Targetkan Hamzah Fansyuri Mendunia, Kota Subulussalam Siapkan Kongres Kebudayaan Internasional

September 5, 2019

Areal pemakaman Syekh Hamzah Fansyuri, ulama dan pujangga besar Aceh abad 17, di Kampong Oboh, Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam.

Subulussalam, PMP – Syekh Hamzah Fansyuri,  ulama dan pujangga besar Aceh abad 17 yang dimakamkan di Kota Subulussalam, sudah saatnya lebih dikenal bangsa Indonesia dan dunia. Pemkot Subulussalam dan tokoh masyarakat bersiap menggelar Kongres Kebudayaan Internasional Hamsyah Fansyuri (KKIHF), serta menjadikan areal pemakaman Syekh Hamzah sebagai destinasi wisata religi dan edukasi bertaraf nasional.

“KKIHF kita harapkan menjadi tonggak awal untuk lebih memuliakan  Syekh Hamzah Fansyuri. Sebab beliau bukan saja ulama besar yang melakukan syiar Islam di Aceh dan Sumatera, tapi beliau juga disebut Bapak Bahasa dan Sastra Melayu. Apalagi Wali Kota Subulussalam Affan Alfian Bintang dan Wawali Salmaza berkomitmen mendukung sepenuhnya KKIHF,” kata Buyung Azhari, salah satu inisiator KKIHF, di Subulussalam, Kamis (5/9/2019).

Sejatinya ketokohan Syekh Hamzah Fansyuri sudah diakui secara nasional, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 13 Agustus 2013, menganugerahkan ‘Bintang Budaya Parama Dharma’. Penganugerahan tertinggi untuk bidang budaya itu seolah menjadi pembuktian bahwa Syekh Hamzah memang ‘Pujangga Melayu Terbesar Abad 17’.

Syekh Hamzah Fansuri bahkan disebut sebagai ‘Bapak Bahasa dan Sastra Melayu’ yang melahirkan syair berbentuk puisi empat baris berima a-a-a-a, yang kelak memengaruhi sastra modern Indonesia.

Tak hanya itu, Syekh Hamzah juga sangat aktif melakukan syiar Islam. Tak kurang 1.200 kata-kata Arab dari petikan ayat Qur’an, hadist dan pepatah muncul dalam berbagai karyanya. Kata-kata itulah yang kini memperkaya kosa kata bahasa Indonesia dari serapan bahasa Arab.

Rapat pembentukan panitia Kongres Kebudayaan Internasional Hamzah Fansyuri di Gedung Bappeda, Kota Subulussalam, Rabu sore (4/9/2019).

Persiapan perhelatan KKIHF yang direncanakan September 2020 dan dihadiri Presiden Jokowi telah dimulai pada Rabu (4/9/2019). Bertempat di Gedung Bappeda Subulussalam, digelar rapat pembentukan panitia KKIHF. Rapat dipimpin oleh Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Subulussalam H Sairun SAg.

Rapat dihadiri unsur pimpinan DPRK Subulussalam, jajaran elite Pemkot seperti Sekda, Asisten I, II, dan III Setdako, Kepala Bappeda, Kepala BPKD, Kadis Arsip dan Perpus, serta Kadis Sosial. Juga Ketua Majelis Adat Aceh (MAA), Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), perwakilan ICMI dan KNPI, serta kalangan akademisi dari Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Hamzah Fansyuri Kota Subulussalam.

Ada tiga agenda besar yang ditargetkan melalui KKIHF. Pertama, menjadikan areal pemakaman Syekh Hamzah Fansyuri di Kampong Oboh, Kecamatan Rundeng, menjadi destinasi wisata religi dan edukasi yang mendukung Kota Subulussalam sebagai Kota Religi. Areal makam bakal dibangun masjid nan megah, perpustakaan modern karya sastra Hamzah Fansyuri, serta berbagai fasilitas laiknya destinasi wisata.

Kedua, memperjuangkan agar sejarah kehidupan dan karya Hamzah Fansyuri masuk dalam kurikulum pendidikan Provinsi Aceh dan nasional. Ketiga, bakal mendirikan Universitas Hamzah Fansyuri di Subulussalam.

Peserta rapat menunjuk H Damhuri SP MM, mantan Sekda Subulussalam sebagai ketua tim penyusunan proposal KKIHF, Dr Musriaparto dan Anharuddin SH MH (wakil ketua), serta Kamsih S SE sebagai sekretaris. Mereka didampingi delapan anggota yakni Buyung Azhari, Ardhiyanto Ujung SE, Baginda Nasution SH MM, Mulyadi Kombih, Ramli Cibro, Saiban Gafar SPdI, Supardi SH dan Al Qudri. Salman Alfarisyi dari portal berita penamerahputih.com diundang untuk membantu publikasi secara nasional.

“Perhelatan KKIHF dan berbagai infrastruktur untuk menjadikan areal wisata religi makam Syekh Hamzah Fansuri memerlukan anggaran sekitar Rp 10 miliar. Kami sangat bersuka-cita karena PYM Wali Nanggroe dan Plt Gubernur Aceh sudah memberi sinyal bakal mendukung kami di Subulussalam,” kata Damhuri.

Tim menargetkan proposal KKIHF bakal tuntas dalam dua minggu, sehingga bisa segera dipresentasikan ke Wali Nanggroe PYM Malik Mahmud dan Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

“Semoga dukungan dari PYM Wali Nanggroe, Plt Gubernur, pemerintah pusat,  serta seluruh masyarakat Aceh bakal menjadi amal jariyah karena kita sama-sama berikhtiar memuliakan Syekh Hamzah Fansyuri,” pungkas Damhuri.(bhimo)