Remaja 17 Tahun Tewas Akibat Stroke, RS Tak Deteksi Awal Stroke Iskemik

Desember 8, 2019

Dokter pada awalnya tak menyadari Ben Littlewood (17) menderita stroke iskemik. Kondisinya baru diketahui setelah dilakukan CT scan ulang karena sudah empat hari tak sadarkan diri. (dok. Keluraga Littlewood)

Jakarta, PMP – Ben Littlewood (17) meninggal akibat serangan stroke setelah delapan hari dirawat di ruang ICU RS dalam kondisi tak sadarkan diri. Ibunya menyerukan agar dilakukan penelitian mendalam tentang penyebab stroke, karena saat CT scan awal, dokter tak menemukan adanya gangguan pada arteri basiliar atau pembuluh darah vital di otak.

Ben baru diketahui mengalami gangguan stroke iskemik – terganggunya pasokan darah ke otak akibat penyumbatan–  setelah empat hari dirawat di rumah sakit.

Ben awalnya hanya dianggap menderita kejang-kejang biasa, karena CT scan awal di otak tak menunjukkan adanya kejanggalan. Dokter pun hanya memberinya antibiotik dan obat antikejang. Namun karena tetap tak sadarkan diri, empat hari kemudian barulah dilakukanlah kembali pemindaian otak. Saat itulah ditemukan gejala stroke iskemik. Namun saying, semuanya sudah terlambat.

Sebenarnya pihak rumah sakit tak menyadari adanya gangguan di arteri basiliar karena kasus tersebut memang sangat jarang terjadi. Apalagi jika melihat usia Ben yang masih sangat muda.

Dr Shiva Koteeswaran, ahli radiologi yang melakukan CT scan awal terhadap Ben di Rumah Sakit Tameside Inggris mengatakan, dia melihat kondisi otak Ben normal.  “Tetapi perbedaan dan kesalahan dalam pemindaian memang bisa mencapai 20 persen. Pengalaman saya dengan trombosis basilar arteri sangat jarang dan saya belum pernah mendiagnosisnya selama 12 tahun bekerja,” katanya.

Namun dia mengaku menyesali semuanya. “Pada waktu itu saya tidak berpikir itu penting. Tetapi tiga bulan kemudian, saya diberitahu ada perbedaan. Jika melihat ke belakang dan mengetahui hasil akhirnya, saya sebenarnya bisa langsung melihat di bagian otak mana itu berada. Saya hanya berharap saya bisa memutar kembali jam ke masa lalu,” katanya.

Baca juga: Bocah Tiga Tahun Stroke, Tanda-Tandanya Tak Kenali Mainan Favorit

Sementera itu, dr Christopher Douglass, konsultan ahli saraf di Rumah Sakit Royal Salford mengatakan, adalah fakta penting bahwa tidak ada yang mencurigai stroke pada diri Ben.

“Dan saya harus mengatakan, stroke semacam ini memang sangat tidak biasa terjadi, bahkan pada pasien yang lebih tua. Untuk seorang anak berusia 17 tahun yang bugar dan sehat, memikirkan dia terserang stroke langka pastilah bukan pemikiran utama. Bahkan mungkin kita berpikir, dia hanya menderita penyakit virus seperti meningitis,” ujarnya.

Menurut dr Christopher, sebenarnya sudah biasa saat menangani penderita stroke, satu dari lima kasus tidak ditemukan penyebabnya dan bahkan berpotensi untuk tidak diketahui.

Pingsan di Dapur

Vicki Brocklehurst, ibunda Ben, adalah orang pertama yang menemukan Ben tak sadarkan diri di dapur. Pada 3 April 2019, sepulang kuliah, Ben hanya bermain di rumah sementara ibunya masih di kantor.

Pada sekitar pukul 5 sore, Vicki menerima panggilan dari Ben namun tak sempat terangkat. Vicki yang kemudian ganti menelepon, ternyata juga tak mendapat jawaban.

Menurut Vicki, Ben biasanya akan segera menelepon balik jika tak sempat menjawab saat mendapat panggilan. Namun setelah 20 menit tak juga bisa ditelepon atau menelepon, Vicki pamit dari kantor.

“Saya harus pulang, terjadi sesuatu yang tidak beres di rumah,” kata Vicki ke teman kantornya. Sekitar pukul 6.10 sore, Vicki yang tiba di rumah disambut anjingnya yang segera berlari ke dapur, ke tempat Ben berada. Ben tebaring di lantai dengan mangkuk makanan anjing terbalik.

“Aku memanggil ambulan dan paramedis datang. Mereka mencatat ada benjolan dan luka di dahinya,” kenang Vicki. Pihak rumah sakit segera melakukan CT scan terhadap Ben yang dirawat di ruang ICU karena tak sadarkan diri.

Kabar terbaru, hasil penyelidikan yang dilakukan pihak NHS Foundation pemilik RS Tameside menyimpulkan,  telah terjadi kesalahan saat pemindaian awal terhadap Ben. Dia dipastikan meninggal akibat trombosis arteri vertebralis atau stroke iskemik.

“Jelas dari bukti dokter bahwa pemindaian telah dilakukan dan tak menemukan gangguan di otak. Ben dirawat dengan antibiotik dan obatanti kejang, tetapi sayangnya tetap tidak sadar. Barulah pada 7 April dilakukan pemindaian ulang dan diidentifikasi penyebabnya adalah kasus stroke iskemik yang sangat jarang,” kata Chris Morris.

Pada akhirnya saat ditemukan serangan stroke iskemik, menurut Chris,  sayangnya tidak ada pilihan perawatan yang realistis dan Ben meninggal secara tragis. “Saya sangat menyesal mendengar kematian Ben yang tiba-tiba dan dramatis,” ujarnya.

Setelah kematian Ben, pihak keluarga dan teman-temannya mengumpulkan dana £ 2.100 untuk disumbangkan ke Asosiasi Stroke.(gdn)