Hati-Hati ‘Jahili’ Burung Gagak, Pendendam dan Sanggup Mengingat Wajah Manusia

Juni 11, 2020
Corws attack

Prof John Marzluff yang bertopeng sedang diserang burung gagak- (Keith Brust)

Jakarta, PMP – Hati-hati memperlakukan burung gagak karena ternyata pendendam dan sanggup mengingat wajah manusia yang telah berlaku semena-mena kepadanya. Seorang buruh asal India selama tiga tahun lebih diserang sekawanan burung gagak hanya gara-gara gagal menyelamatkan nyawa anak gagak yang terjerat.

“Studi kami menunjukkan, ingatan burung gagak bisa bertahan setidaknya lima tahun bahkan lebih,” kata Prof John Marzluff (62), peneliti satwa liar dari University of Washington’s School of Forest Resources seperti dikutip Seeker.

Marzluff dan rekannya baru saja melakukan penelitian dengan menjerat 15 burung gagak dan setelah itu melepaskannya di lima lokasi berbeda. Saat beraksi, Marzluff dan rekannya selalu mengenakan topeng.

Setelah dilepas, burung-burung yang bebas ternyata segera memarahi pemakai topeng. Burung gagak yang merasa terancam, secara otomatis bakal berteriak keras dan bakal terdengar seperti orang marah. Mendengar keributan itu, burung gagak lainnya berdatangan dan ikut marah.

Persoalannya, gagak-gagak yang marah itu ternyata sanggup mengingat wajah manusia yang telah menjahilinya. Bahkan bisa menjadi dendam kesumat tahunan.

Baca juga: Dicurgai Jadi ‘James Bond’ Pakistan, Seekor Burung Merpati Ditahan Polisi India

Tiga Tahun Diserang Kawanan Gagak  

Penemuan Prof Marzluff menjawab apa yang dialami Shiva Kewat, buruh harian di Desa Sumela, Distrik Shivpuri, Provinsi Madhya Pradesh, India, yang selama tiga tahun diserang kawanan burung gagak yang telah menganggapnya sebagai musuh bebuyutan.

Crows attack

Shiva Kewat diserang burung gagak. (istimewa)

“Sekarang saya selalu membawa tongkat setiap kali keluar rumah untuk mengusir gagak yang bersatu dan menyerang saya,” kata Shiva.

Pada tahun 2016, Shiva berupaya menolong seekor anak gagak yang terjerat di jaring. Sayang, bayi gagak itu justru mati di tangannya dan rupanya dilihat oleh induk gagak yang mengawasi dari ketinggian. Sang induk yang marah berteriak-teriak sehingga mengundang kedatangan gagak-gagak lain. Rupanya sejak saat itu, kawanan gagak itu menganggap Shiva sebagai musuh bebuyutan.

“Jika saja aku bisa menjelaskan kepada mereka bahwa aku hanya berusaha membantu. Sialnya, mereka menganggap aku telah membunuh anak burung itu,” kata Kewat seperti dikutip dailymail.co.uk yng menulis crows attack dengan judul awal: Angry Birds.

Sejak saat itu, Shiva setiap keluar rumah hampir selalu menengadah untuk menghindari serangan pasukan gagak. Bahkan setelah tiga tahunan, kawanan burung gagak selalu menyerang jika Shiva keluar rumah, menukik untuk menyodok atau mematuk kepala atau bagian tubuh lainnya. Apa yang dialami Shiva telah menjadi tontonan warga desa, namun tak banyak yang bisa dilakukan untuk menolongnya.

Menurut Ajay Gadikar, ahli burung di Indore, burung memiliki ingatan sangat kuat dan bahkan beberapa jens burung indera mereka justru lebih tajam dari manusia.

“Itulah sebabnya beberapa spesies burung sanggup terbang dan bermigrasi ribuan mil dan setelah itu kembali pulang ke rumah,” katanya.

“Gagak pasti ingat wajah manusia dan mereka juga agresif. Pandangan dan indera pendengaran mereka lebih tajam dari pada manusia. Burung hitam itu memiliki rentang hidup rata-rata berkisar antara 15 dan 20 tahun,” tambahnya.

Kini, pendapat Ajay Gadikar itu dipertajam dengan hasil penelitian yang dilakukan Prof John Marzluff. (hps)