Pariwisata Luar Angkasa Hampir Nyata, Perusahaan SpaceX Orbitkan Astronot

Juni 23, 2020
Dragon SpaceX

Pesawat ruang angkasa Dragon diluncurkan dengan roket Falcon 9 dalam misi Demo-2 SpaceX, membawa dua astronot NASA Bob Behnken dan Doug Hurley. (SpaceX)

Surabaya, PMP – Pada Sabtu sore 30 Mei 2020, waktu Florida atau minggu pagi waktu Indonesia, setelah sempat tertunda dua hari, sebuah roket akhirnya meluncur dari fasilitas peluncuran 39A milik NASA yang terletak di Merrit Island.

Tidak seperti peluncuran roket-roket sebelumnya, peluncuran roket kali ini merupakan momen bersejarah dan menandai era baru penerbangan ruang angkasa.

Roket yang diluncurkan tidak lain merupakan roket Falcon 9 milik SpaceX, perusahaan swasta di bidang penerbangan antariksa milik Elon Musk (48). Sejarah pun tercipta, di mana sebuah perusahaan swasta sanggup mengorbitkan astronot ke ruang angkasa, bahkan ke stasiun ruang angkasa internasional ISS (International Space Station).

Elon Musk adalah insinyur dan miliarder yang mendirikan beberapa perusahaan untuk memecahkan tantangan lingkungan, sosial dan ekonomi. Dia mendirikan Space Exploration Technoligies (SpaceX) di tahun 2002 dengan impian menjadi perusahaan swasta pertama yang berhasil meluncurkan pesawat ruang angkasa menuju ISS.

Musk yang masuk jajaran orang terkaya ke-80 dunia tahun 2017 versi Forbes dengan kekayaan US$ 13,9 miliar atau sekitar Rp 200,2 triliun, juga mendirikan Tesla Motor untuk mobil listrik dan PayPal merupakan sistem pembayaran elektronik yang menggantikan transaksi konvensional berupa cek dan transfer uang secara global.

Mengusung nama misi ‘Demo-2’, roket ini membawa kapsul antariksa bernama Dragon yang di dalamnya terdapat dua astronot asal Amerika Serikat yaitu Bob Behnken dan Doug Hurley. Keduanya astronot veteran yang telah beberapa kali dikirim ke stasiun ISS menggunakan pesawat ulang-alik. Mereka direncanakan tinggal di ISS selama 30 hari sampai 119 hari sebelum kembali lagi ke Bumi.

Elon Musk SapceX

Elon Musk dan Dragon.(SpaceX)

Lebih Murah Rp 864 Miliar

Salah satu alasan utama mengapa peluncuran roket berawak perdana milik SpaceX istimewa, tak lain karena untuk pertama kalinya astronot dapat diorbitkan ke luar angkasa dengan biaya jauh lebih murah. Perusahaan SpaceX dalam situs resminya menuliskan: “Mayoritas biaya peluncuran berasal dari biaya pembuatan roket yang biasanya hanya dapat diterbangkan sekali saja”.

Pernyataan tersebut sejalan dengan fakta bahwa pada era Space Race di tahun 60-an, biaya peluncuran roket sangat mahal karena roket yang telah diluncurkan akan dijatuhkan ke laut dan tidak bisa dipergunakan kembali.

Meskipun telah dilakukan terobosan di era tahun 80-an, di mana NASA mulai menggunakan pesawat ulang-alik yang dapat diterbangkan berulang kali, biaya pengorbitan astronot ke luar angkasa memang dapat dikurangi namun tetap saja mahal. Penyebabnya, bagian roket pendorong pesawat ulang-alik tidak dapat digunakan kembali setelah peluncuran, tidak seperti bagian pesawatnya.

Tidak seperti wahana-wahana antariksa tersebut, roket-roket SpaceX, seperti Falcon 9 cukup revolusioner karena dapat digunakan kembali setelah diluncurkan. Bagian booster atau pendorong roket dapat mendarat kembali secara otomatis setelah meluncur.

Sedangkan bagian kapsul yang membawa penumpang dan kargonya juga dapat digunakan kembali setelah mendarat di laut ketika misi berakhir. Maka biaya penerbangan ke ruang angkasa dapat dikurangi secara drastis.

Untuk sekali misi luar angkasa menggunakan modul antariksa SpaceX, biaya yang dibutuhkan berkisar US$ 20 juta atau sekitar Rp 288 miliar per kepala. Biaya ini US$ 60 juta atau Rp 864 miliar lebih murah dibandingkan modul Soyuz milik badan antariksa Rusia, Roscosmos yang selama ini digunakan untuk mengirim astronot AS seiring berakhirnya penggunaan pesawat ulang-alik pada tahun 2011 silam.

SpaceX NASA

Dua astronot NASA Bob Behnken dan Doug Hurley. (SpaceX)

Manusia ke Mars 2050

Keberhasilan misi luar angkasa ‘Demo-2’ cukup bersejarah bagi banyak pihak. Bagi Amerika Serikat, keberhasilan misi ini menandai pertama kalinya NASA dapat kembali mengirim astronot-astronotnya ke ISS dari tanah Amerika, setelah hampir satu dekade harus mengirim astronotnya lewat badan antariksa Rusia.

Bagi SpaceX, keberhasilan misi ini memantapkan langkah mereka untuk menjadi perusahaan komersial antariksa. Sedangkan bagi masyarakat umum, keberhasilan misi ini berarti ke depan perjalanan antariksa akan lebih mudah dan murah bagi warga sipil.

Setelah berhasil mendaratkan kedua astronot, NASA dan SpaceX berencana mulai mengirimkan astronot secara rutin ke ISS, sekaligus membuka peluang berkembangnya pariwisata luar angkasa bagi warga sipil, di mana para turis nantinya dapat mengunjungi ISS atau sekadar merasakan suasana terbang tanpa gravitasi di orbit terluar bumi.

Pihak SpaceX bahkan berencana kembali mengirimkan manusia ke bulan pada tahun 2024, juga mendaratkan manusia pertama di planet Mars pada tahun 2050 menggunakan roket yang berukuran lebih besar daripada Falcon 9. Kita tunggu saja.(Alvian Febrianto)