesuksesan Gita bakal menjadi tauladan bagi kedua adiknya.

Agar bisa segera bekerja, pascawisuda Sulastri yang berprofesi penjahit bertekad membiayai Gita untuk melanjutkan ke pendidikan Profesi Ners yang hanya dua semester. Maklum, pendidikan Profesi Ners menjadi syarat agar Gita bisa berkeja sebagai perawat.

Sesuai UU No 38/2006 tentang ‘Keperawatan’’, pendidikan akademik dan profesi menjadi satu paket. Seorang perawat baru bisa bekerja setelah menempuh pendidikan akademik S-1 selama empat tahun dan pendidikan profesi Ners satu tahun.

Tekad Sulastri semakin membuncah setelah mendengar pemaparan Prof Kacung Marijan, Wakil Rektor  I Unusa. “Bekerja itu tidak hanya mencari nafkah dan rezeki, tapi juga beramal. Dengan bekerja dan berkarya, seseorang bisa mengembangkan diri dan bermanfaat bagi keluarga dan orang banyak. Ilmu yang diperoleh selama empat tahun menjadi ladang amal kala bekerja,” katanya.

Prof Kacung memang berharap para ortu dan wali mahasiswa mendorong putra-putrinya agar melanjutkan pendidikan ke profesi Ners.

“Saat ini persaingan dunia kerja sangat ketat. Oleh karenanya Unusa sangat komit untuk terus meningkatkan kualitas anak didik agar memiliki kompetensi dan mampu bersaing di dunia kerja,” tegasnya.

Ketua Prodi S-1 Keperawatan dan Profesi Ners Unusa Siti Nurjanah mengatakan, Unusa telah bekerja sama dengan lima rumah sakit untuk tempat magang para mahasiswa. Kelima rumah sakit tersebut memiliki karakter berbeda, sehingga mahasiswa memiliki banyak pengalaman dan kelak siap bekerja di rumah sakit manapun.

“Sekarang ini rumah sakit cenderung membutuhkan tenaga berpendidikan Profesi Ners. Sebab salah satu penentu nilai akreditasi sebuah rumah sakit adalah banyaknya pegawai yang berpendidikan Profesi Ners,” katanya. (elis)