Pakai Kacamata Tiga Kali Kurangi Risiko Tertular Virus Corona  

Juni 12, 2020
Vanessa Angel dan suami tercinta bermasker dan berkacamata untuk hindari penularan virus Corona.

Ilustrasi bermasker dan berkacamata di angkutan publik. (Instagram/@vanessaangelofficial)

Jakarta, PMP –  Studi terbaru yang diterbitkan The Lancet menyebut, pemakaian pelindung mata yang tepat, termasuk kacamata dan pelindung wajah, tiga kali kurangi  risiko tertular virus Corona.  Pada saat awal pandemi COVID-19, para peneliti menyebut penularan virus paling umum melalui droplet atau percikan ludah penderita yang masuk ke hidung dan mulut orang sehat, termasuk melalui mata.

Kini, para peneliti baru saja menemukan angka rata-rata risiko tertular turun dari 16% menjadi 5,5% bagi mereka yang mengenakan pelindung mata saat beraktivitas di luar rumah dibandingkan mereka yang tidak menggunakannya.

Persentase didapat berdasarkan data dari 172 studi di 16 negara dan lima benua. Studi menyebutkan: memakai pelindung mata dapat membuat penularan COVID-19, juga penularan virus serupa seperti SARS dan MERS, berpeluang tiga kali lebih kecil.

Saat ini, CDC (Centers for Disease Control and Prevention), lembaga kesehatan masyarakat yang merupakan bagian dari US Department of Health and Human Services (Kementerian Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS), hanya merekomendasikan pelindung mata bagi petugas kesehatan.

Namun para peneliti menganjurkan masyarakat umum untuk ikut memakainya.

“Pelindung mata biasanya kurang dipertimbangkan meskipun itu bisa efektif di masyarakat,” kata Profesor Holger Schünemann dari McMaster University di Kanada yang ikut memimpin penelitian dalam rilisnya.

Menurut Profesor Holger Schünemann, metode terbaik untuk melindungi diri terhadap virus corona adalah kombinasi dari semua metode pencegahan yang sudah terbukti, yakni menjaga jarak fisik, masker wajah, cuci tangan dan pelindung mata.

Para peneliti berharap temuan mereka akan membantu mempengaruhi rekomendasi di masa depan tentang cara melindungi terhadap virus Corona.

“Pemerintah dan komunitas kesehatan masyarakat dapat menggunakan hasil kami untuk memberikan saran yang jelas untuk pengaturan komunitas dan petugas kesehatan tentang langkah-langkah perlindungan ini untuk mengurangi risiko infeksi,” pungkasnya.(bim)