Anaknya Terserang Stroke di Usia 10 Tahun, Ibu Ini Berharap Para Ortu Waspada

November 28, 2019

Neal sempat koma selama 10 hari pascaoperasi pembuluh darah yang pecah di bagian otak. (courtesy Twinkal Christie)

Florida, PMP – Twinkal Christie, seorang guru SMA dan ibu dua anak, ingin memberi tahu para orang tua (ortu) bahwa stroke bisa terjadi pada anak-anak. Apalagi stroke ternyata merupakan salah satu dari 10 penyebab utama kematian pada anak-anak.

Christie ingin mengisahkan apa yang dialami Neal (11) putranya, dengan harapan bisa menjadi pengetahuan bagi para ortu lainnya. Tentu agar mereka lebih tanggap dan waspada dalam menjaga putra-putrinya.

Christie berkisah bagaimana pada Oktober tahun lalu, saat makan malam di hari Minggu, Neal yang saat itu berusia 10 tahun,  tiba-tiba mengeluh sakit kepala yang luar biasa. Sejurus kemudian, Neal merasa kakinya tak bisa lagi digerakkan.

Saat Neal mulai maracau dan matanya berputar, Christie awalnya mengira putranya menderita kejang. Namun Christie segera sadar bahwa putranya  mengalami sesuatu yang tak pernah dia harapkan, Neal mengalami stroke.

“Ketika saya memintanya untuk mengangkat tangannya, hanya tangan kanannya yang naik dan tangan kirinya tetap di belakang,” kata Christie seperti dikutip goodmorningamerica.com.

Saat dia meminta Neal tersenyum, jantung Christie pun berdegup kencang. “Saya tahu bahwa ini pasti stroke, tetapi saya tidak menerimanya karena Neal baru berusia 10 tahun. Dia tidak mungkin mengalami stroke,” paparnya.

Christie segera meminta bantuan layanan darurat 911. Saat operator mengatakan kemungkinan anaknya terserang stroke, Christie sempat naik pitam.

“Dia baru 10 tahun. Dia tidak mungkin mengalami stroke. Apakah Anda gila?!” bentak Christie.

Twinkal Christie dan Neal. (Courtesy Twinkal Christie)

Bagaimana pun marah dan sedihnya Christie, Neal segera dilarikan dengan ambulan ke ruang gawat darurat terdekat dan menerima pemindaian CAT (Computerized Axial Tomography). Pemindaian radiologi yang membantu dokter  mengetahui  kondisi bagian dalam seorang pasien.

Dokter kemudian memberi tahu Christie dan suaminya Amish, bahwa putra mereka mengalami pendarahan di otak dan perlu operasi darurat. Neal segera diterbangkan ke Rumah Sakit Anak Nemours di Orlando AS.

Neal menjalani operasi selama berjam-jam setelah para dokter memutuskan ia menderita stroke hemoragik. Menurut American Stroke Association, stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah yang melemah pecah dan berdarah di bagian otak dan sekitarnya.

Khusus kasus Neal, stroke disebabkan fistula arteriovenosa. Sejenis malformasi pembuluh darah, di mana darah mengalir langsung dari arteri ke vena. Malformasi seperti itu penyebab paling umum dari stroke hemoragik pediatrik yang lazim dialami bayi hingga usia dua tahun, menurut National Institutes of Health.

Menurut dr Christopher Gegg, ahli bedah saraf pediatrik yang melakukan operasi darurat terhadap Neal, langkah cepat orang tuanya untuk membawanya ke ruang gawat darurat telah menyelamatkan hidupnya.

“Dia memburuk dengan cepat yang biasanya terjadi pada pasien pendarahan. Pada malam dia datang, dia membutuhkan operasi darurat untuk menghilangkan tekanan dan menghentikan pendarahan di otaknya, karena tanpa itu ada risiko tinggi tidak selamat,” katanya.

Baca juga : Dua Kali Stroke di Usia 12 Tahun, Makenzie Sembuh Berkat Motivasi Diri

Koma 10 Hari

Setelah dioperasi, Neal mengalami koma selama 10 hari. Dia ditempatkan  di ruang ICU agar pembengkakan di otaknya berkurang.

“Itu benar-benar saat yang sulit.  Neal dijaga dua hingga tiga perawat yang setiap saat mengamatinya. Kamarnya penuh dengan mesin dan mereka mengatakan kepada kami untuk tidak berbicara dengannya. Sebab mereka membutuhkan otak Neal beristirahat dan pulih,” papar Christie.

Saat Neal bangun dari koma, ayahnya yang berjaga segera berbicara kepadanya.  “Neal jika kamu mendengarku, angkat saja ibu jarimu,” kata ayahnya. Syukurlah, Neal mampu merespon dengan menggerakan ibu jarinya dengan lemah.

Neal menghabiskan dua bulan di rumah sakit agar pulih dari stroke yang membuat bagian kiri tubuhnya lumpuh. Stroke ternyata berdampak pada kemampuan motorik atau gerak tubuh Neal. Namun kemampuan kognitifnya tetap baik. Neal tetap mampu berbicara dan daya ingatnya tetap terjaga.

Kemampuan bicara Neal segera pulih, meski lengan dan kakinya harus diterapi. Awalnya hanya terbaring di ranjang, Neal kemudian menggunakan kursi roda. Hingga kemudian mampu berjalan dengan tongkat penopang tubuh.

Neal diperbolehkan pulang ke rumah pada Desember 2018. Dan saat ini, setahun kemudian,  Neal kembali ke sekolah dan beradaptasi dengan kemampuan barunya. Kabar baiknya, dokter menyatakan 80% peluang Neal untuk kembali normal, meski tak bakal pulih 100%.

Menurut Aliansi Internasional untuk Pediatrik Stroke (IAPS) yang berada di bawah American Stroke Association, penyakit stroke merupakan salah satu dari 10 penyebab utama kematian pada anak-anak.

Hal yang penting diketahui, gejala stroke pada orang dewasa juga berlaku pada anak-anak.Contohnya bicara cadel, sakit kepala, kebingungan, kehilangan pengelihatan, mati rasa dan kehilangan kekuatan. Semakin cepat stroke diobati, semakin baik peluangnya untuk bertahan hidup.

“Saya sudah bertanya cukup banyak kepada setiap dokter, sebagai seorang ibu, apa yang bisa saya lakukan untuk mencegah hal ini terjadi? Tapi setiap dokter mengatakan kepada saya, ‘Tidak ada. Sama sekali tidak ada yang bisa Anda lakukan untuk cegah ini’,” papar Christie.

Menurut dr Christopher Gegg, penting bagi para orang tua untuk selalu mengetahui kondisi anak-anak mereka dan segera melakukan langkah cepat seperti Christie dan suaminya.

“Pertanyaannya adalah, apakah setiap anak dengan sakit kepala selalu pergi ke UGD? Tidak,” kata Gegg. Padahal jJka anak merasa sakit kepala luar biasa dan terjadi mendadak, kemudian bicaranya menjadi tidak jelas, perlu bagi para orang tua segera melarikannya ke UGD. (bim)