Shamisen: Gitar Tradisional Para Geisha, Eksis di Blantika Musik Modern

Juli 22, 2020
Geiko Kyoto Shamisen

Toshimana, geiko atau seniman tradisional Jepang di Kyoto memainkan Shamisen.(kyoto flowertourism)

Jakarta, PMP – Shamisen, gitar tradisional Jepang, mampu beradaptasi dengan alat musik modern, bahkan mampu menyulap alunan musik menjadi lebih indah. Shamisen yang dulu dimainkan para Gesiha atau seniman penghibur tradisional Jepang itu, kini memiliki penggemar tersendiri di seluruh dunia.

Buktinya, Ito Keisuke (31), salah satu pemain Shamisen profesional asal Suzuka, sukses membuat para penggemarnya di Indonesia merindukannya kembali tampil.

Maklum saja, Ito yang dijuluki Sang Pangeran Shamisen pernah memukau masyarakat Indonesia lewat tembang Rasa Sayange saat berkolaborasi apik dengan penari Hasuda Ai pada ajang festival matsuri terbesar di Jakarta, Ennichisai beberapa waktu lalu.

Masyarakat Jepang sendiri kerap menganggap Shamisen memiliki bentuk yang sangat indah, selain dimainkan secara unik. Gitar tradisional ini juga disebut San-gen pada era musik modern negeri Sakura. Namun khusus di Okinawa, pulau paling selatan Jepang, populer dengan nama Shasin.

Menurut Ito Keisuke, jika dimainkan dengan sentuhan modern, Shamisen bisa menghasilkan alunan musik luar biasa.

“Itu sebabnya saya ingin memperkenalkan shamisen ke berbagai penjuru dunia,” kata pemusik yang bergelar sarjana hukum tersebut.

Ito Keisuke The Prince of Shamisen

Ito Keisuke, Sang Pangeran Shamisen.(jalanbareng.com)

Namun Ito menyayangkan, tak banyak anak muda di negerinya yang menyukai Shamisen atau tertarik mempelajarinya.

“Saat saya pertama menggeluti Shamisen di usia 20 tahun (2008), tidak banyak anak muda yang menyukai musik tradisional karena mereka lebih menyukai jenis musik rock atau jazz. Tapi setelah saya melihat sendiri penampilan pemain Shamisen dengan gaya modern, itu sangat keren,” ujar Ito yang beberapa kali tampil di Spanyol, Rusia dan beberapa negara Asia.

Menurut  Ito, Shamisen merupakan alat musik unik karena bisa dimainkan dengan dipetik atau dipukul. Serta dapat menghasilkan alunan melodi nan indah. Maka dia pun ingin mengkolaborasikan Shamisen dengan berbagai musik modern seperti pop, jazz atau rock.

Memainkan Shamisen yang mirip Rebab, alat musik tradisional Jawa ini juga memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Shamisen dimainkan menggunakan bachi atau alat petik sejenis pick yang lebih besar dari pick gitar. Seringkali mereka yang belajar Shamisen kesulitan memegang bachi ini.

Jika dibandingkan gitar, memainkan Shamisen dianggap lebih sulit. Mungkin itu pula sebabnya, tak banyak anak muda tertarik memainkan dan mempelajarinya.

Seperti ditulis laman promusica.or.jp, Shamisen digolongkan dalam instrumen  ‘keluarga lute’, karena memiliki leher panjang, tiga dawai (senar) dan ketebalan dawai berbeda. Dawai paling tipis akan menghasilkan bunyi paling tinggi, sebaliknya dawai paling tebal akan menghasilkan bunyi paling rendah.

Tsugaru Shamisen

Konser Tsugru Shamisen.(istimewa)

Bentuknya menyerupai gitar, tapi badan Shamisen berbentuk segi empat, berbeda dengan gitar. Bagian dalam badan Shamisen disebut Do. Shamisen terbuat dari kayu, di mana bagian depan dan belakang badannya dilapisi kulit hewan. Biasanya yang sering dipakai adalah kulit anjing.

