Belajar Lebih Mencintai Indonesia Ala Kiai Zawawi Imron

Desember 27, 2019

KH D Zawawi Imron, pemeran Kiai Landung di film Penjuru 5 Santri, menjadi pembicara utama di Auditorium Unusa Surabaya. (Humas Unusa)

Surabaya, PMP – Indonesia adalah serpihan surga yang diturunkan Allah ke muka bumi. Begitulah kiasan yang pernah dilontarkan Rektor Universitas Al Azhar Mesir Prof Dr Syekh Mahmud Syaltut saat menjadi tamu Presiden Soekarno di awal tahun 1960 an.

“Pernyataan Rektor Al Azhar itu menunjukkan kekaguman orang asing terhadap Indonesia. Jika orang asing saja kagum, maka aneh kalau anak-anak Indonesia tidak mencintai tanar airnya,” kata KH D Zawawi Imron (74), sastrawan kelahiran Sumenep Madura yang dijuluki Penyair Celurit Emas, saat tampil di Kampus Universitas NU Surabaya (Unusa), beberapa waktu lalu.

Kiai Zawawi tampil menjadi pembicara utama pada diskusi karakter sekaligus pemutaran film ‘Penjuru 5 Santri’. Sebuah film berlatar belakang pondok pesantren yang mengajarkan kesederhanaan hidup, semangat tinggi menimba ilmu, serta kepatuhan kepada orang tua dan guru.

Kiai Zawawi memerankan Kiai Landung, salah satu tokoh sentral di film yang mengisahkan petualangan lima sekawan, yakni Sabar, Wahyu, Slamet, Sugeng dan Rahayu, yang mengaji di sebuah pondok pesantren nan asri yang diasuh Kiai Landung dan Gus Pras yang diperankan Rendy Bragi.

“Melalui film ini, kami ingin anak-anak Indonesia bisa mencintai tanah air, menghormati guru dan hidup damai. Indonesia adalah tanah air yang indah,” kata penulis kumpulan puisi Bulan Tertusuk Ilalang yang kemudian popular melalui film besutan Garin Nugroho.

Kalimat Kiai Landung itu disambut meriah para mahasiswa dan sivitas akademika yang memadati auditorium universitas milik Nahdlatul Ulama tersebut.

“Keindahan Indonesia harus dijaga dengan hati yang indah, bertaqwa kepada Allah, budi pekerti dan akhlak yang indah. Itu yang harus diluruskan dalam kehidupan sehari-hari,” pesannya.

Selain tentang mencintai Indonesia, Kiai Landung juga berpesan agar para muda sepenuhnya berbakti kepada Allah SWT dan orang tua. Dia mengisahkan bagaimana dulu harus menerima istri pilihan orang tua.Sesuatu yang tidak pernah disesalinya, dan kini terbukti Sang Isteri merupakan pendorong utama kesuksesannya.

“Hidup adalah ujian dan bukan surga yang serba indah. Hadapi ujian dengan hati yang bersih dengan tidak membenci siapa pun. Dengan tidak memiliki rasa kebencian, kita tidak akan memiliki rasa ingin membalas dan tidak punya waktu untuk membenci orang lain,” tutup Kiai Landung. (hps)