Indayati Oetomo: Jadilah Pribadi Baru di Masa Pandemi, Ubah Kesulitan Jadi Peluang

Juni 27, 2020
John Robert Powers

Indayati Oetomo, Direktur Internasional John Robert Powers.

Surabaya, PMP – Tidak ada yang abadi di dunia, termasuk pandemi COVID-19 yang juga pasti berakhir. Mereka yang tak menyerah di masa pandemi dengan terus berkreasi dan mencari peluang, bakal lebih siap menghadapi era New Normal.

“Kenapa kita tidak cepat mencari pengetahuan baru untuk meningkatkan soft skill dan keterampilan, sehingga memasuki New Normal kita langsung take off sementara orang lain tertatih-tatih,”  kata Indayati Oetomo, Direktur Internasional John Robert Powers (JRP), sekolah kepribadian yang dibuka di Surabaya 28 tahun silam.

Menurut Indayati, semua orang juga tak membayangkan dunia bakal mengalami krisis hebat pandemi COVID-19 yang menyerang secara holistik, baik jasmani, rohani dan materi.

“Faktor rohani atau mental health (kesehatan mental) menjadi kunci survive dan menjaga dua faktor lain,” katanya di Kantor JRP Surabaya, Rabu (24/6/2020).

Bagaimana seharusnya bersikap di masa pandemi? Bagaimana agar sukses pascapandemi? Berikut wawancara dengan Indayati Oetomo:

Bagaimana seharusnya bersikap di masa pandemi?

Nomer satu, kita harus berpikir tidak ada sesuatu yang abadi  di dunia kecuali kematian. Jadi yang namanya krisis juga tidak akan abadi dan suatu saat berakhir.

Nah persoalannya, apakah kita hanya akan duduk diam menunggu sesuatu yang kita sendiri tidak tahu kapan berakhirnya? Atau kita terus berjalan hingga menemukan titik terang?

Saya menganjurkan Bring Out The New You atau jadilah pribadi baru, artinya berubah dari kebiasaan lama untuk memulai kehidupan baru. Kekurangan dan kegagalan masa lalu lupakan saja. Kalau faktanya sampai saat ini kita masih bisa bertahan, artinya ada kekuatan tersembunyi di dalam diri kita. Nah keyakinan seperti itu harus terus dipelihara.

Baca juga: Tak Bisa Kuliah, Farhan Punya Bisnis Jasa Beromset Seratus Juta Sebulan di Usia 20 Tahun 

Bukankah tidak mudah terus optimis di saat krisis? 

Seiring tuntutan zaman, jadilah pribadi adaptable karena dunia terus berputar. Kalau kita tidak berjalan mengikuti pergerakan dunia, kita yang justru jungkir balik. Kalau kita berhenti, justru kita yang akan tenggelam.

Saya bisa memberikan spirit ini karena saya juga sempat breakdown mental di awal Maret. Tapi saya tidak mau larut karena saya tidak tahu kapan ending-nya krisis ini dari kehidupan dan bisnis. Makanya saya putuskan terus berjalan.

Itu yang saya mau ajak dari teman-teman semua. Mari memperluas kreativitas karena kita sekarang memiliki waktu sangat banyak. Jika kreativitas kita belum tinggi, kenapa pula hanya termenung?

Kenapa kita tidak cepat cari pengetahuan baru untuk meningkatkan soft skill dan keterampilan, sehingga begitu memasuki New Normal kita bisa langsung take off sementara orang lain tertatih-tatih. Makanya saya ingin take off duluan di saat banyak orang menunda. Sudah dikasih waktu oleh Tuhan untuk belajar, tetap saja tidak mau belajar. Keluarlah dari zona nyaman karena sebenarnya difficulty is opportunity.

Maksud Anda bisnis JRP sempat goyah di awal pandemi?

Kondisi telah menyebabkan ada yang sanggup jalan, ada yang patah semangat. Begitu juga JRP. Saya bilang JRP tahan banting karena sebenarnya hanya home industry dan bukan perusahaan besar. Tahun lalu JRP sudah tidak punya beban, tidak punya  pinjaman. Lalu sekarang kena COVID-19 ini.Tapi saya bukan orang yang mudah menyerah, makanya harus terus berjalan.

Bagaimana kondisi di awal pandemi?

Sekali lagi saya harus akui sempat down mental . Namanya orang berproses pasti down karena saya bukan superwoman. Tapi tidak boleh berlama-lama down karena saya motornya. Apalagi saya yang sudah mengalami empat krisis di tahun 1998, 2008, 2018 dan sekarang 2020.

Krisis 1998 sedikitpun JRP tidak goyah dan justru naik. Tahun 2008 naik, tahun 2018 ada penurunan sedikit. Dan 2020 hingga bulan ini saya ndlosor (tersungkur), kecuali ada mukjizat hingga Desember nanti.

Omzet JRP pada tahun 2019 tertinggi sepanjang keberadaannya di Indonesia. Kalau kondisi saat ini, saya tidak berani ngomong karena mulut harus bicara hal-hal baik. Tidak boleh omong jelek dan harus optimis. Tapi saya juga harus realistis.

Faktanya pada Juni ini,  kantor cabang JRP Medan saya perkecil jadi kantor representatif pakai co-working agar murid-murid di Medan tidak seperti anak ayam kehilangan induk. Kantor perwakilan JRP harus ada sehingga mereka tidak merasa kami tinggalkan.

Bagaimana langkah JRP di masa pandemi?