Di negeri asalnya, ada beragam jenis shamisen. Setiap Shamisen memiliki ukuran leher dan tubuh berbeda. Bentuk leher yang berbeda ini ternyata menghasilkan nada yang berbeda pula.

Ada Shamisen berleher tipis (Hosozao Shamisen) yang disebut Nagauta Shamisen. Sementara Shamisen berleher tebal (Hutozao Shamisen) disebut juga Tsugaru Shamisen karena kerap dimainkan di wilayah Tsugaru. Sedangkan Shamisen berleher sedang (Chuzao Shamisen) disebut juga Jiuta Shamisen.

Dimainkan Para Geisha 

Merunut sejarahnya, Shamisen yang kerap disamakan dengan Koto –alat musik tradisional Jepang lainnya–sejak dulu dikenal sebagai alat musik rakyat karena boleh dimainkan siapa saja dan di mana saja. Berbeda dengan Koto yang awalnya hanya boleh dimainkan di kalangan bangsawan di istana.

Pada sekitar 1562, Shamisen diperkenalkan di Pelabuhan Sakai dekat Osaka. Sebelumnya, alat musik yang disebut Sanxian di China ini sampai ke Kerajaan Rukyu melalui hubungan perdagangan dengan Kerajaan Fuzhou. Selanjutnya di Okinawa, Shamisen kemudian populer disebut Shansin.

Sejarah juga mencatat, Shamisen tertua yang hingga kini masih ada merupakan hasil perajin Kyoto dan dinamakan Yodo. Shamisen Yodo dibuat khusus atas perintah Hideyoshi Toyotomi, pemimpin Jepang di zaman Sengoku untuk dihadiahkan kepada sang istri. Bentuk Yodo tak jauh berbeda dengan Shamisen yang ada sekarang ini.

Spirit of Shamisen

Kanjincho: Nagauta Buyo Dance.(arts council tokyo/Julie Lemberger)

Perkembangan Shamisen di Negeri Matahari Terbit juga tak lepas dari kiprah pemusik tuna netra bernama Ishimura Kengyo. Dia berjasa membantu mengembangkan teknik permainan Shamisen sehingga digemari banyak orang. Pada awal masa Edo (1603-1867), Ishimura memelopori genre musik jiuta Shamisen.

Shamisen juga turut dikenalkan oleh para geisha atau seniman penghibur tradisional Jepang.di zamannya, karena wajib memainkan alat musik ini untuk menghibur tamu.

Selanjutnya hingga kini, Shamisen kerap dipertontonkan dalam berbagai festival budaya, konser musik, pentas tari dan teater, serta pertunjukkan tradisional lain di Jepang.

Agar dikenal dunia, The Japan Foundation pernah membawa membawa Nitta Masahiro –salah satu pemain Tsugaru Shamisen terkemuka di Jepang–  melakukan konser di New York. Sementara di Indonesia, Shamisen kerap ditampilkan di berbagai acara festival budaya Jepang.

Meski bukan instrumen musik yang populer di Jepang, namun Shamisen kerap dipertunjukkan di berbagai negara dunia. Misalnya diperkenalkan oleh Pro Musica Nipponia dan The Japan Foundation.

Pro Musica Nipponia bahkan telah menampilkan Shamisen dan alat musik tradisional Jepang lain seperti Koto, Shakubachi, Shinobu dan Biwa  dalam sebuah ensemble yang dikemas secara modern ke Rusia, Kanada, Brasil, Korea, Turki, Amerika, Hong Kong, Australia, Belgia, China, Jerman, Filipina, Perancis, juga Indonesia.

Dan hasilnya, pemusik Shamisen seperti Ito Keisuke ternyata memiliki penggemar di Indonesia yang selalu merindukan penampilannya.(Sekar Ayu/bim)