Difi A Johansyah: Uang Koin di Jatim Rp 39 Miliar, Kembali ke BI Rp 164 Juta

Januari 20, 2020

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur Difi A Johansyah (dua dari kiri) dan Wagub Jatim Emil Dardak (dua dari kanan) pada kegiatan Peduli Koin Rupiah, di Kantor Perwakilan BI Jatim, Minggu (19/1/2020).

Surabaya, PMP – Uang koin seringkali dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Selain nilainya kecil, uang koin juga memberati kantong atau dompet. Khusus untuk Jawa Timur, Bank Indonesia di sepanjang tahun 2019 mengeluarkan Rp 39 miliar uang koin dan hanya kembali ke Bank Indonesia Rp 164 juta.

“Artinya ada sekitar Rp 38 miliar uang dalam bentuk koin yang mungkin mengendap di masyarakat Jatim. Mungkin terselip di laci, atau tercecer di tempat lainnya di rumah,” kata Difi A Johansyah, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, pada kegiatan Peduli Koin Rupiah yang digelar di pelataran Gedung BI Jatim, Minggu (19/1/2020).

Bank Indonesia menggandeng Dinas Pendidikan Kota Surabaya yang mengerahkan belasan sekolah dasar untuk mengumpulkan uang koin dari para muridnya. Salah satu tujuannya, memberi pemahaman para siswa sekolah dasar tentang arti penting uang sebagai alat pembayaran. Tercatat penukar terbesar adalah para murid SD Dr Soetomo 5 Surabaya sejumlah Rp 16.800.000.

Apa tujuan utama BI Jatim menarik kembali uang koin yang mengendap di masyarakat?  Bagaimana pengalaman BI mengelola uang koin? Berikut wawancara dengan Difi A Johansyah:

Apa maksud Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Timur menggelar kegiatan Peduli Koin Rupiah?

Begini, sesuai tema yang kita usung pada kegiatan Peduli Koin Rupiah adalah ‘Kecil Nilainya, Besar Manfaatnya’. Ada beberapa kejadian yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kegiatan ini, yakni ketika beberapa hari lalu di Banyuwangi, ada orang yang membeli sepeda motor dengan mengunakan uang koin. Hal itu menunjukkan bahwa uang koin ternyata masih berharga di masyarakat.

Bagaimana sambutan masyarakat?

Alhamdulilah antusiasme masyarakat Surabaya betul-betul di luar ekspektasi kami. Bagi kami, Bank Indonesia, kegiatan Peduli Koin Rupiah untuk tahun ini sudah dua kali digelar, yang pertama di Kota Medan.

Saya selalu tekankan kepada teman-teman di BI, jangan anggap enteng antusiasme masyarakat terhadap uang koin. Makanya kami berupaya keras melayani dengan baik masyarakat yang ingin menukarkan uang koinnya dengan uang kertas yang nominalnya memang lebih besar.

Tadi bahkan di luar Gedung BI, saya memperhatikan ada bapak-bapak yang mondar-mandir tapi tidak bawa kantong berisi uang koin. Saya tanya,”Bapak mau menukar uang koin?” Dia menjawab, tidak, saya mau mengambil uang koin. Lha padahal hari ini, kami gerakannya justru mengumpulkan uang koin. Saya agak terperangah juga. Hahaha…

Bagaimana pengalaman menggelar kegiatan mengumpulkan uang koin?

Pengalaman di berbagai kota sejak dulu, uang koin itu sebelum kembali dimasukkan ke BI, sudah langsung diserap oleh para pengelola gerai ritel seperti Alfamart atau Indomart. Jadi kami tinggal memfasilitasi mesin hitung uang logamnya untuk mempermudah dan mempercepat prosesnya.

Baca juga : Tukar Uang Koin Sejumlah Rp 50 Ribu Berhadiah Motor

Apa pentingnya bagi Bank Indonesia menarik kembali uang koin di masyarakat?

Begini ya, secara umum, total uang yang diedarkan oleh BI di masyarakat seluruh Indonesia pada tahun 2019 sebanyak Rp 682,2 triliun, terdiri uang kertas Rp 673 triliun dan uang koin logam Rp 8,96 triliun.  Sementara di Jatim, kami mengeluarkan Rp 57 triliun dengan jumlah uang logam Rp 39 miliar.

Nah di Jatim sendiri selama 2019, uang logam yang masuk kembali ke BI ternyata hanya Rp 164 juta atau hanya 0,41%. Artinya ada sekitar Rp 38 miliar uang dalam bentuk koin yang mengendap di masyarakat. Mungkin terselip di laci, atau tercecer di tempat lainnya di rumah.

Bank Indonesia yang mempunyai tugas mengeluarkan uang sebagai alat pembayaran, harus pula bertanggungjawab agar uang pembayaran terus bergerak. Jangan sampai tersimpan. Memang faktanya uang kertas lebih gampang bergerak karena ringkas, nilainya lebih besar, dsb. Sementara uang koin yang nilainya lebih kecil relatif idle. Namun karena dia alat pembayaran, harus tetap berputar agar bisa digunakan sebagai alat transaksi dalam perekonomian.

Bukankah uang koin yang mengendap di masyarakat jumlahnya tak signifikan?

Lho, seandainya Rp 38 miliar tadi berputar, maka artinya masyarakat akan mendapat tambahan uang untuk mendorong kegiatan ekonomi sebesar Rp 38 miliar. Untuk kegiatan Peduli Koin Rupiah ini saja, kami siapkan modal Rp 1,7 miliar uang kertas.

Artinya dari kegiatan ini, kami mendorong kegiatan ekonomi masyarakat sekitar Rp 1,7 miliar, karena dari uang logam yang seolah-olah tidak berguna, berubah menjadi uang yang kemudian dipakai dan kembali berputar, sebab masyarakat menukar koinnya dengan uang kertas.

Tadi ketika saya cek beberapa sekolah dasar, saya melihat ada sekolah yang murid-muridnya mengumpulkan dan menukar uang koin hingga Rp 16 juta. Jumlah itu sudah bisa untuk membeli motor kan? Artinya, jika kita kumpulkan, uang koin bisa menjadi kekuatan yang mendorong ekonomi masyarakat.

Bagaimana pengalaman Bank Indonesia mengelola uang koin?

Dulu memang sangat masif, misalnya saat Telkom masih menggunakan telepon koin. Telkom sampai kebingungan mau diapakan uang koin yang mereka peroleh sebanyak itu. Atau di Jateng, masih banyak penjual jamu yang menjual jamunya seharga Rp 200 atau Rp 500. Kami dulu bahkan punya taskforce menarik uang logam. Sebab sudah menjadi tugas BI untuk melancarkan uang yang mengendap di masyarakat agar bisa kembali berputar.

Sebenarnya melalui kegiatan ini, kami mempermudah masyarakat untuk menukarkan uang kecil ke uang besar, sehingga dengan ditukarkan manfaatnya bisa lebih besar.

Uang logam yang kembali masuk ke Bank Indonesia bakal diapakan?

Itu nanti bakal kami pilah, yang rusak kami simpan, sementara yang masih bagus kami edarkan kembali. Bisa kami infomasikan, banyak perusahaan-perusahaan yang menunggu kegiatan Peduli Koin Rupiah ini, khususnya perusahaan retail yang butuh uang logam. Kebutuhan uang logam untuk perusahaan retail itu sangatlah besar.(hps)