JRP membuka kelas online sejak Maret dan kita beri ekstra offline begitu kondisi berangsur normal. Kelas online hanya mengisi kekosongan agar apa yang sudah diajarkan tidak terputus karena menyambungnya perlu warming up. Jadi sekarang kita lakukan kombinasi online-offline.

Kiat lainnya?

Program-program kita ganti. Sekarang program ada tiga, yakni personality, professional dan leadership. Saat ini kami tidak membuka kelas baru program lifetime karena itu program seumur hidup dan menuntut  komitmen. Siswa program lifetime tetap bisa ikut ketiga program lainnya secara gratis.

Kami manajemen JRP membiasakan bicara terbuka. Telling the truth, not over promised. Saya tidak pernah omong muluk, tapi realistis sesuai fakta dan terbuka, baik pada manajemen maupun siswa. Meski ini bisnis, saya tidak mau over promised karena janji itu mahal. Kebiasaan ini  menjadi keteladanan nyata yang kami ajarkan. Kematangan sikap seseorang bisa dilihat dari seberapa kuat dia menepati janjinya.

Bisa dijelaskan lebih jauh tentang Bring Out The New You?

Mari kita lahir baru dengan pola pikir baru, rencana lebih baru, sikap lebih baru dan semangat baru. Ibarat berjalan di terowongan gelap. Kalau kamu berhenti ya di sekitarmu bakal tetap gelap. Tapi kalau kamu terus berjalan, kamu akan ketemu titik terang. Jadi teruslah berjalan dengan  semangat dan perubahan.

Apa pelajaran dari work from home?

Kalau mau introspeksi, mungkin dulu kita pernah terpikir lebih enak bekerja dari rumah daripada ngantor. Sekarang ketika ternyata benar-benar kerja di rumah, kata Tuhan, tuwuk-tuwukno (puaskan) kamu di rumah. Nah, jangan sampai diam lama di rumah tapi tidak ada perubahan karena bakal kehilangan peluang dan rugi besar.

Saya mau ingatkan bahwa harta setiap manusia yang paling berharga hanya satu yaitu waktu. Setiap manusia punya waktu sama, masing-masing 24 jam dan itu pembagian adil dari Tuhan. Nah waktu kita saat berkerja dari rumah harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

Ada seorang bos bilang ke saya, ‘Sekarang aku kerja dari rumah, justru bisa mereorganisasi perusahaan’. Nah ini yang disebut Bring Out The New You. Ada sesuatu yang berubah dan tidak seperti yang lalu.

Apa impian anda ke depan?

Saya mau terus berkiprah. Jika Tuhan izinkan JRP tetap bertahan, saya tetap ingin punya kontribusi kepada bangsa dan negara melalui pembangunan SDM. Saya ingin melihat SDM Indonesia punya jati diri dan kematangan  sikap. Jika itu terjadi saya baru bisa lega.

Tapi karena hal itu masih jauh, maka saya harus work hard lagi.  Kalau saya masih diberi kekuatan meski umur sudah 64 tahun, kenapa pula saya harus pensiun? Pensiun yang hakiki adalah saat kita dimasukkan lubang 2×1 meter.  Pensiun bukan soal menghasilkan uang, tapi ketika kita sudah tidak lagi berkarya. Padahal saya justru tetap sehat ketika berkarya. Ada booster yang memunculkan semangat hidup. Tuhan seolah bilang, Indayati  kamu harus kerja lagi supaya kamu sehat.

SDM seperti apa yang bakal berhasil di New Normal?

SDM yang punya kepribadian mature atau matang yang berciri self control dan self confident. Orang yang tidak percaya dirinya mampu, hidupnya selalu dihantui kejahatan. Makanya percaya diri itu mutlak dan kunci sukses lewati masa pandemi.

Orang yang selalu ingin diutamakan (egois) , selalu suudzon, suka menyakiti  orang lain, sibuk office politicking atau serakah, semua ujung-ujungnya tidak confident. Kenapa serakah, karena dia takut besok hartanya berkurang. Kenapa lakukan office politicking, karena takut orang lain menang dan dia tidak dapat promosi di kantor. Itu semua bentuk kejahatan dalam diri yang tidak confident. Makanya hal terpenting adalah seseorang harus dibuat confident dengan kemampuan dirinya.

Rasa confident datang dari soft skill berupa spirit. Jika memiliki spirit, jasmani bakal sehat, tak ada rasa capai, otak terus berpikir sehingga duit datang lagi. Makanya soft skill itu booster. Nah JRP core bisnisnya di soft skill. JRP spesialisasinya membuat keluar semua soft skill seseorang seperti magma yang keluar dari gunung api.

Baca juga: Indayati Oetomo: Bersosialisasi di Sosmed Bukan Berarti Bebas Berperilaku

Seberapa penting soft skill di masa pandemi?

Kita sedang dihantam pandemi yang menyerang secara holistik, tidak hanya materi tapi juga jasmani dan rohani. Jika hanya dihantam materi lebih mudah karena rohani sehat dan otak tetap jalan. Kalau rohani kena, sakit sudah pasti. Kalau rohani lemah, pasti kesulitan berpikir dan materi tidak bakal pulih. Hantaman holistik ini berat, sehingga soft skill menjadi penting.

Jadi mari kasih spirit semua orang untuk bangkit dan terlahir baru dengan pola pikir baru. Harus punya keyakinan bahwa pandemi adalah shock therapy terbesar sepanjang hidup yang belum pernah terjadi, tapi tetap bisa dilewati. Maka jadilah pribadi baru di masa pandemi dan ubahlah kesulitan jadi peluang. Semoga pandemi ini cepat berlalu. (hps/bim)