Apakah Stres Bisa Memicu Stroke?

November 29, 2019

 

(www.rd.com)

Jakarta, PMP – Kondisi stres pada seseorang bisa menjadi pemicu terjadinya serangan stroke. Sebab sebagian besar orang yang sedang stres memiliki kecenderungan berperilaku tak sehat, seperti makan berlebihan, mabuk, atau merokok.

“Stres sangat bersifat pribadi dan tergantung masing-masing individu. Beberapa orang mampu menghadapi stres tingkat tinggi, sementara yang lain tidak mampu,” kata  Andrew J Ringer, Ketua Mayfield Brain and Spine, AS.

Artinya, belum ada jawaban yang pasti jika muncul pertanyaan apakah stres bisa jadi pemicu terjadinya serangan stroke.

“Tidak ada penelitian yang secara langsung menghubungkan stres dengan stroke. Tapi saat stres, seseorang berpotensi berperilaku tidak sehat yang justru membuatnya berisiko terkena stroke. Termasuk berisiko menderita tekanan darah tinggi dan diabetes,” katanya.

Berbagai perilaku tidak sehat adalah makan berlebihan, mabuk, atau merokok.

Menurut Andrew J Ringer, risiko akibat berpeilaku tidak sehat disebut sebagai risiko yang dapat dimodifikasi atau dikontrol.

“Artinya, Anda dapat mengubah gaya hidup untuk mengurangi risiko tersebut,” jelasnya.

Jika seseorang selalu berada pada kondisi yang menekan, ada beberapa faktor yang bisa diukur untuk melihat apakah dia berisiko terserang stroke atau diabetes.

Pertama, tekanan darah. Pastikan kondisinya 120/80. Jika berada di 140/90 lazimnya disebut hipertensi tahap dua. Jika lebih tinggi lagi, segera ke rumah sakit.

Kedua, kadar gula darah. Kadar gula darah yang tinggi bakal meningkatkan risiko diabetes. Dan diabetes bisa menjadi pemicu mundulnya penyakit kardiovaskular, seperti stroke. Melakukan Tes HbA1c bisa membantu memantau kadar gula darah rata-rata seseorang selama dua bulan hingga tiga bulan. Sebab umur sel darah merah di dalam tubuh rata-rata dua bulan hingga tiga bulan.

Seseorang dikatakan bebas dari diabetes melitus jika kadar HbA1c kurang dari 6%. Jika kadar HbA1c antara 6% – 6,4% termasuk kategori pradiabetes. Pada kondisi ini sudah harus melakukan perubahan gaya hidup agar tidak menjadi diabetes. Sedangkan, apabila kadar HbA1c lebih dari 6,5%, maka sudah masuk kategori diabetes melitus.(gdn)