Berkah Gagal Ginjal, Mahasiswa Kedokteran Surabaya Sukses Bisnis Nasi Jepang

Desember 31, 2019

Dandy Rizaldi Putra dan adiknya Poppy Yufrinda di depan counter nasi Jepang Mentai Mentayo milik mereka. (dok pribadi)

Surabaya, PMP – Menderita gagal ginjal tak membuat putus asa Dandy Rizaldi Putra, mahasiswa Kedokteran Unusa (Universitas NU Surabaya). Dia justru memanfaatkan waktu luang cuti kuliah untuk memulai bisnis kuliner. Kini, Mentai Mentayo, nasi khas Jepang buatannya banjir pembeli.

“Awalnya karena hobi memasak. Saat cuti kuliah karena harus menunggu operasi tranplantasi ginjal, saya coba-coba memasak mentai (nasi Jepang). Eh, ternyata saos mentai buatan saya banyak yang suka, maka lahirlah Mentai Mentayo,” kata Dandy tentang bisnisnya yang kini beromzet hampir Rp 10 juta per bulan.

Dandy terpaksa cuti kuliah karena harus menjalani operasi transpalantasi ginjal. Untunglah ibunda tercinta merelakan ginjalnya, meski sempat terhalang karena kandungan antibodinya lebih tinggi dibanding ginjal Dandy.

Rencana operasi pada Januari 2019 terpaksa dibatalkan. Dandy sempat mendapat pendonor lain, namun kembali harus dibatalkan karena alasan kesehatan. Untunglah, saat datang ke RS Sardjito Yogyakarta pada Juni 2019, ada alat plasma exchange yang bisa menurunkan antibodi sang bunda.

“Alhamdulillah September lalu sudah dioperasi,” kata Dhany yang terlanjur mengajukan cuti setahun demi mendapatkan pendonor ginjal.

Mentai Mentayo milik Dandy yang dipatok Rp 35 ribu ternyata laris manis. Disukai kalangan mahasiswa dan pegawai kantoran.(dok pribadi)

Awal Omset Rp 1 Juta

Saat proses penantian itulah, Dandy mulai mencoba memasak mentai, atau tepatnya saos mentai, setelah mempelajarinya dari youtube. Begitu merasa kelezatan saos tak kalah dibanding yang dijual orang, Dandy memberanikan diri mengunggah di Instagram.

Respon ternyata bermunculan. Saat awal saja, ada sekitar 10 orang yang bertanya apakah dia menjual mentai. Kebanyakan yang bertanya memang teman-temannya sesama mahasiswa.

Dandy kemudian mencoba melihat harga mentai di Surabaya yang ternyata di atas Rp 45 ribu. Dia pun memutuskan menjual mentainya yang diberi nama Mentai Mentayo seharga Rp 35 ribu per porsi. Ternyata permintaan berdatangan.

“Pada awal Mei, pesanan mencapai 30 porsi. Itu artinya omset sudah  Rp 1 juta,” katanya sembari tertawa.

Nasi Mentai Mentayo ala Dandy berisi racikan salmon, crabstick dan chicken. Keuntungan bersar datang dari kepiting dan ayam yang harga bahan bakunya lebih murah. Sementara untuk salmon dipatok Rp 38 ribu.

Mengingat keterbatasan tenaga, Dandy dalam seminggu hanya membuka dua kali pemesanan atau PO melalui online. Setiap PO dibatasi 30 porsi yang artinya 60 porsi seminggu, atau 240 porsi sebulan

“Jadi omset dalam sebulan sudah hampir Rp 10 juta. Sementara keuntungan sekitar Rp 5 jutaan. Lumayan sekali. Saya benar-benar kaget,” katanya.

Dandy jadi pembicara seminar kewirausahaan. (dok pribadi)

Januari Buka Outlet

Mengingat pesanan 240 porsi sebulan sudah stabil, Dandy melibatkan adik kandungnya yang baru lulus Fakultas Manajemen Unair. Bahkan kini, Dandy memiliki satu karyawan lagi untuk membantu memasak.

Dandy memulai bisnis dengan tabungannya Rp 3 juta yang diantaranya untuk membeli peralatan memasak dan membuat logo serta stiker untuk promosi. Soal kunci sukses merintis bisnis, menurut Dandy jangan takut berpromosi dan harus menjaga kualitas makanan.

“Jangan takut rugi melakukan promosi. Kalau takut rugi, gak akan pernah bisa sukses. Toh kalau rugi bisa dijadikan pengalaman. Namanya bisnis, kita tidak tahu kapan bisnis akan up atau kapan down,” pesannya.

Penting juga menjaga kepercayaan pelanggan. Pernah pelanggan komplain karena nasinya dirasa kurang matang. Dandy minta maaf dan segera mengirim ulang pesanan secara gratis.

Menurut Dandy, pasar mentai di Subaya besar sekali. Kebanyakan memang kalangan mahasiswa, seperti mahasiswa Unusa, Hang Tuah, atau Petra.

“Awalnya saya pikir kemahalan untuk mahasiswa, tapi ternyata tidak. Sekarang mulai ada pasar dari orang-orang kantor,” ujarnya.

Guna memperluas pasar, Dandi berani memberi reward ke pelanggan untuk ikut mempromosikan Mentai Mentayo ke teman-teman dan komunitasnya. Dia bakal memberi Rp 100 ribu bagi siapa saja yang membantu promo produknya.

Kini, Dandy sudah enam kali berjualan di ajang pameran dan sukses. Contohnya dua kali di Sutos. Bahkan dia diundang menjadi pembicara dalam seminar memasak di Galaksi Mall.

Pada Januari nanti, Dandysudah berencana membuka outlet di Aiola Grand City. Dia sendiri yang bakal mengawasi penjualan offline, sementara sang adik tetap fokus di online.

Tak hanya itu, Dandy bahkan sudah joint dengan dua kakak kandungnya di Yogyakarta dan Jakarta untuk berjualan Mentai Mentayo.

“Saya baru percaya kepada kakak kandung, sebab mulai ada orang yang mengajak saya berpartner atau franchise.  Nah join dengan kakak, saya minta bagian 15 persen dari total omset,” katanya.

Dandi berpesan kepada para milenial agar memanfaatkan waktu senggang dengan kegiatan produktif yang bisa menghasilkan pemasukan.

“Kuliah kan pagi sampai sore. Sabtu dan Minggu biasanya kosong.  Jadikan waktu senggang untuk kegiatan produktif. Kan kalau sukses kita sendiri yang bangga,” pungkasnya. (bhimo)