Huawei Dukung Indonesia Lewat Infrastruktur Digital, Investasi TIK Lebih Menjanjikan

Juli 2, 2020
Huawei Indonesia

Huawei Indonesia dukung MASTEL selenggarakan diskusi dan seminar daring yang diikuti Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa. (Humas Huawei Indonesia)

Jakarta, PMP – Huawei, perusahaan penyedia solusi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terkemuka dunia, menegaskan komitmennya mendukung Indonesia agar mampu melewati masa sulit akibat pandemi COVID-19. Termasuk memulihkan pertumbuhan ekonomi di era New Normal melalui solusi TIK terdepan.

Penegasan Huawei disampaikan oleh CEO Huawei Indonesia, Jacky Chen, serta President of Global Government Affairs Huawei, Martin Xu,   saat seminar daring yang diikuti Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa, pada Rabu (1/7/2020).

Seminar bertema ‘ICT for Post Covid-19: From Pandemic Resilience to Economic Recovery’ merupakan kerja sama antara Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) dengan Huawei Indonesia. Turut dalam diskusi Dirjen SDPPI Kementerian Komunikasi dan Informatika Ismail, Ketua Umum MASTEL Kristiono, serta kalangan regulator, pengamat industrip praktisi telekomunikasi, juga akademisi.

Menteri Suharso Monoarfa mengapresiasi terselenggaranya diskusi dan seminar daring tersebut.

“Konektivitas broadband dan pengetahuan TIK yang merata hingga ke daerah-daerah menjadi tantangan yang harus segera diantisipasi, agar manfaat teknologi digital dapat dirasakan oleh semua kalangan dan semua sector,” kata Menteri Suharso yang berharap gelaran-gelaran bertema serupa bisa terselenggara di masa mendatang.

Apresiasi juga disampaikan Dirjen SDPPI Kementerian Komunikasi dan Informatika Ismail yang menyatakan pandemi telah mendorong banyak perubahan, termasuk perilaku masyarakat.

Stakeholder yang terlibat langsung di industri TIK harus menangkap dan mengelola dengan baik tantangan dan sekaligus peluang ini. Pemerintah sendiri melihat adanya tantangan-tantangan yang harus dikelola dengan strategis oleh sektor TIK di masa sekarang maupun di era New Normal yang menuntut percepatan tranformasi digital di semua sektor, termasuk UMKM,” kata Ismail.

Sementara Jacky Chen, CEO Huawei Indonesia mengatakan, teknologi dan konektivitas terbukti sangat vital perannya dalam mendukung transformasi dari luring ke daring selama masa PSBB. Saat ini layanan digital di seluruh dunia, terutama di Indonesia, yang hadir melalui startup-startup unicorn, tetap memiliki potensi besar terus tumbuh.

“SDM dengan keterampilan di bidang digital akan benar-benar menjadi agen perubahan bagi negara manapun di dunia. Selama 20 tahun hadir dan berkiprah di Indonesia, Huawei yakin bahwa pembangunan ekosistem infrastruktur TIK Indonesia yang tangguh, seperti 5G, IoT, Fibre Network, Cloud dan AI, akan mampu mendukung percepatan ekonomi digital Indonesia menuju Indonesia yang cerdas dan semakin terhubung,” kata JackyChen.

Sementara Martin Xu, President of Global Government Affairs Huawei menuturkan, TIK memiliki kemampuan untuk membantu pebisnis mengambil langkah-langkah yang lebih cepat dan lebih aman. Sebagai contoh, TIK mampu mewujudkan terselenggaranya transaksi nontunai tanpa kontak yang sangat ideal untuk diadopsi karena dapat membendung penyebaran virus Corona.

Layanan digital juga membantu kalangan UMKM untuk memperluas jangkuan layanan, beragam layanan menjadi inklusif, serta bisa dimanfaatkan untk meningkatkan kompetensi SDM yang harus dirumahkan melalui pelatihan-pelatihan.

“Investasi pada infrastruktur digital menjadi langkah strategis dalam mempercepat transisi dari tradisional ke digital, serta dapat menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk menerapkannya,” kata Martin Xu.

Investasi TIK Lebih Menjanjikan

Komitmen dan gagasan Huawei selaras dengan pernyataan Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) Kristiono yang menyampaikan tiga saran kepada pemerintah:

  1. Menggunakan momentum pandemi COVID-19 untuk membuat program prioritas nasional penguatan infrastruktur digital.
  2. Mengharmonikan dan mengorkestrasikan para penyedia infrastruktur digital mulai dari layer devices, layer network, hingga layer platform & apps & OTT.
  3. Segera membentuk gugus tugas untuk mengkoordinasikan penguatan layer network yang juga merupakan infrastruktur fisik pembentuk ruang siber Indonesia.

Pandemi COVID-19 telah berimbas pada semua sektor industri di Indonesia, seperti manufaktur, pendidikan, pariwisata, konstruksi, transportasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Pandemi telah mengharuskan sebagian besar kegiatan sehari-hari berpindah dari tatap muka ke kegiatan daring.

“Mereka bergantung sepenuhnya pada ketersediaan akses internet dengan kapasitas yang baik, serta jaringan telekomunikasi berkualitas dan aplikasi yang relevan untuk setiap kegiatan daring yang dilakukan. Operasional bisnis menjadi Go-Online, untuk itu diperlukan infrastruktur TIK untuk mendukung terbangunnya konektivitas,” kata Kristiono.

Sejauh ini TIK telah menunjukkan peran sebagai salah satu motor pendorong penting bagi pemulihan ekonomi Indonesia, serta dalam meningkatkan mata pencaharian masyarakat.

Menurut Global Connectivity Index , setiap US$1 yang diinvestasikan di bidang TIK akan menghasilkan tambahan US$ 3 pada Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Keuntungan ini 6,7 kali lebih tinggi dibandingkan investasi di luar TIK. Selain itu, ekonomi digital akan tumbuh 2,5 kali lebih cepat dari ekonomi konvensional, bahkan dalam skala global.(hps)