KH Abdul Ghofur Ponpes Sunan Drajat Dukung OPOP Gubernur Khofifah

Desember 8, 2019

KH Abdul Ghofur, pengasuh Ponpes Sunan Drajat (peci putih), merasa senang dengan adanya program One Pesatren One Product (OPOP) yang diinisiasi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. (dok Humas Unusa)

Surabaya, PMP – Prof Dr KH Abdul Ghofur, pengasuh Pondok Pesantren (Pompes) Sunan Drajat Paciran Lamongan, mendukung penuh program OPOP (One Pesantren One Product). Dia mempersilahkan berbagai fasilitas ponpesnya dipergunakan demi keberhasilan program OPOP yang digagas Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Hal itu disampaikan KH Abdul Ghofur pada workshop OPOP yang digelar oleh Dinas Koperasi Jatim bidang pemasaran, di Ponpes Sunan Drajat, pada awal November silam.

Ada tiga pemberi materi, yakni Direktur OPOP Training Center Unusa Mohammad Ghofirin, Kepala Departemen Manajemen Bisnis ITS, dan perwakilan Tokopedia yang mengajarkan santri bagaimana berjualan secara online

“Saya senang karena melalui OPOP sudah ada yang benar-benar memikirkan kepentingan ponpes dan para santri. OPOP bakal bermanfaat sebagai bekal santri terjun ke masyarakat. Salah satu pilihan profesi bagi santri adalah berwirausaha,” kata KH Abdul Ghofur yang masih keturunan ke-14 Sunan Drajat, salah satu Wali Songo yang siar Islam di Pulau Jawa.

KH Abdul Ghofur dikenal sebagai pebisnis sukses. Ponpes Sunan Drajat memiliki berbagai bisnis. Mulai dari pabrik garam, pabrik air minum, pembuatan kapal, pembuatan pupuk, dll. Bahkan punya sembilan restoran di Malaysia yang terkenal dengan produk bola bakso merek Sunan Drajat.

“Silahkan contoh yang bisa dicontoh. Kalau bisa diduplikasi di ponpes masing-masing, saya justru senang,” ujarnya.

SMK Mini dan Koperasi Ponpes

Sebanyak 50 santri mengikuti workshop tentang jaringan pemasaran. Para peserta berasal dari 10 ponpes di Lamongan. Lima perwakilan dari setiap ponpes merupakan santri, guru pendamping, serta pengurus koperasi.

Peserta hanya berasal dari 10 ponpes karena hanya merekalah yang memenuhi dua persyaratan utama workshop, yakni memiliki SMK mini atau SMK di dalam ponpes, serta memiliki koperasi ponpes.

“Tujuan workshop adalah mensinkronkan pontensi pemasaran yang dimiliki setiap ponpes, karena mereka punya SMK mini dan punya koperasi ponpes,” kata Ghofirin.

Ghofirin dalam pemaparannya menyebut, santri tugasnya belajar dan bukan bekerja. Jika ada santri yang berhasil membuat sebuah produk yang layak jual, tidak serta merta dia bakal menghabiskan waktu untuk mengurus produknya.

“Santri tidak mungkin diberi target basis produk. Santri targetnya peningkatan pemahaman, ilmu pengetahuan dan keterampilan,” katanya.

Oleh sebab itu, menurut Ghofirin, persoalan bisnis yang umum dihadapi santri dan pesantren adalah bisnis yang tidak bisa berkembang lebih besar.  Juga susah diharapkan bakal menghasilkan pendapatan berkelanjutan.

”Nah agar tidak sia-sia usaha si santri, maka harus ditangkap pihak lain. Siapa? Ya tentu saja koperasi ponpes. Jadi kalau santri bisa membuat produk dan kemuian dikelola koperasi, maka hak merek atau hak paten, sertifikasi, atau izin edar bakal diurus koperasi,” paparnya.

Keberadaan kopersi tentu bakal sangat membantu santripreneur. Jika misalnya santri kekurangan modal, koperasi bisa membantu menyiapkan. Jika ada pesanan dalam jumlah besar, koperasi juga siap bantu.

“Maka akan terjadi siklus berkelanjutan. Akan terjadi kerjasama win-win solution antara pengurus SMK mini dan pengurus koperasi ponpes,” katanya.

Tak hanya KH Abdul Ghofur yang gembira, para santri pun merasa senang mengikuti workshop. “Mereka sangat senang karena baru paham apa tujuan OPOP,” pungkas Ghofirin. (gdn)

.