Risma Bangga, Rumah Kelahiran Bung Karno Diserahkan Ahli Waris ke Pemkot Surabaya

Agustus 18, 2020
Rumah Kelahiran Bung Karno

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini secara simbolis menerima aset rumah kelahiran Presiden Soekarno dari ahli waris pemilik rumah bertepatan HUT ke 75 RI.(Humas Pemkot Surabaya)

Surabaya, PMP – Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tak bisa menyembunyikan rasa suka citanya. Menjelang akhir kepemimpinannya di Kota Pahlawan,  Pemkot Surabaya menerima aset sejarah bernilai tinggi, yakni rumah kelahiran Presiden Soekarno atau Bung Karno yang diserahkan pihak ahli waris pemilik rumah bertepatan HUT ke-75 RI, Senin (17/8/2020).

Bung Karno, Presiden RI pertama, lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901. Rumah tempat kelahirannya terletak di Kampung Pandean, atau tepatnya di Jalan Peneleh, Gang Pandean IV, Nomor 40, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya.

Risma menyebut niat baik para ahli waris akan sangat bermanfaat bagi bangsa dan negara Indonesia. Dia pun tak sungkan membeberkan rencananya menjadikan rumah dan wilayah sekitarnya sebagai destinasi wisata sejarah bernilai tinggi.

“Terima kasih para ahli waris yang sudah sudi dan berkenan merelakan rumah kebanggaan kami. Ini simbol kebanggaan kami. Nanti rumah ini akan kami jadikan museum, sebab di kawasan ini banyak sejarahnya dan sudah kami beri titik-titik, seperti langgar, makam dan beberapa benda lainnya,” kata Risma yang setahun lalu dilantik oleh Megawati Soekarnoputri menjadi Ketua DPP PDI Perjuangan bidang kebudayaan.

Seusai serah terima, Risma melihat langsung kondisi di dalam rumah, selain meninjau  beberapa lokasi bersejarah yang di kawasan tersebut. Sebut saja Langgar Dukur Kayu di Kampung Lawang Seketeng, juga Makam Mbah Pitono.

Rumah Kelahiran Bung Karno

Rumah kelahiran Bung Karno di Jalan Peneleh, Gang Pandean IV, Nomor 40, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya.(BBC Indonesia)

Terkait rencana menjadikannya museum, menurut Risma, anak-anak Surabaya atau luar Surabaya bisa belajar sejarah di rumah tersebut. Mereka juga bakal merasakan bagaimana perjuangan Bung Karno dengan segala keterbatasan, tapi mampu membuat Indonesia sejajar dengan negara-negara lain di dunia.

“Rumah ini punya arti yang sangat besar dan kuat bagi anak-anak,” tegasnya.

Menurut Risma, Pemkot Surabaya telah mulai memperbaiki beberapa infrastruktur di kawasan tersebut, termasuk pedestrian. Bahkan beberapa peninggalan sejarah sudah diperbaiki karena kawasan itu nantinya akan dijadikan kawasan wisata sejarah yang bernilai tinggi.

“Saya harap warga Peneleh bersiap diri menyambut itu. Sebab saya sangat yakin bahwa suatu saat nanti, wilayah Peneleh ini akan bisa menjadi kawasan wisata yang sangat besar, karena ada rumah HOS (Hadji Oemar Said) Tjokroaminoto dan ada beberapa peninggalan sejarah lainnya,” kata Risma.

Dia bahkan mengaku sudah memikirkan bagaimana alur kunjungan para tamu atau turis di lokasi tersebut, di mana dimulai dan di mana berakhirnya.

Risma sekali lagi berharap agar warga Peneleh kompak menyambut peluang wisata sejarah tersebut.

“Jadi setelah kami perbaiki infrastrukturnya, lalu selanjutnya kami mungkin akan menyiapkan warga supaya siap jadi guide atau bahkan bisa menjual souvenir, sehingga peluang tidak diambil oleh warga luar,” papar Risma.

Penelusuran Rumah Bung Karno

National Geographic Indonesia (NGI), pada 6 Juni 2018, menurunkan artikel berjudul ‘Mengunjungi Kampung Pandean, Tempat Sukarno Dilahirkan pada 1901’. Artikel tersebut mengisahkan keberadaan Kampung Pandean dikaitkan masa kecil dan remaja Bung Karno.

Azhari, warga asli Kampung Pandean yang berusia lanjut seperti dikutip NGI, menyampaikan bahwa rumah tersebut sudah empat hingga lima kali pindah kepemilikan.

