Ledakan Beirut Sepersepuluh Bom Atom Hiroshima, Ancaman Hukuman Terberat

Agustus 6, 2020
Beirut Blast

Seorang ibu menggendong putranya beberapa saat setelah ledakan besar di Beirut Lebanon, Selasa petang.(Reiters)

Jakarta, PMP – Presiden Lebanon Michel Aoun mengancam hukuman terberat bagi semua pihak yang bertanggung jawab atas ledakan besar di Beirut. Jumlah korban tewas menjadi 135 orang, luka-luka 5.000 orang dan puluhan masih dicari.

“Kami bertekad melakukan investigasi dan mengungkap apa yang terjadi secepat mungkin dan menyeret yang bertanggung jawab, serta menjatuhkan hukuman paling berat,” kata Presiden Aoun pada pertemuan kabinet seperti dikutip oleh NNA, kantor berita Lebanon.

Menurut Aon, ledakan besar Beirut merupakan malapetaka yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Presiden berterima kasih kepada para petugas penyelamat serta warga sipil yang langsung ikut membantu evakuasi para korban.

Sementara Perdana Menteri Hassan Diab mengatakan, pemerintah Lebanon tidak akan membiarkan begitu saja apa yang telah terjadi.

“Mereka yang bertanggung jawab harus membayar akibatnya. Ini adalah janji kami kepada para syuhada korban yang tewas dan mereka yang terluka,” tegas Diab.

Menteri Kesehatan Lebanon mengabarkan, jumlah korban tewas meningkat menjadi 135 dan korban luka sekitar 5.000 orang. Sementara puluhan orang masih hilang.

Para ahli di Universitas Sheffield di Inggris memperkirakan, ledakan besar Beirut memiliki kekuatan ledak sekitar sepersepuluh dari ledakan bom atom yang dijatuhkan di kota Hiroshima Jepang pada Perang Dunia II.

“Tidak diragukan lagi merupakan salah satu ledakan non-nuklir terbesar dalam sejarah,” kata para ahli.

Amonimum Nitrat Sitaan

Sampai saat ini, penyebab utama ledakan besar adalah 2.750 ton amonium nitrat yang disimpan di gudang Pelabuhan Beirut selama enam tahun setelah diturunkan dari kapal yang disita pada 2013.

Kepala bea cukai Badri Daher kepada LBCI TV mengatakan, pihaknya telah meminta agar amonium nitrat dipindahkan dari pelabuhan, namun tidak pernah terlaksana .

Sementara Kepala Pelabuhan Beirut juga mengaku telah beberapa kali menulis surat kepada pengadilan agar bahan kimia tersebut diekspor atau dijual guna keamanan pelabuhan.

“Kami telah mengetahui bahwa bahan itu berbahaya ketika pengadilan pertama kali memerintahkannya disimpan di gudang, tetapi kami tidak membayangkan bakal separah ini,” kata Manajer Umum Pelabuhan Hassan Koraytem kepada OTV.

Seneda dengan Presiden Aon, Dewan Pertahanan Tertinggi Lebanon juga berjanji bahwa mereka yang terbukti bertanggung jawab akan menghadapi hukuman maksimum.

“Saya pikir itu adalah ketidakmampuan dan manajemen yang sangat buruk dan ada banyak tanggung jawab dari manajemen dan mungkin pemerintah sebelumnya,” kata Menteri Ekonomi Raoul Nehme seperti dikutip BBC:

Menteri Informasi Manal Abdel Samad, tahanan rumah akan diberlakukan bagi seluruh pejabat pelabuhan yang telah menangani penyimpanan amonium nitrat, menjaga dan menangani dokumennya sejak Juni 2014.(gdn)