Musik Disko: John Travolta, Diskotek Tanah Abang Timur hingga Videostarr

Mei 23, 2020

John Travolta di film Saturday Night Fever yang membuat musik disko mendunia. (istimewa)

Surabaya, PMP – John Travolta menghentak dunia setelah sukses memerankan Tony Manero, pemuda yang menghabiskan setiap malam minggunya dengan menari mengikuti irama disko, musik pop menghentak-hentak yang menggoda seluruh tubuh bergoyang di film Saturday Night Fever. Kini, generasi milenial mencari pelarian pada musik disko lawas melalui Suara Disko dan Videostarr.

Musik disko yang popular di era 1970-1990 berbeda dengan House Music yang lebih dikenal generasi milenial. Iramanya sama-sama menghentak dan memekakkan telinga, namun House Music agaknya hanya mengundang kepala untuk bergoyang.

Meskipun musik disko lahir di negeri Paman Sam di awal 1970-an, di saat musik dansa-dansi mulai usang dan musik rock sedang berjaya, nama disko ternyata justru berasal dari Perancis, tepatnya dari sebuah klub kecil   di bilangan Rue de la Huchette yang bernama La Discothèque.

Pada tahun 1930-an, klub kecil ini menjadi tempat berkumpul sekelompok pemuda yang menamakan diri Les Zazous untuk merencanakan perlawanan terhadap pasukan NAZI yang saat itu menduduki Perancis. Selain itu, mereka berkumpul untuk berdansa-dansi sembari mendengarkan rekaman lagu-lagu swing dan jazz ala Amerika yang sempat dilarang diputar oleh NAZI. Seusai perang, klub-klub semacam ini menjadi popular dan mulai menyebar ke kota-kota di Eropa hingga Amerika.

Pada tahun 1970-an, para Disc Jockey (DJ) klub-klub disko di Amerika mulai memainkan musik tanpa terputus menggunakan dua pemutar piringan hitam. Musik yang dimainkan awalnya merupakan musik berirama soul, funk dan latin, namun perlahan-lahan mulai mendapat pengaruh dari genre musik lain seperti psikedelik, salsa dan pop-rock.

Pengaruh baru inilah yang kemudian melahirkan genre musik baru yang disebut sebagai musik disko. Pada dekade 1970-1990, musik disko mengalami masa keemasan dengan populernya grup musik seperti Boney M, KC and The Sunshine Band, atau Bee Gees.

Suasana Diskotek Tanamur atau Tanah Abang Timur. (Dokumen Pribadi/Merry Angkoso)

Video Starr dan Suara Disko

Seiring masuknya pengaruh budaya barat di Indonesia pada tahun 1970-an, musik disko makin dikenal dan populer di tanah air. Kepopulerannya ditandai dengan berdirinya diskotek pertama di Jakarta yaitu Tanamur atau Tanah Abang Timur, pada November 1970. Pengunjungnya pun beragam, mulai dari pekerja kantoran hingga mahasiswa-mahasiswi. Geliat Diskotek Tanamur diikuti munculnya diskotek lain seperti Mini Disco, Pit Stop, atau Disco 369. Diskotek-diskotek pun bermunculan di kota-kota lainnya di Indonesia.

Munculnya John Travolta dan Saturday Night Fever membuat demam musik disko semakin terasa dan musik disko di Indonesia memasuki masa jayanya. Banyak perusahaan-perusahaan rekaman yang mulai merekam dan mempopulerkan lagu-lagu disko. Sementara di luar diskotek, para pemuda mulai menikmati disko saat merayakan ulang tahun, acara kelulusan, dan pesta lainnya dengan menyewa alat-alat disko dari para pemilik usaha disko mobile.

Memasuki era tahun 1990-an, musik disko mulai kehilangan taji. Musik-musik pop mulai mengambil hati masyarakat Indonesia, melalui musisi-musisi seperti KLA Project, Potret, atau Base Jam. Namun disko tetap memberi warna, seperti lahirnya genre musik dansa baru yang disebut Electronic Dance Music (EDM). Seiring berakhirnya era musik disko, diskotek dan klub-klub hiburan malam mulai beralih pada musik-musik EDM.

Namun di akhir dekade 2010-an, musik disko kembali muncul akibat  jenuhnya generasi milenial terhadap musik-musik saat ini. Mereka mencari pelarian pada musik-musik disko lawas yang masih relevan didengarkan sebagai alternatif untuk menghilangkan kesuntukan dengan bergoyang tubuh.

Alhasil, muncullah Suara Disko dan Videostarr. Suara Disko tak lain acara disko milenial yang heboh di tahun 2017, menampilkan diskoria duo DJ beranggotakan Merdi dan Aat, yang khusus memainkan musik populer Indonesia era tahun 1970-1990. Hadirnya acara-acara disko milenial ini membuktikan bahwa disko belum mati, dia hanya tertidur panjang selama dua dekade.(Alvian Febrianto)