Menurutnya, berdasarkan cerita orang tua-orang tua di Pandean, ayah Bung Karno yaitu Raden Soekemi Sosrodihardjo merupakan salah satu pendatang di Kampung Pandean, hingga kemudian pindah bersama keluarganya dari daerah tersebut.

Namun Soekarno saat berusia remaja, menurut cerita yang didapat Azhari, sempat kembali lagi ke Pandean-Peneleh untuk belajar agama dan politik dari HOS Tjokroaminoto yang bertempat tinggal di Jl Peneleh VII/29-31. 

“Setelah beliau remaja, datang lagi ke daerah Pandean-Peneleh untuk belajar agama, politik dan pergerakan pada HOS Tjokroaminoto. Di daerah ini dulu tumbuh subur organisasi pergerakan dan kepemudaan,” tambah Azhari.

Bung Karno

HOS Tjokroaminoto dan Bung Karno.(istimewa-wikipedia)

Penelusuran rumah tempat kelahiran Bung Karno pernah dilakukan Institut Soekarno sejak 2007.

Pendiri Intitut Soekarno, Peter A Rohi seperti dikutip NGI mengatakan, kajian dari sejumlah buku diketahui bahwa Bung Karno lahir dan pernah tinggal di Kampung Pandean-Peneleh.

“Berdasarkan buku-buku yang kami kaji sebelum tahun 1966, disebutkan Soekarno lahir di kawasan Pandean, serta pernah tinggal di kawasan Pandean dan Peneleh saat usia remaja. Kami pun mencari informasi dari warga yang tinggal di daerah itu untuk mengkonfirmasi,” papar Peter.

Berdasarkan penelusuran itulah, menurut Peter, dia mengetahui lokasi tempat Bung Karno dilahirkan.

Pada tahun 2007 itu juga, Pemkot Surabaya juga mulai menelusuri letak rumah kelahiran Bung Karno dengan melakukan kajian terhadap hasil riset Institut Soekarno dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta dokumen sejarah lainnya.

Pemkot pun menemukan rumah kelahiran Bung Karno untuk kemudian menetapkannya sebagai bangunan cagar budaya pada tahun 2013.

“Waktu itu ada masukan dari lembaga Institut Soekarno dan memprosesnya sebagai bangunan cagar budaya, juga masukan dari anggota masyarakat,” kata Wiwik Widayati, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya seperti dikutip NGI.

Menurut Wiwik, pihaknya telah berupaya membeli rumah tersebut, namun masih dalam proses penjajakan dengan pemilik rumah.

“Pemerintah kota telah mencoba menetapkan jadi cagar budaya, sehingga rumah terpelihara dan diharapkan tidak terjadi perubahan bangunan. Itu tahap yang baru dilaksanakan, kami masih proses (untuk pembelian) sampai hari ini,” jelas Wiwik saat itu.

Rumah Kelahiran Bung Karno.

Rumah HOS Tjokroaminoto di Jl Peneleh VII/29-31, Surabaya.(kemendikbud.go.id)

Lahir di Surabaya atau Blitar?

Kota kelahiran Presiden Soekarno sempat ramai dibicarakan karena ada pula yang menyebutnya lahir di Blitar.

Menurut  Peter A Rohi, munculnya perbedaan disebabkan adanya kesalahan dalam menerjemahkan buku tentang Soekarno yang ditulis dalam bahasa Inggris oleh Cindy Adams, jurnalis AS.

Padahal menurut Peter, dalam buku karya Cindy Adams tersebut, Bung Karno jelas menyebut dirinya lahir di Surabaya.

“Karena bapak saya berpindah-pindah, maka ketika pindah ke Surabaya, di tempat itulah saya lahir,” kata Bung Karno seperti dikutip Cindy Adams dalam buku tersebut.

Fakta lainnya, menurut Peter, semua buku-buku biografi tentang Bung Karno yang terbit sebelum tahun 1966, menulis bahwa Bung Karno lahir di Surabaya.

Kabar baiknya, buku terjemahan karya Cindy Adams yang diterbitkan kembali pada 2007, jelas menyebut bahwa Bung Karno lahir di Surabaya.

Dan kini, Wali Kota Risma pun segera membangun rumah kelahiran Bung Karno sebagai museum dan menjadikan kawasan Pandean-Peneleh sebagai destinasi wisata sejarah. Bisa menjadi peninggalan tak ternilai dari Wali Kota Risma bagi Kota Pahlawan. Risma yang telah dua periode menjabat, bakal digantikan wali kota hasil Pilkada Kota Surabaya pada 9 Desember mendatang.(bhimo)