Risma Sebut Surabaya Zona Hijau COVID-19, Pakar Epidemiologi: Hijau Buah Semangka

Agustus 4, 2020
Wali Kota Risma Tri Rismaharini

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.(Humas Pemkot Surabaya)

Surabaya, PMP – Pernyataan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini bahwa Surabaya sudah zona hijau COVID-19 disesalkan Dr dr Windhu Purnomo, pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, karena bisa disalahpahami masyarakat dan cenderung menyesatkan.

“Saya tahu (Risma sebut Surabaya zona hijau COVID-19) dasarnya RT (rate of transmission atau tingkat penularan) yang dikeluarkan Kemenkes. Tapi itu cuma sehari. RT kalau belum 14 hari berturut-turut ya belum (termasuk zona hijau)” kata Windhu seperti dikutip Republika, Selasa (4/8/2020).

Menurut Windhu, suatu wilayah bisa masuk kategori zona hijau COVID-19 jika angka tingkat penularan (RT) jauh berada di bawah angka 1 selama 14 hari berturut-turut.

Sementara faktanya, saat ini tingkat penularan COVID-19 di Kota Pahlawan masih fluktuatif. Terkadang, berada di atas angka 1 dan beberapa kali di bawah angka 1.

Pada Sabtu (1/8/2020), Wali Kota Tri Rismaharini menggelar video conference dengan para pedagang dan perwakilan masyarakat wilayah Kecamatan Gunung Anyar. Saat itu, Risma memaparkan penurunan penyebaran COVID-19 di Surabaya, khususnya Kecamatan Gunung Anyar.

Menurut Risma, kondisi Surabaya sudah lebih baik dari sebelumnya berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bahwa wilayah Surabaya tingkat penularannya sudah menurun dengan kesembuhan kian meningkat.

Risma kemudian menyebut Surabaya sebagai zona hijau COVID-19.

“Di mana kondisi Surabaya sudah hijau yang artinya penularannya kita sudah rendah. Lalu yang sembuh sudah banyak,” kata Wali Kota.

Oleh sebab itulah, menurut Risma, mengingat sudah masuk zona hijau, wilayah Gunung Anyar yang sebelumnya diblokir lokal ke arah Pondok Candra bakal dibuka. Hal itu penting agar para pedagang bisa kembali beraktivitas.

Namun Risma tetap berpesan agar warga Gunung Anyar lebih disiplin menjalankan protokol kesehatan.

“Saya membuka ini supaya masyarakat bisa aktif kembali dengan usahanya. Jadi mohon untuk dipatuhi (protokol kesehtan) jangan terjadi hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Hijau Buah Semangka

Menurut Windhu, terlalu terburu-buru jika Risma menyebut Surabaya masuk zona hijau karena tingkat kematian (fatality rate) akibat COVID-19 di Surabaya masih tinggi. Bahkan angkanya dua kali dari angka nasional.

“Surabaya masih tinggi 8,9%, sementara nasional kurang dari 4,5%. Sedangkan WHO targetnya 2% persen. Jadi tingkat keamanan Surabaya masih jauh,” paparnya.

Bahkan Surabaya angkanya masih lebih tinggi dari Jawa Timur 7,8%.

Oleh sebab itu Windhu berharap Pemkot Surabaya berhati-hati mengabarkan ke masyarakat terkait kondisi COVID-19 di kota buaya. Dia khawatir pernyataan Risma disalahpahami masyarakat dan kemudian berperilaku seolah-olah tidak sedang dalam pandemi Corona.

“Banyak masyarakat yang tidak patuh protokol kesehatan padahal di Surabaya sama sekali belum aman,” ujarnya.

Windhu pun menganologikan hijaunya Surabaya seperti disampaikan Risma adalah hijau buah semangka.

“Hijau di Kota Surabaya adalah hijau semangka. Jadi hijau di kulit tapi sesungguhnya di dalamnya merah. Itu nanti malah menyesatkan, masyarakat akan keluyuran dan justru berbahaya,” katanya.(gdn)